PENILAIAN MORAL MENURUT IMMANUEL KANT


(ketika mencari artikel tentang moralitas dan etika Kant, saya menemukan artikel bagus yang layak dibaca oleh kita)
Seorang anggota dewan dari sebuah partai yang mengklaim sebagai partai ‘bersih’ kepergok menonton video porno di tengah sidang paripurna. Dan di tengah kesulitan rakyat kecil memenuhi kebutuhan dasarnya, para anggota DPR bersikukuh untuk membangun gedung mewah sebagai kantor barunya. Terhadap dua peristiwa yang sampai sekarang masih hangat tersebut, rakyat mencibir mereka sebagai wakil rakyat yang tidak bermoral.

Di negeri kita, negeri Timur nan ‘agamis’, kebutuhan untuk bermoral atau berakhlak baik hampir sama pentingnya dengan kebutuhan dasar untuk hidup. Sejak kecil anak sudah diajari agar bermoral yang baik. Murid sekolah dasar sampai mahasiswa di perguruan tinggi tak pernah luput dari serbuan ceramah moral. Mau melamar kerja maupun melamar pasangan hidup pun mensyaratkan moral yang baik. Bahkan sampai mati pun moral seseorang masih menjadi perbincangan di antara mereka yang hidup.

Moral atau akhlak berarti ajaran tentang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak diperkenankan, mana yang pantas dan tidak layak. Biasanya kita mendapatkan ajaran moral dari orang tua, guru agama, atasan, atau orang-orang yang kita anggap [atau menganggap diri mereka sendiri] memiliki kelebihan daripada kita. Sedangkan ajaran-ajaran moral tersebut biasanya bersumber dari ajaran agama, adat-istiadat, kitab-kitab, serta kepercayaan dan keyakinan yang dianut.

Namun benarkah jika kita melakukan sebagaimana yang dianjurkan oleh orang tua atau guru agama lantas membuat kita menjadi orang yang bermoral? Benarkah rajin ibadah, suka membantu mereka yang lemah, mematuhi peraturan yang ada, dst, otomatis membuat kita menjadi orang yang baik? Apakah jika kita berbohong atau tidak menepati janji lantas menjadikan kita sebagai orang yang tidak berakhlak?

Etika Kant

Kalau pertanyaan-pertanyaan di atas diajukan kepada Kant, dengan tegas ia akan menjawab: belum tentu! Immanuel Kant adalah salah satu filsuf besar yang dilahirkan sejarah. Pemikiran filsuf Jerman kelahiran 22 April 1724 ini masih terus dikaji dan diminati sampai saat ini. Filsuf yang membujang sampai akhir hayatnya di usia 80 tahun ini banyak memberikan pengaruh tidak hanya kepada orang-orang yang seagama dengannya, yakni Protestan, tetapi juga para pemikir dari bermacam dan beragam agama dan kepercayaan serta yang tidak beragama sekalipun.

Menurut Kant, ada tiga patokan untuk menentukan apakah perbuatan seseorang dikategorikan sebagai tindakan bermoral atau tidak. Tiga hal ini dalam pemikiran etika Kant masuk dalam syarat-syarat imperatif kategoris, yaitu perintah mutlak yang wajib kita patuhi. Ketiga patokan tersebut adalah prinsip hukum umum, prinsip hormat terhadap person, dan prinsip otonomi.
Pertama, sebuah tindakan dapat disebut sebagai tindakan yang bermoral apabila tindakan tersebut berdasarkan pada prinsip hukum umum. Prinsip hukum umum itu berbunyi sebagai berikut: ”Bertindaklah selalu berdasarkan maksim yang bisa sekaligus kamu kehendaki sebagai hukum umum”. Yang dimaksud dengan maksim adalah prinsip yang berlaku secara subjektif, yang merupakan patokan individu dan personal. Maksim dibedakan dari ‘hukum’, yang adalah prinsip objektif yang berlaku bagi semua orang tanpa kecuali.

Maksud Kant dengan prinsip hukum umum tersebut sebenarnya begini: untuk mengetahui apakah tindakanku itu wajib aku lakukan atau tidak, maka aku harus bertanya apakah maksimku dapat diuniversalisasikan atau tidak. Jika prinsip atau maksimku itu dapat diuniversalisasikan alias dapat diterapkan untuk semua orang, maka tindakanku itu wajib aku lakukan. Tapi jika tidak dapat diuniversalisasikan, maka aku tidak wajib melakukan tindakan tersebut.

Sebagai contoh adalah sebuah kasus di awal tulisan ini, yaitu seorang anggota dewan yang menonton video porno di waktu sidang paripurna DPR karena merasa tidak ada yang memperhatikannya. Bagi anggota dewan ini, maksim/prinsip yang ia pakai adalah sbb: “Jika saya sedang mengikuti sidang paripurna, dimana masing-masing anggota dewan sibuk dengan perhatiannya masing-masing, maka saya akan menggunakannya untuk menonton video porno”. Nah untuk mengetahui apakah tindakannya ini wajib dilakukan atau tidak, maka ia harus bertanya apakah prinsip/maksim yang ia gunakan itu dapat diterapkan secara universal kepada semua orang atau tidak.

Untuk contoh kasus di atas, tentu saja jawabannya tidak bisa. Sebab andai saja maksim yang ia pakai tersebut digunakan oleh semua anggota dewan, maka tujuan sidang tidak akan tercapai. Hal ini karena setiap anggota dewan, lantaran merasa tidak ada yang memperhatikannya, akan menonton video porno di setiap sidang paripurna. Dan kalau ini yang terjadi, tentu sidang paripurna DPR tidak akan terlaksana dan justru kekacauan yang muncul. Karena maksim tersebut tidak dapat diuniversalisasikan, maka tindakan tersebut tidak boleh dilakukan.

Syarat kedua agar tindakan kita bisa dikategorikan sebagai tindakan bermoral adalah penghormatan terhadap person. Prinsip ini berbunyi: ”Bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau selalu memperlakukan umat manusia, entah itu di dalam personmu atau di dalam person orang lain, sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sebagai sarana”. Prinsip ini mau mengatakan dua hal. Pertama, aku tidak boleh menjadikan diriku sendiri ataupun diri sesamaku sebagai sarana belaka. Kedua, dalam mengambil pertimbangan-pertimbangan moral, kita wajib memperhatikan pihak lain.

