SEJARAH LAHIRNYA SEA GAMES


SEA Games adalah singkatan dari Southeast Asian Games yang merupakan pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Nama ini baru resmi dipakai pada tahun 1977, ketika Indonesia dan Filipina masuk menjadi anggota.
Sebelumnya, pesta olahraga yang bertujuan mempererat kerja sama, pemahaman dan hubungan antar-negara di kawasan ASEAN ini, menggunakan nama Southeast Asian Peninsular Games atau yang disingkat SEAP Games.


Pada 22 Mei 1958, delegasi dari negara-negara Asia Tenggara yang menghadiri Asian Games ketiga di Tokyo, Jepang, melakukan pertemuan dan sepakat membentuk sebuah organisasi olahraga. Dan konsep SEAP Games pun meluncur dari Laung Sukhumnaipradit, yang kemudian menjadi Wakil Presiden Komite Olimpiade Thailand.

Thailand, Burma (sekarang Myanmar), Malaya (sekarang Malaysia), Laos, Vietnam Selatan dan Kamboja (dengan Singapura dimasukkan kemudian) adalah negara-negara pelopor. Mereka setuju untuk mengadakan ajang ini dua tahun sekali. Selain itu, dibentuk juga Komite Federasi SEAP Games.

SEAP Games pertama diadakan di Bangkok dari 12 sampai 17 Desember 1959, diikuti oleh lebih dari 527 atlet dan panitia dari Thailand, Burma, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Laos. Mereka berlaga dalam 12 cabang olahraga.

Pada SEAP Games VIII tahun 1975, Federasi SEAP mempertimbangkan masuknya Indonesia dan Filipina. Kedua negara ini masuk secara resmi pada 1977, dan pada tahun yang sama Federasi SEAP berganti nama menjadi Southeast Asian Games Federation (SEAGF), yang kemudian dikenal dengan sebutan Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara.

Setelah itu, jumlah negara anggota terus bertambah. Pada SEA Games X di Jakarta, Indonesia, Brunei masuk dan selanjutnya giliran Timor Leste yang ikut ambil bagian pada SEA Games XXII di Hanoi, Vietnam.

Sejak 1977 hingga 2009, ada beberapa negara yang sudah menjadi tuan rumah sebanyak tiga kali, yaitu Malaysia (1977, 1989, 2001) , Filipina (1981, 1991, 2005), Indonesia (1979, 1987, 1997), dan Thailand (1985, 1995, 2007). Sementara itu, Singapura baru dua kali menjadi tuan rumah (1983, 1993), Brunei dan Laos hanya sekali, pada tahun 1999 dan 2009.

Sea Games terakhir diselenggarakan di ibukota Laos, Vientiane, 2–18 Desember 2009 terutama digelar di Stadion Nasional Laos. Ini adalah kali pertama negara tersebut menjadi tuan rumah pesta olahraga tersebut. Diikuti 11 negara dan menjadi peringatan 50 tahun Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara diselenggarakan. Juara umum Sea Games 2009 diraih Thailand.

Disadur dari Kompas, Sea Games 2011

Beranda, 20 November 2011

Sergio Lay

PESAN DEWAN KEPAUSAN UNTUK AKHIR BULAN SUCI RAMADHAN, HARI RAYA IDUL FITRI 1230H/2009AD


Paus Benediktus XVISaudara-saudara Umat Islam yang terkasih,

1. Pada Hari Raya, ketika Anda sekalian mengakhiri bulan suci Ramadhan ini, kami ingin menyampaikan kepada Anda sekalian Ucapan Selamat kami, disertai dengan harapan akan kedamaian dan kebahagiaan bagi Anda sekalian. Melalui Ucapan Selamat ini pula kami ingin menyampaikan usulan tema yang kiranya dapat menjadi bahan permenungan kita bersama: Umat Kristiani dan Umat Islam: Bersama Mengentaskan Kemiskinan.

2. Ucapan Selamat Idul Fitri yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama seperti ini, telah menjadi tradisi yang kita pupuk bersama dan yang senantiasa menjadi kerinduan yang dinantikan setiap tahunnya. Dan ini sungguh-sungguh telah menjadi sumber kegembiraan kita bersama. Dari tahun ke tahun, di banyak Negara, hal ini telah menjadi suatu kesempatan untuk perjumpaan dari hati ke hati antara banyak Umat Kristiani dan Umat Islam. Tidak jarang pula perjumpaan itu menyapa suatu masalah yang menjadi keprihatinan bersama, dan dengan demikian membuka suatu jalan yang kondusif ke arah pergaulan yang ditandai oleh rasa saling percaya dan keterbukaan. Bukankah semua unsur ini secara langsung dapat dipahami sebagai tanda-tanda persaudaraan di antara kita, yang harus kita syukuri di hadapan Allah?

3. Berkaitan dengan tema kita tahun ini, masalah manusia yang berada dalam situasi kemiskinan adalah sebuah topik yang, dalam pelbagai iman kepercayaan, justru berada di jantung perintah-perintah agama yang kita junjung tinggi. Perhatian, belarasa dan bantuan yang kita semua, sebagai sesama saudara dan saudari dalam kemanusiaan, dapat memberikan kepada mereka yang miskin untuk membantu mereka mendapatkan tempat mereka yang sebenarnya di dalam tatanan masyarakat yang ada, adalah sebuah bukti yang hidup dari Cintakasih Allah yang Mahatinggi, sebab justru itulah yang menjadi kehendak-Nya, bahwa kita dipanggil-Nya untuk mengasihi dan membantu mereka sebagai sesama manusia tanpa pembedaan yang mengkotak-kotakkan.
Kita semua mengetahui, bahwa kemiskinan memiliki kekuatan untuk merendahkan martabat manusia dan menyebabkan penderitaan yang tak-tertanggungkan. Tidak jarang hal itu menjadi penyebab keterasingan, kemarahan, bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam. Hal itu dapat memancing tindakan-tindakan permusuhan dengan mempergunakan segala macam cara yang mungkin, bahkan tidak tanggung-tanggung memberinya pembenaran diri melalui landasan-landasan keagamaan, atau dengan merampas kekayaan seseorang bersama dengan kedamaian dan rasa amannya, atas nama apa yang dianggapnya sebagai “keadilan ilahi”. Itulah sebabnya, mengapa apabila kita memperhadapkan gejala-gejala ekstremisme dan kekerasan, tidak boleh tidak kita harus mengikutsertakan juga perihal penanganan kemiskinan dengan memajukan pengembangan manusia seutuhnya. Inilah yang oleh Paus Paulus VI disebutnya sebagai “nama baru untuk perdamaian” (Ensiklik Populorum Progressio, no. 42). Dalam Ensikliknya yang baru, Caritas in Veritate, sebuah ensiklik yang membahas pengembangan manusia secara integral melalui cintakasih dan kebenaran, Paus Benediktus XVI, sambil memperhitungkan juga usaha-usaha yang dewasa ini sedang diupayakan untuk memajukan pengembangan, menggaris-bawahi adanya kebutuhan pada “suatu sintese kemanusiaan yang baru” (no 21), yang dengan mempertahankan keterbukaannya terhadap Allah, dapat memberikan kepadanya kedudukannya sebagai “pusat dan puncak” dunia ini (no. 57). Oleh karena itu, haruslah diupayakan terciptanya suatu pengembangan yang sejati “bagi manusia seutuhnya dan bagi setiap orang” (Populorum Progressio, no. 42).
4. Dalam pidatonya pada kesempatan Hari Perdamaian Sedunia, pada tanggal 1 Januari 2009, Paus Benediktus XVI membedakan dua macam kemiskinan: yakni kemiskinan yang harus diperangi dan kemiskinan yang harus dirangkul. Kemiskinan yang harus diperangi ini diketahui oleh semua orang: misalnya kelaparan, tidak adanya air bersih, pelayanan kesehatan yang sangat terbatas, papan tempat tinggal yang kurang memadai, tatanan pendidikan dan kebudayaan yang tak memadai, tuna-aksara, belum lagi bentuk-bentuk baru kemiskinan “di dalam masyarakat-masyarakat yang kaya, di mana terdapat pula bukti-bukti masih adanya marginalisasi, seperti juga adanya kemiskinan afektif, moral dan spiritual…” (Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia, 2009, no. 2).
Adapun kemiskinan yang harus dirangkul adalah gaya hidup sederhana dan mendasar, yang menghindarkan pemborosan dan menghormati lingkungan serta kebaikan ciptaan. Kemiskinan ini dapat juga, sekurang-kurangnya pada saat-saat tertentu dalam satu tahun, mengambil bentuk berupa laku matiraga dan puasa. Ini adalah kemiskinan yang menjadi pilihan sadar kita dan yang memungkinkan kita untuk melewati batas diri sendiri, dan memperluas wawasan hati kita.
5. Sebagai orang beriman, kerinduan untuk menjalin kerja-sama untuk mencari cara yang tepat dan dapat bertahan lama untuk memecahkan masalah pengentasan kemiskinan, tentu juga harus disertai dengan refleksi terhadap masalah-masalah berat jaman kita sekarang ini dan, apabila mungkin, juga dengan saling berbagi keprihatinan yang sama untuk mencabut sampai ke akar-akarnya permasalahan itu. Dalam pandangan ini, pembahasan tentang segi-segi kemiskinan yang terkait dengan gejala globalisasi dalam masyarakat-masyarakat kita dewasa ini, memiliki pula dampak spiritual dan moral, karena kita semua turut mengambil-bagian dalam panggilan yang sama untuk membangun satu keluarga umat manusia, di mana semuanya, baik pribadi-pribadi perseorangan, maupun suku dan bangsa, masing-masing bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip persaudaraan dan rasa tanggungjawabnya.
6. Dengan mempelajari secara seksama gejala-gejala kemiskinan tersebut, kita bukan saja akan dibawa sampai kepada asal-usul permasalahannya, yakni kurangnya rasa hormat kepada martabat koderati manusia, tetapi juga seharusnya mengundang kita untuk membentuk suatu solidaritas global, misalnya melalui penerapan suatu “kode etik bersama” (Paus Yohanes Paulus II, Pidato kepada Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengetahuan Sosial, 27 April 2001, no. 4), yang norma-normanya bukan saja memiliki karakter konvensional, tetapi yang tidak boleh tidak harus juga berakar pada hukum alam yang telah disuratkan oleh Sang Khalik sendiri di dalam hati nurani setiap orang (bdk Rom 2:14-15).