Contoh dari prinsip kedua ini adalah tindakan orang yang akan bunuh diri karena beratnya beban yang ia tanggung. Menurut Kant, sebelum orang tersebut melakukan bunuh diri, ia harus bertanya dulu: apakah tindakan bunuh diri ini sesuai dengan prinsip hormat kepada manusia atau tidak
Apabila ia bunuh diri untuk lepas dari penderitaan, maka mungkin saja ia tidak merugikan orang lain. Tetapi tidak dengan dirinya sendiri. Sebab melakukan bunuh diri berarti ia tidak menghormati personnya sendiri, dan hanya memperlakukannya sebagai sarana untuk melepaskan penderitaan. Karenanya jelas tindakan ini tidak boleh dilakukan.

Prinsip ketiga yang membuat sebuah tindakan disebut sebagai tindakan bermoral adalah prinsip otonomi. Prinsip ini mengatakan: “Bertindaklah sedemikian rupa dimana kehendak dari dirimu sendirilah yang menentukan tindakan tersebut”. Maksud dari prinsip ini adalah semua tindakan yang kita lakukan harus murni karena kehendak dan keinginan kita sendiri, bukan karena pengaruh apalagi paksaan dari orang lain. Kant menyebut prinsip ini dengan ‘kehendak otonom’, yaitu kehendak yang mau melakukan sesuatu berdasarkan hukum yang ditentukannya sendiri. Lawan dari kehendak otonom adalah kehendak heteronom, yaitu melakukan sesuatu bukan karena kehendak kita sendiri, tetapi demi hukum di luar hukum orang tersebut, seperti karena ikut-ikutan orang lain.

Seturut dengan prinsip ketiga ini, Kant membedakan antara legalitas dan moralitas. Legalitas adalah tindakan yang sesuai dengan kewajiban/hukum. Legalitas merupakan tindakan yang dilakukan bukan karena kecenderungan langsung, melainkan demi kepentingan tertentu yang terpuji atau menguntungkan. Misalkan saja ada seorang penjual yang tidak mau menipu pembelinya. Menurut Kant, tindakan penjual tersebut belum tentu bermoral. Karena bisa jadi ia melakukan itu bukan karena tindakan itu baik, tetapi agar pembelinya terus menjadi pelanggannya. Kalau demikian adanya, maka tindakan penjual tersebut tidak masuk kategori bermoral, tetapi hanya legal saja.

Sedangkan moralitas adalah tindakan yang dilakukan demi untuk kewajiban. Tindakan ini mengesampingkan unsur-unsur subjektif seperti kepentingan sendiri, melainkan berpedoman pada kaidah objektif yang menuntut ketaatan kita begitu saja, yaitu hukum yang diberikan oleh rasio dalam batin kita.

Korelasi

Itulah tiga syarat imperatif kategoris yang dijadikan Kant sebagai patokan moral. Jika sebuah tindakan tidak memenuhi satu dari ketiga prinsip tersebut, maka otomatis tindakan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang bermoral. Tindakan yang tidak bermoral berarti tindakan yang tidak memiliki nilai moral di dalamnya, yang dalam bahasa agama berarti tindakan yang tidak berpahala.

Umat Kristiani sangat berhutang besar kepada Kant dalam merumuskan etika. Karena dari prinsip ketiga, yaitu prinsip otonomi, berkembanglah apa yang disebut dengan suara hati, yaitu kesadaran moral dalam situasi konkret. Konsep suara hati ini memiliki posisi penting dalam etika Kristiani. Suara hati adalah kesadaran dalam batin saya bahwa saya berkewajiban mutlak untuk selalu menghendaki apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya. Dan dari kehendak itulah tergantung kebaikan saya sebagai manusia. Dan hanya saya sendirilah yang dapat dan berhak untuk mengetahui apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya. Suara hati menegaskan bahwa hanya saya, bukan orang lain, yang memutuskan tindakan saya, meskipun dipengaruhi oleh banyak pertimbangan luar. Saya lah penentu dan penanggungjawabnya.

Meski demikian, suara hati juga dapat ditemukan dalam kazanah keilmuan Islam, yang lazim kita sebut dengan hati nurani [nur ‘aini], kendati belum dikembangkan secara maksimal oleh para sarjana Muslim. Sabda Nabi, “Istafti nafsaka”, mintalah nasehat pada hati nuranimu. Di sini Nabi menegaskan, dalam menentukan sebuah tindakan, kita diperintah agar bertanya pada hati nurani kita yang terdalam, apakah tindakan tersebut baik atau tidak.

Dalam bahasa agama, konsep moralitas dan legalitas dari Kant dapat kita sebut sebagai ikhlas dan tidak ikhlas. Moralitas yang berarti melakukan sebuah tindakan murni demi sebuah kewajiban dan nilai kebaikan dari tindakan itu, tidak jauh berbeda dengan konsep ikhlas. Sedangkan lawannya, legalitas, berarti tidak ikhlas yang bisa jadi riya/pamer atau lainnya.

Dan dari konsep moralitas dan legalitas ini pula menjadi jelas bahwa yang menentukan suatu tindakan menjadi bermoral atau tidak adalah maksud/niyat pelakunya. Sebuah tindakan bisa kelihatan baik, tetapi sebenarnya tidak memiliki bobot moral karena pelakunya memiliki niyat yang lain. Konsekuensi dari ajaran etika Kant ini adalah kita tidak bisa menilai sebuah tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Kita tidak akan bisa mengetahui apa maksud dan niyat seseorang melakukan sebuah tindakan tertentu.

Karena itu, setiap penilaian bahwa orang lain adalah seorang pendosa, terkutuk, pantas masuk neraka, dsb, adalah sebuah kemunafikan yang justru menunjukkan sifat-sifat tersebut kembali kepada pengucapnya. Hanya pelakunya sendiri dan Tuhan saja yang tahu apa motif dan tujuan dari sebuah tindakan. Karenanya, memberikan penilaian-penilaian tersebut kepada sesama manusia sama saja artinya dengan merebut hak preogratif Tuhan. Sebuah tindakan yang dalam Islam disebut dengan syiri’.