7. Rupanya, di pelbagai tempat di dunia ini, kita sudah melewati jenjang toleransi dan memasuki era pertemuan bersama, mulai dengan pengalaman-pengalaman hidup yang kita hayati bersama dan dengan berbagi keprihatinan nyata yang sama pula. Ini merupakan sebuah langkah maju yang penting.
Dalam membagikan kepada setiap orang kekayaan hidup doa kita, puasa kita dan saling cintakasih kita satu sama lain, tidak mungkinkah hal ini semua akan semakin menjadi daya dorong bagi dialog dari orang-orang yang justru sedang berada dalam ziarah menuju kepada Allah?
Kaum miskin bertanya kepada kita, menantang kita, tetapi di atas semuanya itu mereka mengundang kita untuk bekerja-sama untuk urusan masalah yang mulia ini, yakni mengentaskan kemiskinan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Jean-Louis Cardinal Tauran
Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata
Sekretaris
sergio
Beranda, 11 September 2009

sergio

MEMAHAMI FILM “THE DA VINCI CODE”


Suatu usaha memahami novel dan film terlaris dalam 6 tahun terakhir ini

Anda ingin mengetahui informasi infotaiment yang paling terkenal dan terlaris dewasa ini? Di sini akan disajikan ringkasan satu novel yang telah difilmkan. Inilah salah satu novel dan film yang sungguh p4060060mengganggu keberimanan orang Kristen dewasa ini. Rugi kalau Anda tidak pernah membaca dan menontonnya. Membaca novelnya lebih menarik, tetapi menonton filmnya sangat membosankan karena pelbagai adegan yang sangat monoton. Walaupun demikian, novel dan film ini layak ditonton oleh orang Kristen untuk menegetahui sejauh mana pengetahuan kita akan iman kita.
Akhirnya, selamat membaca novel dan buku yang berjudul “The Da Vinci Code”.

“THE Da Vinci Code” adalah salah satu novel yang telah difilmkan dan terlaris pada dekade ini, sejak diterbitkan atau dicetak pada tahun 2003, di seluruh dunia buku ini telah terjual lebih dari 40 juta copy! Bila jumlah tersebut didistribusikan di seluruh Indonesia, sama dengan setiap rumah tangga memiliki sebuah buku tersebut. Buku ini tentu dapat berdampak pada pola pikir masyarakat. Dampak yang diharapkan secara jelas dituliskan pada sampul depan edisi bahasa Indonesianya, yaitu “memukau nalar, mengguncang iman!” Dampak yang dalam edisi bahasa Inggris tidak dicantumkan ini, dapat semakin besar dengan tayangan versi layar lebarnya, dan juga telah ada dalam versi vcd/dvd melalui film yang dibintangi TomHanks, aktor Hollywood yang sangat terkenal, dan diluncurkan secara serempak di seluruh dunia pada 19 Mei 2006 ini.
Hujatan terhadap Iman Kristiani Buku ini memang diharapkan untuk mengguncang iman karena novel ini, edisi bahasa Indonesianya setebal 624 halaman, terang-terangan menghujat pokok-pokok iman Kristiani.

Berikut adalah hujatan tersebut yang merupakan pandangan si penulis:

1. Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa. Kaisar Konstantin dari kerajaan Romawilah yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan, melalui konsili Nicea pada tahun 325 demi kepentingan politiknya.
2. Kitab Perjanjian Baru yang digunakan oleh orang Kristen saat ini adalah himpunan dari kitab-kitab yang disusun oleh Kaisar Konstantin melalui konsili Nicea. Sedangkan kitab-kitab suci yang benar, yaitu yang digunakan oleh para pengikut Yesus yang asli, justru dibakar berdasarkan putusan konsilitersebut sebab berisikan “kebenaran” yang sesungguhnya, yaitu bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa dan bukan Tuhan.
3. Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki seorang putri. Maria terpaksa
harus mengungsi ke Prancis, berlindung di antara masyarakat Yahudi dan melahirkan
anaknya di sana. Hal ini antara lain dikarenakan rasul Petrus merasa cemburu sebab
Maria Magdalena, sebagai seorang perempuan, telah dipilih oleh Yesus untuk menjadi kepala gereja. Untuk mengemukakan hujatannya tersebut sang penulis dengan sangat licin telah memadukan:
a. Cerita-cerita khayalan, fiksi
b. Fakta-fakta sejarah
c. Data yang tidak akurat dan tafsiran yang melenceng terhadap beberapa fakta sejarah
d. Keyakinan teologisnya yang bersifat anti Kristen

Karena keempat hal tersebut dijalin rapi di dalam sebuah tulisan yang rancak dan dengan setting cerita thriller yang menarik, menegangkan serta penuh kejutan, maka dengan mudah orang terhanyut dalam alur cerita tanpa dapat membedakan fakta dan fiksi. Akibatnya bagi yang tidak paham sejarah gereja dengan mudah akan terperangkap kedalam jerat keyakinan teologis sang penulis. Bahkan, orang dapat terbawa kepada ajaran sang penulis yang merupakan ajaran kafir, seperti memandang hubungan seks bebas sebagai sarana untuk berhubungan dengan Tuhan.