Sumber: http://sambiyan.blogspot.com/2011/04/patokan-moral-menurut-immanuel-kant.html

PAUL RICOEUR: IDENTITAS, NARASI DAN PENDIDIKAN


Identitas dan narasi (cerita) termasuk dalam salah satu pokok pemikiran dari Paul Ricoeur. Menurut Paul Ricoeur, identitas mengambil bentuk yang problematis karena identitas memiliki dua sisi atau model. Paul Ricoeur mencoba untuk mempersiskan kedua model atau bentuk identitas ini, yaitu identitas, yang dari satu sisi dinamakan «identitas idem» dan dari sisi lain dinamakan «identitas ipse».
Apa yang dimaksud dengan «identitas idem» dan apa yang dimaksud dengan «identitas ipse»? Paul Ricoeur mengatakan bahwa yang dimaksud dengan «identitas idem» ialah identitas tentang sesuatu yang tetap dan tidak berubah, sementara penampakkan-penampakan (seperti misalnya «kecelakaan-kecelakaan») selalu berubah. Model filosofisnya, dalam istilah tradisional, ialah substansi. Substansi adalah lapisan bawah atau dasar (latin: substratum), sokongan, dukungan, identik dalam arti kekal, tetap dan abadi, yang tidak dapat berubah, yang dihapus dari waktu (tidak termasuk dalam waktu). Identitas substansial ini dapat juga direalisasikan di bawah bentuk identitas struktural. Sebagai contoh, kode (susunan yang teratur) genetik kita tetap sama dari lahir sampai mati, seperti satu spesies tanda biologis. Kita memiliki contoh dari «identitas idem»: identitas struktur, identitas fungsi, dan identitas hasil. Dengan demikian jelas bahwa, «identitas idem» ialah substansi dari «sesuatu» atau «seseorang» karena mengindikasikan ketidakberubahan dan bersifat tetap, kekal.

Sebaliknya «identitas ipse» tidak berimplikasi pada ketetapan seperti pada «identitas idem», tetapi mengindikasikan suatu perubahan, mengandung variabilitas perasaan, ada kecenderungan, keinginan, dll. Sebagai contoh dari «identitas ipse»; identitas diri saya sendiri ketika saya membuat janji. Janji, yang saya buat buat adalah contoh yang paling jelas, karena saya tidak mempunyai sesuatu untuk dilakukan (dalam kasus subyek yang menjanjikan), dengan suatu identitas substansial, sebaliknya, saya memenuhi janji saya meskipun terdapat perubahan-perubahan suasana hati saya. Ini adalah identitas yang akan dapat kita sebut dengan pemeliharaan, lebih daripada nafkah hidup (subsistence). «Saya adalah saya dan saya masih tetap sebagai diri saya sendiri, meskipun saya tidak lagi identik, meskipun saya terus diubah dari waktu ke waktu dan terus berubah di dalam waktu». Substansi janji akan tinggal tetap tetapi ipsenya akan terus berubah di dalam waktu.

Berdasarkan pada konsep tentang kedua identitas di atas, Paul Ricoeur akhirnya menghubungkannya dengan «waktu»: satu adalah hubungan dalam beberapa bentuk kekekalan, ketidaktetapan, dan yang lainnya berkaitan dengan natural. Paul Ricoeur menyebut «identitas naratif», yang ingin mengatakan dengan mana bahwa identitas dari suatu subyek, mampu menjaga sebuah janji, disusun sebagai identitas dari sebuah karakter cerita. Maksudnya ialah bahwa kedua identitas tersebut bukanlah hal-hal yang hanya tinggal permanen dalam diri manusia, tetapi menjadi «identias yang dinarasikan» atau «identitas yang diceritakan» kepada yang lain dalam hidup. Karena itu, identitas personal itu selalu harus dinarasikan kepada orang lain yang kita hadapi dalam keseharian hidup kita. «Saya sebagai pribadi memiliki identitas idem, yaitu sebagai substansi, alas, dasar, atau penopang dan itu ditampakkan (walaupun tidak menyeluruh) dalam identitas ipse yang berbentuk rangkaian seluruh kejadian dalam perjalanan (semacam auto-biografi) kehidupan. Rangkaian kejadian dalam auto-biografi inilah yang dilihat sebagai narasi atau cerita (yang terus bersambung) yang juga sekaligus membangun dan memformat diri dan pribadi kita secara terus.

Hal yang paling penting yang ingin ditegaskan oleh Paul Ricoeur adalah dialektika dari dua identitas tersebut: «identitas idem» dan «identitas ipse». Dapat dikatakan bahwa «identitas naratif» – yang hadir dalam cerita-cerita besar atau ditafsirkan oleh kita, diuraikan dalam kehidupan – berosilasi antara kutub identitas besar: yang kekal atau tidak berubah dan yang eksis hanya anugerah-anugerah kepada kehendak untuk mempertahankannya, seperti ketika dipertahankan sebuah perjanjian.

Dalam konteks pendidikan, Paul Ricoeur memberikan sumbangan besar yaitu dalam kaitan dengan «pendidikan dan penarasian». Aksi kependidikan harus dimengerti sebagai tindakan yang rentan (sensitif) untuk diceriterakan, atau untuk menciptakan sebuah sejarah yang pantas diceriterakan. Pendidikan dan terdidik masing-masing memiliki identitasnya, memiliki sejarahnya, memiliki idem dan ipse-nya. Dalam proses pembelajaran, pendidik (dan juga terdidik) harus mampu melihat masing-masing identitas ini. Karena itu, proses pembelajaran adalah kesempatan di mana seluruh peserta berkesempatan «membuka dan mempresentasikan» narasinya masing-masing. Setiap narasi yang melekat dalam setiap pribadi, baik langsung maupun tidak langsung, menjadi masukan dan teks pelajaran bagi orang lain yang hadir ketika teks narasi itu dipresentasikan. Paul Ricoeur juga menekankan bahwa seluruh pengalaman pribadi adalah teks-teks narasi, yang sekaligus menjadi «income» bagi orang lain ketika mereka mendengarkan dan merasakan. Proses pembelajaran adalah seni «bercerita» dan ketika terjadi «penceritaan» maka sekaligus juga terjadi «seni pertukaran pengalaman» dan pengalaman yang diceritakan menghadirkan identitas dari setiap pencerita.

Pertanyaannya ialah, manakah auto-biografi yang perlu dan ingin diceritakan? Tentu saja itu adalah identitas kita, baik yang berada secara substansi maupun yang berada dalam peristiwa-peritiwa sejarah kita. Memang setiap orang memiliki auto-biografi masa lalu yang perlu diceritakan, tetapi dalam proses pembelajaran, perlu juga menciptakan narasi baru atau «narasi etika» yang dibangun bersama dalam kelompok belajar. Kebersamaan dalam pembelajaran adalah sebuah sejarah yang akan dinarasikan sejak ketika proses itu terjadi. Karena itu seperti dikatakan Paul Ricoeur, «waktu dan cerita» memiliki hubungan yang sangat erat dengan setiap kehidupan kita. Cerita berada di dalam waktu dan kejadian dalam waktu itu akan diingat dan diceritakan. Kegiatan pendidikan yang terjadi dalam waktu harus menciptakan sebuah cerita yang mampu mengubah sejarah pada masa depan yang lebih positip dan baik. Bagaimana dengan proses pendidikan kita?

Beranda, 11-12-2010

Sdr. Sergio Lay

J. MARITAIN DAN PRIBADI MANUSIA


Dari sudut pandang filosofis, konsep dasar tentang apa yang harus dipertahankan ialah pribadi manusia. J. Maritain sangat menekankan dalam konsep pendidikannya tentang pribadi manusia. Manusia adalah seorang pribadi yang memiliki akal budi dan kehendak. Manusia tidak eksis hanya sebagai «keberadaan kefisikan»: tetapi terdapat dalam dirinya sebuah keberadaan yang lebih mulia dan lebih kaya: yaitu kesungguhan keberadaan spiritual, yang juga mencakup pengetahuan dan cinta. Karena itu dan dalam arti ini, semua, dan tidak hanya satu bagian, adalah universal dalam dirinya sendiri, sebuah mikrokosmos dalam makrokosmos, yang secara sadar atau tidak, terus berjalan menuju ke kekekalan. Melalui cinta manusia dapat menyumbangkan dirinya secara bebas kepada «keberadaan-keberadaan» yang adalah untuk dia sebagai yang lain bagi dirinya sendiri.
Jika kita mencari atau meneliti keradikalan yang pertama dari semua, bahwa kita dikondisikan untuk mengakui kepenuhan realitas filosofis tentang konsep jiwa ini, bahwa banyak kekayaan konotasi-konotasi, yang mana Aristoteles gambarkan sebagai prinsip pertama kehidupan dari setiap organisme dan melihat menyediakan dalam diri manusia yaitu intelek yang melebihi hal material, dan untuk itu kekristenan telah mengatasi sebagai «Jaman Tuhan» dan sebagai fakta untuk hidup kekal. Dalam daging dan dalam tulang manusia ada jiwa yang adalah roh dan adalah lebih dari semua keuniversilanan fisik. Untuk itu manusia tidak hanya tergantung dari bantuan yang lebih bersifat materi, tetapi keberadaan pribadi manusia selalu berada dalam keutamaan tentang jiwanya, yang menguasai waktu dan kematian. Itu adalah roh yang adalah akar kepribadian.
Konsep kepribadian mengimplikasikan tentang keseluruhan totalitas dan kemandirian. Mengatakan bahwa seorang manusia adalah pribadi berarti mengatakan bahwa dalam dasar keberadaannya, entah itu keseluruhan atau bagian-bagian, adalah lebih mandiri untuk melayani. Ini adalah misteri kenaturalan kita bahwa pemikiran religius menyatakan ketika mengatakan pribadi manusia direferensikan kepada gambar Allah. Seorang pribadi manusia memiliki martabat absolut karena secara mandiri dihubungkan langsung dengan kerajaan keberadaan, kebenaran, kebaikan, keindahan, dengan Tuhan; dan hanya melalui ini dia dapat sampai pada keberadaan yang sempurna. Tempat tinggal atau rumah spiritual adalah seluruh keteraturan nilai-nilai yang absolut, yang mana merefleksikan dalam beberapa bentuk keallahan yang absolut yang mentransendenkan dunia, dan mempunyai dalam dirinya kemampaun untuk menarik minat yang lainnya kepada dirinya.

Beranda, 5 Desember 2010

Sdr. Sergio Lay OFMCap.