RINGKASAN PLOT CERITA DALAM NOVEL DAN FILM
Buku ini diawali dengan pembunuhan terhadap Jacques Sauniere, kurator Museum Louvre, di Paris, oleh Silas seorang biarawan berkulit albino, demi mendapat rahasia batu kunci Priory of Sion, karena di situ termuat informasi tentang letak Cawan Kudus (Holy Grail), yaitu cawan yang digunakan oleh Yesus dalam perjamuan kudus terakhir bersama para murid-Nya. Sebelum meninggal Jacques Sauniere sempat memberi petunjuk sandi yang mengakibatkan Robert Landon, ahli ilmu simbol dari Universitas Harvard, ikut terlibat dalam kasus ini. Robert Landon lalu bekerjasama dengan Sophie Neveu, ahli ilmu sandi pemerintah Prancis, yang juga cucu perempuan Jacques Sauniere. Dalam upaya ini, keduanya terus diburu oleh Kapten Bezu Fache, anggota reserse kriminal Prancis, dan Silas. Kapten Bezu ingin mengungkap kasus pembunuhan, sedangkan Silas ditugasi pemimpin Opus Dei, sebuah organisasi rahasia Gereja Katolik, demi menyelamatkan Gereja Katolik. Di tengah cerita, Robert Landon dan Sophie Neveu berjumpa Sir Leigh Teabing, ilmuwan yang mendalami rahasia Cawan Kudus. Teabing memaparkan berbagai “rahasia gereja”, di antaranya: Yesus hanyalah manusia biasa yang menikah dengan Maria Magdalena. Sehingga demi kepentingan politiknya Kaisar Romawi Konstantin menetapkan Yesus sebagai Tuhan melalui sebuah konsili (sidang gereja) di kota Nicea pada tahun 325. Dalam konsili tersebut diputuskan semua “kitab suci yang benar”, yang menyatakan Yesus manusia biasa, dilarang dan dibakar. Sedangkan para “pengikut Yesus yang asli”, yaitu mereka yang tak mempercayai ketuhanan Yesus ditetapkan sebagai kaum bidat, dan harus dimusnahkan. Lebih jauh Teabing menjelaskan Leonardo da Vinci, yang adalah anggota serikat rahasia Priory of Sion, mengetahui rahasia pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena, sehingga tugas serikat ini menjaga rahasia itu. Namun Leonardo da Vinci membocorkannya melalui lukisannya yang sangat terkenal, The Last Supper (Perjamuan Malam yang Terakhir) yang melukiskan,suasana perjamuan Paskah sebelum Yesus ditangkap. Lukisan tersebut menyembunyikan beberapa kode yang menunjukkan Maria Magdalena adalah istri Yesus. Kode-kode tersebut diantaranya: tidak adanya gambar Cawan Suci pada lukisan tersebut. Orang yang duduk di sebelah kanan Yesus, sesungguhnya adalah gambar Maria Magdalena, bukan rasul Yohanes. Posisi tubuh Yesus dengan Maria Magdalena di dalam lukisan tersebut membentuk huruf V, supaya orang yang mencari-cari gambar Cawan Suci akan menangkap kode huruf V ini, mendapati sesungguhnya Maria Magdalenalah Sang Cawan Suci yang mereka cari. Huruf V merupakan simbol dari cawan yang juga simbol seorang perempuan, dan Leonardo memakai Cawan Suci sebagai kode untuk memberitahukan Yesus menikah dengan orang yang duduk di sebelah kanan-Nya, yaitu Maria Magdalena. Lukisan itu juga ingin memberitahukan betapa bencinya rasul Petrus kepada Maria Magdalena, sebab Maria telah dipercaya Yesus untuk memimpin gereja. Di situ dilukiskan wajah Petrus penuh amarah dengan jari telunjuknya diarahkan ke leher Maria Magdalena. Teabing juga menjelaskan Gereja Katolik telah berkonspirasi menutupi fakta Yesus hanya manusia biasa, dan Vatikan mengetahui kebohongan ajaran kalau Yesus adalah Tuhan. Rahasia ini dijaga demi mempertahankan kekuasaan gereja. Kejutan di akhir cerita, terungkap bahwa ternyata Teabing-lah tokoh kunci dalang pencarian batu kunci Priory of Sion, dan bahwa Sophie Neveu adalah keturunan Maria Magdalena dari perkawinannya dengan Yesus.