HANNAH ARENDT DAN KARYA-KARYANYA


Hannah Arendt (Linden, 14 Oktober 1906 – New York, 4 Desember 1975) adalah seorang filsuf dan juga seorang sejarahwati berkebangsaan Jerman-Amerika. Beremigrasi ke Amerika Serikat di mana ia memperoleh kewarganegaraan Amerika juga. Walaupun pemikiran-pemikirannya dapat dikategorikan sebagai filsafat, tapi dia sendiri menolah untuk dikategorikan sebagai seorang filsuf.
Hannah Arendt lahir dari keluarga Yahudi di Linden, Hanover dan dibesarkan di Königsberg sebelum (kota kelahiran dari filsuf sebelumnya yaitu Imanuel Kant, dan yang sekaligus dia kagumi) dan kemudian Berlin. Walaupun Arendt sangat mengagumi pemikiran Kant, tetapi dia adalah seorang mahasiswi filsafat yang dipimpin oleh Martin Heidegger di Universitas Marburg. Dia memiliki hubungan yang dekat dengan Heidegger. Hannah Arendt sungguh mendalami tesis-tesis atau pengajaran Heidegger, sehingga dia sebenarnya tidak mampu untuk menghapus cinta dan pengabdian kepada guru pertamanya itu. Dalam perjalanan kependidikannya, Hannah Arendt pindah ke Heidelberg di mana ia lulus dengan tesis tentang konsep cinta menurut St. Agustinus dari Hipo, di bawah bimbingan seorang pembimbing tesisnya yaitu filsuf (mantan psikolog) Karl Jaspers.
Tesis Hannah Arendt diterbitkan untuk pertama kali tahun 1929, namun karena asal-usulnya yang Yahudi, maka Hannah Arendt ditolak untuk menjadi guru yang berkualifikasi di universitas Jerman (dengan kemungkinan dia harus menulis lagi tesis kedua) pada tahun 1933. Setelah itu ia meninggalkan Jerman dan berangkat ke Paris, dan di Paris Arendt bertemu dengan seorang kritikus sastra yaitu Marxis Walter Benjamin. Selama Arendt tinggal di Prancis, dia bekerja untuk membantu pengungsi Yahudi yang lari dari Nazi Jerman. Namun, setelah invasi Jerman (dan pendudukan berikutnya), Perancis selama Perang Dunia II dan deportasi berikutnya orang Yahudi ke kamp konsentrasi Jerman, Hannah Arendt harus pindah lagi dari sini. Pada tahun 1940 ia menikah dengan penyair dan filsuf Jerman Heinrich Blücher, tetapi bukan ke Jerman, tetapi (bersama ibunya juga) mereka pindah ke Amerika Serikat, dan tentu dengan pertolongan seorang wartawan Amerika yaitu Varian Fry. Setelah itu ia menjadi aktivis dalam komunitas Yahudi Jerman di New York dan menulis untuk mingguan Aufbau. Setelah Perang Dunia Kedua, Arendt sempat berkomunikasi dengan gurunya Heidegger yang membahas beberapa hal berkaitan dengan kesaksian mereka tentang Nazi. Hannah Arendt kemudian meningea dunia di New York pada tahun 1975 dan dimakamkan di Bard College, Annandale on Hudson, New York.

Karya dan Pemikirannya
Pemikiran Hannah Arendt berkisar pada sifat kekuasaan, otoritas politik, dan totalitarianisme. Tentu seluruh tema ini berkaitan dengan situasi politik dan mentalitas manusia pada jamannya. Dalam pandangannya tentang pengadilan Eichmann untuk The New Yorker, yang kemudian menjadi buku The Banalitas Kejahatan – Eichmann di Yerusalem (1963), – mengangkat isu bahwa kejahatan bukanlah kebisaan radikal, melainkan justru kurangnya akar, memori, dan kurangnya tindakan untuk berdialog dengan diri sendiri, sebuah dialog yang Arendt mendefinisikan dua dalam keduaan dan dari mana dia datang dan tindakan moral itu dibenarkan. Arendt juga mencatat bahwa kejahatan itu sering muncul dari pihak laki-laki walaupun sikap ini sering disepelekan begitu saja dalam pandangan umum, tetapi justru bahwa laki-laki sering menjadi agen kejahatan. Dan inilah sikap dari banalitas itu, seperti yang terjadi di Nazi Jerman, di mana-mana orang-orang tidak sepakat dengan keterlibatan kejahatan yang paling mengerikan dalam sejarah dan mendengar individu yang seharusnya bertanggung jawab atas kejahatan tidak sungguh-sungguh mengerti arti dari politik. Hannah Arendt juga juga menulis The Origins of Totalitarianisme (1951), yang menelusuri akar Stalinisme dan Nazisme, dan koneksi mereka dengan anti-Semitisme. Buku ini berada di pusat banyak kontroversi, karena dibandingkan dua sistem bahwa mayoritas ulama Eropa – dan bahkan banyak orang Amerika yang – tampak bertentangan. Tetapi pekerjaan yang menetapkan contoh sempurna dari teori politik nya diterbitkan pada tahun 1958 dengan judul «Kehidupan yang Aktif». Kondisi manusia di mana Arendt ingin memulihkan kembali tingkat yang penuh dengan dimensi politik manusia dalam upaya untuk mengembalikan «teori libertarian dari masa pengadaptasian sosial».

sergio lay – roma, 19 November 2010

KEINDAHAN DALAM KESEHARIAN KITA


Mungkin kita merasa bahwa perjalanan hidup kita setiap hari begitu rutin, begitu saja, berubah tanpa bekas atau tidak ada sesuatu yang baru dirasakan. Anaximandros seorang filsuf Yunani pada beberapa abad sebelum Kristus mengatakan: “segala sesuatu adala mengalir”. Inilah kebenaran yang menurut sang filsuf, suatu kebenaran absolut. Ide ini dapat diterima karena memang segala sesuatu terus berubah, “mengalir seperi air” tanpa kita pikirkan atau tidak, tanpa campur tangan atau tidak. Smuanya terus berubah.

Tetapi filsuf lain yang hidup hampir seabad dengannya mengatakan: “segala sesuatu adala konstan. Yang mengalir itu ialah konstan, tetap”. Ide ini juga dapat diterima, bahwa jika segala sesuatu selalu berubah, mau mengatakan bahwa yang terus berubah dan mengalir itu bersifat tetap.

Kita bukan mau mempersoalkan apakah segala sesuatu itu berubah dan selalu tetap tetapi kita ingin mengikuti perjalanan sejarah hidup kita pribadi dan bersama sebagai suatu rahmat, grazia, grace, hadiah cuma-cuma. Dari matahari terbit sampai terbenamnya, dari bangun tidur sampai tidur lagi… semua terus berlanjut sebagai sebuah rutinitas harian, yang kadang membosankn juga.

Tetapi jika kita melihat dan menghayatinya dengan penuh rasa terima kasih kepada segala sesuatu yang tampak bagi kita dan sebagai sesuatu yang memperngaruhi kita, kita akan merasakan bahwa hidup itu sesuatu yang berharga, sesatu yang terus tetap dan berubah, yang di damnya kita bergerak dan hidup. Tanpa sadar atau tidak, rasa atau tidak, semuanya membentuk diri kita, pandagan kita, pikiran kita, rasa kita, opini kita dan seluruh halyang berkaitan dengan hidup kita.

Itulah yang kita sebut dengan keindahan. Keindahan tertemukan di dalam perubahan dan kekonstanan yang kita alam setiap hari. Kita dibentuk oleh perubahan dan kekonstanan itu dan kita juga terlibat dalam proses perubahan dan kekosntanan itu. Di sanalah tertemukan keindahan hidup. Dan jika lebih dalam kita melihat, terdapat suatu kekuatan dasyat yang hadir dalam kedua kekuatan itu. Kedasyatan itu ada dalam diri kita dan juga di luar diri kita. Di dalam diri kita berupa roh penggerak, roh pendorong, roh motivasi, yang terus membakar semangat kita untuk berubah atau bersikap tetap jika tidak dibutuhkan berubah. Di luar diri kita juga terdapat kekuatan lain seperti alam, udara, tanah, air, api, dan lain sebagainya.

Inilah jelmaan dari sang khalik, sang penguasa, sang “budha”, sang “bhahman” atau dalam bahasa religius kita SANG PENCIPTA. Dia begitu kuat hadir dalam diri kita dan dalam lingkungan, dan membuat segala sesuatu menjadi indah, terpesona, terkagum. Sayang bahwa tidak semua ciptaan-Nya menyadari setiap saat. Melihat, memandang dan merasakan hari baru dengan penuh syukur adalah tanda bahwa kita selalu berada dalam waktu yang terus berubah dan akhirnya menjadikan dir kita terpesona bagi maklum ciptaan lain. Membuat diri terpesona, adalah tanda bahwa kita membentuk perubahan dan kekonstanan itu menjadi lebih sempurna, atau paling kurang menuju kepada kesempurnaan itu.

Akhirnya, entah bagaimanapun, kita yang hidup dalam alam yang terus berubah dan konstan, berani melihat keseharian hidup kita sebagai sebuah keindahan yang amat dalam, sebuah rahmat dan grazia atau grace yang besar, yang tidak akan terulang lagi seperti pada saat sebelumnya. Melihat bahwa setiap peristiwa hidup hanya terjadi sekali saja, dan tidak akan terulang lagi. Dan yang sekali itu ialah rahmat keindahan, yang kesemuanya berasal dari Tuhan kita, Pencipta kita. Sykukur dan sembah adalah sikap hati dan budi yang pantas dipersembahkan kepada-Nya.

Selamat menikmati keindahan setiap hari yang kita terima dari SUMBER KEINDAHAN HIDUP KITA.

sergio
Roma, 17 April 2010

“MARKUS” DAN MASA DEPAN INDONESIA


Dalam beberapa minggu terakhir ini, negara NKRI digemparkan oleh isu makelar kasus (markus) yang menyedot perhatian publik nasional dan internasional. Ini merupakan isu lama yang terakumulasi secara permanen dan menguap pada minggu-minggu terakhir ini. Pertanyaan besar dan penting ialah, mengapa markus begitu diminati dan menjadi mata pencaharian dari orang-orang yang justru berada paling depan melawannya?
ISU LAMA. Jika kita mengikuti perkembangan sejarah pendek Indonesia, aksi markus bukanlah hal baru tetapi telah ada sejak lama (kompas, 14 April 2010), sejak negara membentuk organ-organ hukum yang bertugas menjaga kestabilaan kehidupan sosial dan masyarakat, dari segi tatanan hukum. Memainkan kasus memang sudah lama dan cukup dikenal oleh masyarakat tetapi masyarakat tidak mampu untuk sampai kepada mengajukannya ke meja hukum secara adil, karena kurang-kurangnya bukti-bukti. Mengapa sulit mendapatkan bukti-bukti? Karena seluruh permainan kasus itu berada di tangan pemegang kendali yaitu aparat penegak hukum (polisi, jaksa, dan pengadilan). Malah banyak orang ditakutkan dengan ancaman “anda mau bayar atau kasus diteruskan”. Memang secara kasat mata, pekerjaan para penjaga tatanan hukum dibilang berhasil dalam arti semua kasus dapat berhenti secara “aman” dan tanpa diketahui publik. Tetapi ini menyimpan sejuta tanda tanya bagi beberapa pihak yang mengerti dengan baik tentang hukum, walaupun mereka juga tidak berani melawannya.
Ibaratkan bisul yang telah lama tumbuh dan siap terpecah sendiri karena desakan kuat dari dalam, maka markus juga akhirnya terkuak ke publik dengan tanpa direkayasa. Susno Djuadi (mantan Kabereskrim POLRI) yang sebelumnya pemegang kendali di kepolisian bagian Bareskrim, akhirnya mencoba memecahkan bisul kebobrokan aktifitas markus itu sebelum ia terpecah sendiri. Dari satu sisi, ini adalah keberanian Susno Djuadi, walapun masih menyimpan banyak tanda tanya yang perlu ditelaah lebih lanjut. Tetapi tabir praktek markus yang tersembunyi itu paling tidak mucul ke permukaan dan menghentakkan banyak pihak yang terkait erat dengan aktifitas ini. Masyarakatpun berharap bahwa akan semakin banyak kasus yang dimainkan sebelumnya diungkapkan secara terbuka dan diselesaikan secara adil, serta dibawa ke panggung hukum. Inilah kemajuan sementara namun luar biasa, bahwa secara perlahan dan pasti Indonesia mulai memasuki babak baru dalam proses pemberantasa korupsi dan praktek kejahatan dalam bidang hukum.
Nilai positip kehadiran KPK dan SATGAS. Kita boleh berbangga, walaupun belum puas juga, dengan kehadiran dua lembaga yang dibentuk pemerintah yaitu KPK dan SATGAS. Walaupun pekerjaan mereka belum menemukan titik terang yang sangat signifikan (karena alasan kehati-hatian), namun kehadiran kedua lembaga ini menjadi ancaman tersendiri kepada para penegak hukum lainnya. Karena itu tidak heran jika pada akhir tahun 2009 dan awal 2010, muncul istilah diskriminasi KPK. Kasus Aulia Pohan, Century dan beberapa kasus nasional lainnya yang cukup populer, adalah hasil kerja keras kedua lembaga ini, KPK terutama. Kehadiran lembaga ini mempunyai nilai positip karena menjadi pengontrol kepada lembaga penegak hukum lainnya. Penegak hukum tidak lagi sesuka hati memutuskan perkara tetapi ketika memutuskan perkara, mereka masih mengingat bahwa ada lembaga lain yang turut mengontrol.
Memang kita mempunyai Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi dalam perjalanan sejarah bangsa, secara khusus pada beberappa dekade terakhir ini, mereka belum memihak kepada rakyat seratus persen. DPR dalam dua periode terakhir ini, nampaknya cukup bekerja untuk masyrakat, walaupun sering jatuh juga dalam ideologi partai. Dengan demikian mereka lupa bahwa ideologi parti tidak bisa mencerminkan aspirasi seluruh bangsa Indonesia yang sangat majemuk. Ideologi keagamaan misalnya tidak dapat direpkan untuk memwakili seluruh masyrakat Indonesia. Ideologi tradisonal dan yang lainnya juga tidak dapat mewakili seluruh aspirasi rakyat Indonesia. Memang anggota dewan masih harus kerja keras untuk warga Indonesia secara universal.
MASA DEPAN POSITIP. Melihat beberapa masalah dan kasus yang terjadi akhir-akhir ini, iklim positip dalam bidang hukum khususnya, nampaknya cukup menjanjikan dan mempunyai titik cerah yang kecil dan berpotensi menjadi besar. Menjanjikan dalam arti bahwa hukum telah menyentuh mereka yang sulit disentuh hukum. Sentuhan ini menjadi fenomena positip bagi perjalanan bangsa Indonesia ke masa depan. Beberapa pejabat POLRI (para jendral bintang tiga), petinggi di Kejaksaan, pengacara, ahli hukum, yang sebelumnya sulit dijangkau oleh hukum, sekarang makin gamapang dibawa ke muka hukum.
Melihat dari situasi ini, kama kita boleh berbangga kepada anak cucu kita bahwa angkatan kita telah mempersiapkan jalan yang baik ke alam penataan hukum yang benar dan berwibawa. Paling kurang, kita tidak akan lagi dicaci maki oleh anak cucu kita bahwa kita telah merusak tatanan hukum. Markus yang menjadi bakteri dan virus kuat dalam tubuh tatanan hukum, pelan-pelan dapat diangkat dan dibuang ke luar.
Tetapi itu tergantung juga kepada visi dan misi dari pemerintah sebagai pemegang kendali perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Jika perhatian ke arena hukum ini berkurang, maka markus akan lahir dan bekembang kembali dengan sangat subur, karena bibitnya belum dimusnahkan secara tuntas. Tetapi kita boleh bermimpi bahwa tatanan hukum sedang menunjukkan perbaikan yang sangat berarti dalam masa-masa yang akan datang.