ANTARA FAKTA DAN FIKSI
Seperti yang saya kemukakan di atas, Dan Brown, menulis novelnya dengan sangat licin. Dia menjalin beberapa fakta dan fiksi, atau kisah khayal, sehingga orang awam yang tak paham sejarah gereja sulit membedakannya. Akibatnya pembaca buku tersebut dapat menganggap bagian-bagian fiksi sebagai fakta. Pelbagai fakta yang disisipkan oleh Dan Brown dalam novel fiksi ini antara lain:
1. Detil ruangan Museum Louvre, tempat kisah ini dimulai, dan detil dari kapel Rosslyn di Skotlandia, yang dikisahkan sebagai tempat disimpannya cawan suci.
2. Penyelenggaraan Konsili Nicea atas permintaan Kaisar Konstantin, yang juga menetapkan bahwa para pengikut Arius yang tak mempercayai keilahian Yesus sebagai bidat.
3. Kedangkalan kekristenan Kaisar Konstantin, sehingga misalkan ia hanya mau dibaptis menjelang saat ajalnya, dan diserapnya beberapa praktik agama kafir ke dalam kehidupan gereja khususnya sejak Kaisar Konstantin mengeluarkan edik toleransi pada tahun 313.Edik toleransi ini memang pada satu sisi bersifat positif bagi orang Kristen karena penganiayaan terhadap mereka dihentikan, namun di sisi lain bersisi negatif sebab telah mengakibatkan gereja mengalami kemerosotan spiritual sehingga terjerumus ke dalam abad-abad kegelapan.
4. Sebagian dari detil lukisan The Last Supper,karya Leonardo Da Vinci yang terdapat pada dinding gereja Santa Maria delle Grazie di kota Milan, Italia.
5. Serikat Piory of Sion dan Opus Dei yang memang ada dalam lingkup Gereja Katolik. Hanya saja lembaga-lembaga tersebut didirikan bukan untuk melakukan kegiatan rahasia seperti yang ditulis Dan Brown.

Di luar fakta tersebut bagian yang lain dari buku tersebut hanyalah fiksi, khayalan Dan Brown. Data yang dikemukakannya tidak akurat, tafsirannya melenceng dari fakta sesungguhnya. Namun karena gaya penyajiannya sangat meyakinkan, maka pembaca yang tidak menggunakan nalarnya secara kritis akan menganggap itu semua fakta yang benar. Pembaca seperti ini akan mudah terperangkap dalam alur pikir Sophie, tokoh dalam novel ini, saat ia terpengaruh oleh ceramah Leigh Teabing, yang sesungguhnya adalah indoktrinasi dari Dan Brown.
Sebaliknya apabila ketidakakuratan dan tafsir yang melenceng tersebut diungkap, dan pada saat yang sama ditunnjukkan bagian fiksi novel tersebut, maka dengan mudah pembaca yang berpikiran jernih dan obyektif dapat menangkap kelicinan dan kesalahan pandangan Dan Brown, dan sekaligus akan melihat kebenaran pokok iman Kristiani.

KEBENARAN KONSILI NICEA TAHUN 325?
Jauh sebelum Konsili Nicea, yang digelar pada tahun 325, gereja pada zaman para rasul atau gereja mula-mula telah mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan ini selaras dengan ajaran Yesus Kristus tentang diri-Nya kepada para murid-Nya (lihat Injil Matius 16:13-20). Beberapa bukti keyakinan gereja mula-mula ini dapat dilihat antara lain di dalam kitab Didache (ditulis sebelum tahun 100), yang pada intinya mengajarkan tentang praktika ibadah Kristiani dan dengan jelas menuliskan pokok iman Kristiani: Yesus adalah Tuhan. Contoh yang lain adalah tulisan-tulisan Yustinus Martir, bapa gereja dan apologet terkemuka pada awal abad kedua, yang dua abad sebelum Konsili Nicea telah menegaskan keilahian Yesus Kristus. Bukti lain adalah ajaran Uskup Irenaeus, dari Lungdunum, tokoh yang sangat terpandang pada awal abad kedua, yang mengacu kepada tulisan dalam 1Korintus 8:6, yang berbunyi: “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus.” Dengan kata lain, ajaran Yesus adalah Tuhan sama sekali bukanlah ide Kaisar Konstantin yang dalam agenda politiknya bermaksud menyatukan kaum kafir dengan pemeluk agama Kristen di negara Romawi, dengan mencampurkan ajaran kafir dan Kristen melalui Konsili Nicea.
Diakui dalam Konsili Nicea dirumuskan syahadat atau pengakuan iman Kristiani, namun isi pengakuan iman tersebut bukanlah pemasukan ajaran baru yang bersumber dari ajaran kafir ke dalam ajaran Kristiani. Kredo yang dirumuskan itu merupakan penegasan inti jaran Kristiani yang sudah ada tiga abad sebelumnya. Penegasan ini dinilai perlu karena pada masa itu muncul ajaran baru yang dikembangkan oleh Arius, seorang teolog dari Aleksandria, Mesir, yang menyangkali keilahian Yesus. Dan Brown melalui mulut tokoh yang ia ciptakan, Teabing, berkata bahwa di dalam Konsili Nicea telah diadakan pemungutan suara, untuk menentukan apakah Yesus adalah Tuhan atau manusia. Ia mengatakan bahwa voting tersebut menghasilkan suara yang hampir seimbang di antara pendukung dan penentang ajaran Yesus sebagai Tuhan. Dalam realita sejarah, saat dilakukan pemungutan suara, dari tiga ratus uskup yang hadir pada konsili tersebut hanya dua orang saja yang menentang rumusan Pengakuan Iman Nicea. Jadi sungguh jauh dari yang disebut oleh Dan Brown sebagai suara hampir seimbang! Padahal sebagian besar dari para uskup yang hadir berasal dari wilayah Timur, tempat Arius menyebarkan ajarannya.

KAISAR KONSTANTIN PENYUSUN PERJANJIAN BARU?
Dan Brown sangat benar saat ia menulis bahwa “Alkitab tidak datang dengan cara difaks dari surga.” Sebab kekristenan tidak mengajarkan bahwa setiap kata dan kalimat di dalam Alkitab didikte dari surga kepada para penulisnya. Tetapi Dan Brown sangat keliru saat mengatakan Konstantin-lah penyusun dan yang memilih kitab Injil mana yang boleh dimasukkan ke dalam
Perjanjian Baru melalui Konsili Nicea. Menurut Brown, Konstantin telah memilih kitab-kitab yang membuat Yesus seakan adalah Tuhan, sedangkan semua kitab Injil yang berbicara tentang segala perilaku manusiawi Yesus dikumpulkan lalu dibakar. Dan Brown keliru, karena ia menyembunyikan fakta sejarah bahwa sesungguhnya daftar yang baku, atau kanon, dari kitab-kitab Perjanjian Baru sudah tersusun dua abad sebelum Konsili Nicea. Salah satu kanon yang paling terkenal adalah kanon Muratorian yang disusun pada tahun 190. Disitu dicantumkan dua puluh sembilan kitab dan surat Perjanjian Baru, dua puluh tujuh kitab di antaranya sama persis dengan kanon Kitab Perjanjian Baru yang ada saat ini, dengan dua tambahan yaitu kitab Wahyu kepada Petrus dan kitab Hikmat Salomo. Pada masa berikutnya para bapa gereja mengeluarkan kedua kitab tersebut dari kanon Perjanjian Baru karena dipandang isinya tak setara dengan kitab-kitab kanonik. Kanon lain adalah tulisan Irenaeus pada awal abad kedua, yang mendaftarkan keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang ada sekarang sebagai kitab suci. Jadi, dalam Konsili Nicea tidak disusun kanon Perjanjian Baru, tetapi diperdebatkan keabsahan dari beberapa kitab yang ada di dalam kanon Perjanjian Baru, khususnya kitab Ibrani dan Wahyu. Alasan perdebatan tersebut karena pada kedua kitab tersebut tidak dicantumkan nama sang penulis secara eksplisit seperti pada kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Bagi para pemimpin gereja di abad mula-mula kejelasan nama penulis kitab atau surat sangat menentukan demi memastikan kekokohan dari kanon. Lebih lanjut Dan Brown mengatakan kumpulan kitab-kitab Injil yang sejati yang dicoba dimusnahkan oleh Kaisar Konstantin ada yang berhasil diselamatkan. Kumpulan tersebut ditemukan kembali di Gua Qumran dekat Laut Mati pada tahun 1950-an, yaitu Dead Sea Scrolls, dan gulungan kitab di Nag Hammadi pada tahun 1945. Memang benar di kedua tempat itu ditemukan gulungan-gulungan kitab tersebut, namun gulungan-gulungan tersebut bukan kitab Injil yang sejati! Dead Sea Scrolls sama sekali tidak berisi sepotong pun kitab yang disebut sebagai Injil, sebaliknya berisi fragmen-fragmen dari kitab-kitab Perjanjian Lama yang isinya sangat persis dengan kitab Perjanjian Lama saat ini. Sehingga ia justru membuktikan keakuratan isi kitab Perjanjian Lama dalam Alkitab. Dalam Dead Sea Scrolls juga ditemukan catatan tentang aturan kehidupan kaum petapa Essenes, suatu kelompok agama Yahudi sebelum masa agama Kristen. Sedangkan isi kitab-kitab di dalam gulungan Nag Hammadi sangat jauh untuk dapat dikatakan sebagai Injil yang sejati. Kitab-kitab tersebut disebut sebagai kitab Gnostik, yakni aliran kebatinan yang mulai muncul di gereja sejak awal abad kedua. Kitab-kitab dalam gulungan Nag Hammadi tersebut ditulis oleh pengikut aliran ini pada akhir abad kedua sampai dengan abad kelima, bukan pada zaman para rasul! Kitab-kitab tersebut berisi dongeng dan mitos khas kaum Gnostik, mutu etikanya kelewat rendah dan sangat bertentangan dengan doktrin Perjanjian Lama tentang pribadi Allah sebagai Pencipta Langit dan Bumi, sehingga oleh gereja mula-mula pun sama sekali tidak dipandang sebagai kitab yang suci.