sergio
(Roma, 14 April 2010)

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA ke-44 – 16 MEI 2010 Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda


Saudara dan Saudariku Terkasih,
1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini – Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda- disampaikan bertepatan dengan perayaan Gereja tentang Tahun Imam. Tema ini memusatkan perhatian pada komunikasi digital, suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para imam dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda. Berbagai komunitas Gereja sebenarnya telah menggunakan media modern untuk mengembangkan komunikasi, melibatkan diri dalam masyarakat serta mendorong dialog pada tingkat yang lebih luas. Akan tetapi penyebarannya yang tak terbendung serta dampak sosial yang besar pada jaman kini, media itu semakin menjadi penting bagi pelayanan imam yang berhasil guna.
2. Tugas utama semua imam adalah mewartakan Yesus Kristus, Sabda Allah yang inkarnasi dan mengkomunikasi rahmat penyelamatan-Nya melalui sakramen-sakramen. Dihimpun dan dipanggil oleh Sabda, Gereja menjadi tanda dan sarana persekutuan yang Allah ciptakan dengan semua orang. Setiap imam dipanggil untuk membangun persekutuan dalam Kristus dan bersama Kristus. Disinilah terletak martabat yang luhur dan indah perutusan seorang imam, yang secara istimewa menjawabi tantangan yang ditampilkan oleh Rasul Paulus: ’Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.’…Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya jika mereka tidak percaya kepada Dia? Dan bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengarkan tentang Dia? Bagaimana mereka mendengarkan tentang Dia jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? (Rom 10:11, 13-15).
3. Menggunakan tekonologi komunikasi baru merupakan hal yang perlu dilakukan dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan kaum muda di tengah pergeseran budaya masa kini. Dunia komunikasi digital dengan kemampuan ekspresi yang nyaris tak terbatas mendorong kita untuk mengakui apa yang disampaikan oleh St.Paulus:’celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil (1Kor 9:16). Kemudahan mendapatkan teknologi baru yang kian berkembang menuntut tanggungjawab yang lebih besar dari orang-orang terpanggil untuk mewartakan Injil serta termotivasi, terarah dan efisien menunaikan usaha-usaha mereka. Para imam berada di ambang ‘era baru’: karena semakin intensifnya relasi lintas batas yang dibentuk oleh pengaruh media komunikasi, demikian pula para imam dipanggil untuk memberikan jawaban pastoral dengan menempatkan media secara berdaya guna demi pelayanan Sabda.
4. Penyebaran komunikasi multimedia dengan ragam ‘menu pilihan’ tidak dimaksudkan untuk sekadar menghadirkan para imam di internet atau sekadar menjadikan internet ruang untuk diisi. Para imam diharapkan menjadi saksi setia terhadap Injil di dalam dunia komunikasi digital dengan menunaikan perannya sebagai pemimpin-pemimpin komunitas yang terus menerus mengungkapkan dirinya dengan ‘suara yang berbeda’ yang dihadirkan oleh pasaraya digital. Dengan demikian, para imam ditantang untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, fitur animasi,blog dan website) berdampingan dengan media tradisional dapat membuka wawasan baru dan luas demi dialog evangelisasi dan katekese.
5. Dengan menggunakan teknologi komunikasi baru, para imam dapat memperkenalkan kehidupan menggereja kepada umat dan membantu orang-orang jaman sekarang menemukan wajah Kristus. Hal ini akan dicapai dengan baik apabila mereka belajar –sejak dari masa pembinaan mereka- bagaimana memanfaatkan teknologi komunikasi secara kompeten dan cocok dengan pemahaman teologis yang mendalam dan spiritualitas imam yang kokoh, berakar pada dialog terus menerus dengan Tuhan. Dalam dunia komunikasi digital, para imam -lebih dari sekadar sebagai ahli media- seharusnya mengungkapkan kedekatannya dengan Kristus untuk memberikan ‘jiwa’ baik bagi pelayanan pastoralnya maupun bagi aliran komunikasi internet yang tak terbendung.
6. Kasih Allah kepada semua orang dalam Kristus mesti diungkapkan dalam dunia digital bukan sekadar sebagai benda purba atau teori orang terpelajar tetapi sebagai sesuatu yang sungguh nyata, hadir dan melibatkan diri. Oleh karena itu, kehadiran pastoral kita di dalam dunia yang demikian harus bermanfaat untuk memperkenalkan orang-orang pada jaman sekarang teristimewa mereka yang mengalami ketidakpastian dan kebingungan, ‘bahwa Allah itu dekat, bahwa di dalam Kristus kita semua saling memiliki’ (Benediktus XVI, Address to the Roman Curia,21 December 2009)
7. Siapakah yang lebih baik dari seorang imam, yang sebagai abdi Allah dan melalui kemampuannya di bidang teknologi digital dapat mengembangkan dan menunaikan pelayanan pastoralnya , menghadirkan Allah secara nyata di dunia jaman sekarang dan menampakkan kebijaksanaan rohani masa lampau sebagai harta yang mengilhami usaha kita untuk hidup layak dimasa kini sambil membangun masa depan yang lebih baik? Kaum laki-laki dan perempuan religius yang bekerja di bidang media komunikasi memiliki tangggjawab istimewa untuk membuka pintu bagi berbagai pendekatan baru, mempertahankan mutu interaksi manusia, menunjukkan perhatiannya bagi individu serta kebutuhan rohaninya yang sejati. Dengan demikian, mereka dapat menolong kaum laki-laki dan perempuan pada jaman digital ini untuk merasakan kehadiran Tuhan, menumbuhkan kerinduan dan harapan serta mendekatkan diri pada Sabda Allah yang menganugrakan keselamatan dan membangun manusia secara utuh. Dengan demikian, Sabda Allah dapat berjalan melintasi berbagai persimpangan yang tercipta oleh simpangsiurnya aneka ragam ‘jalan tol’ yang membentuk ‘ruang maya’ dan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat-Nya yang tepat pada setiap jaman, termasuk di jaman kita ini. Berkat media komunikasi baru, Tuhan dapat menapaki jalan-jalan perkotaan kita sambil berhenti di depan ambang rumah dan hati kita dan mengatakan lagi: Lihatlah, Aku berdiri de depan pintu dan mengetuk, Jika ada yang mendengar suaraku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama dia dan dia bersama aku” (Why.3:20)
8. Dalam Pesan tahun lalu, saya telah mendorong para pemimpin di dunia komunikasi untuk memajukan budaya menghormati demi nilai dan martabat manusia. Ini merupakan salah satu cara dimana Gereja dipanggil untuk menunaikan ‘palayanan terhadap budaya-budaya’ di ‘benua digital’ jaman sekarang. Dengan Injil di tangan dan di hati, kita mesti menegaskan lagi tentang perlunya mempersiapkan cara mengantar orang kepada Sabda Allah sambil memberikan perhatian kepada mereka untuk terus mencari bahkan kita harus mendorong pencarian mereka sebagai langkah awal evangelisasi. Kehadiran pastoral di dunia komunikasi digital justru mengantar kita untuk berkontak dengan penganut agama lain, dengan orang-orang tak beriman dan orang-orang dari berbagai budaya, menuntut kepekaan terhadap orang yang tidak percaya, putus asa dan yang memiliki kerinduan mendalam dan tak terungkapkan akan kebenaran abadi dan mutlak, Demikianlah seperti yang diramalkan oleh Nabi Yesaya tentang sebuah rumah doa bagi segala bangsa (bdk Yes 56:7), dapatkah kita tidak melihat internet sebagai ruang yang diberikan kepada kita – semacam ‘pelataran bagi orang-orang bukan Yahudi’ di Bait Allah Yerusalem- yakni mereka yang belum mengenal Allah?
9. Perkembangan dunia digital dan teknologi baru merupakan sumber daya yang besar bagi manusia secara keseluruhan dan setiap individu sebagai daya dorong untuk perjumpaan dan dialog. Akan tetapi perkembangan ini juga memberikan peluang besar bagi orang beriman. Tidak ada pintu yang dapat dan harus ditutup bagi setiap orang yang atas nama Kristus yang bangkit, memiliki komitmen untuk semakin mendekatkan diri kepada orang lain. Secara khusus bagi para imam, media baru ini memberikan kemungkinan pastoral yang baru dan kaya, mendorong mereka untuk melibatkan diri ke dalam universalitas perutusan Gereja, membangun persahabatan yang luas dan konkrit serta memberikan kesaksian di dunia jaman kini tentang hidup baru yang berasal dari mendengar Injil Yesus, Putra Abadi yang datang demi keselamatan kita. Seiring dengan itu, para imam mestinya mengingat bahwa keberhasilan utama dari pelayanan mereka datang dari Kristus sendiri, yang ditemukan dan didengar dalam doa, diwartakan dalam kotbah dan dihidupi lewat kesaksian; dan diketahui, dicinta dan dirayakan dalam sakramen-sakramen, khususnya sakramen ekaristi dan rekonsiliasi.
Untuk para imamku yang terkasih, sekali lagi saya mendorong anda untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan unik yang disumbangkan oleh komunikasi modern. Semoga Tuhan menjadikan kalian bentara-bentara Injil yang bersemangat di ‘ruang publik’ baru media dewasa ini.
Dengan penuh keyakinan, saya memohonkan perlindungan Bunda Maria dan Santo Yohanes Maria Vianey (Pastor dari Ars, Pelindung para imam) dan dengan penuh kasih saya memberikan kepada anda sekalian berkat apostolikku.

Vatikan, 24 Januari 2010,
Pada Pesta Santo Fransiskus de Sales.

Paus Benediktus XVI