Apakah Yesus Menikah?
Inilah pertanyaan banyak orang sepanjang abat sejak pergulatan orang Kristen tentang keallahan Yesus. Kesimpulan Dan Brown dalam novel dan filmnya ini kurang punya bukti bukti ilmiah yang meyakinkan, sebab tak satu pun naskah pada zaman para rasul dan bapa-bapa gereja yang mencatat bahwa Yesus menikah. Namun, untuk mendukung pernyataannya Dan Brown menggunakan tiga “bukti.” Namun bila diteliti tiga “bukti” itu dengan mudah terlihat sebagai kesimpulan yang gegabah. “Bukti” pertamanya adalah lukisan The Last Supper karya Leonardo Da Vinci. Tanpa dasar jelas ia mengatakan gambar orang berwajah halus, yang mirip wanita, duduk di sebelah kanan Yesus di dalam lukisan tersebut adalah Maria Magdalena! Untuk membuktikan pendapatnya bahwa Yesus menikahi “Maria Magdalena” tersebut, Dan Brown menggunakan metode otak-atik gathuk, istilah bahasa Jawa yang berarti “diotak-atik supaya jadi cocok.” Dia mengotak-atik detil di dalam lukisan tersebut sedemikian rupa supaya mendukung pernyataannya. Hanya saja ia tidak menyebutkan suatu fakta dalam dunia seni bahwa para pelukis abad pertengahan, yaitu zamannya L eonardo Da Vinci, seorang pria belia sering dilukis dengan wajah feminim. Hal yang sama dilakukan Leonardo Da Vinci saat melukiskan wajah Yohanes, murid Yesus Kristus yang termuda, dalam lukisan The Last Supper di atas. “Bukti” kedua yang ia gunakan adalah pendapatnya bahwa dalam kepantasan sosial pada zaman Yesus Kristus, bahwa seorang lelaki Yahudi terlarang untuk tidak menikah. Menurut Brown, dalam adat Yahudi tidak menikah adalah hal terkutuk. Jelas pernyataan ini tidak berdasar, sebab merupakan fakta sejarah ada banyak pria Yahudi pada zaman itu yang menjadi nazir, yang karena alasan keyakinan keagamaan ada di antara mereka yang tidak menikah. Sebagai contoh adalah kaum Essenes yang menyimpan gulungan kitab Dead Sea Scrolls di atas. Di samping itu merupakan suatu fakta pula bahwa orang Yahudi sangat menghormati tokoh-tokoh di dalam Perjanjian Lama yang tidak menikah, seperti nabi Daniel, yang adalah seorang sida-sida Yahudi di negara Babilonia. “Bukti” ketiga yang ia gunakan adalah Injil Philip yang menyebutkan bahwa Yesus mencintai Maria Magdalena lebih dari pada seluruh murid-Nya dan Yesus sering mencium Maria. Patut diketahui bahwa yang disebut sebagai Injil Philip sesungguhnya sama sekali bukan kitab Injil, melainkan sebuah kitab Gnostik yang ditulis sekitar pada abad ketiga. Kitab ini disebut sebagai Injil Philip bukan karena ia ditulis oleh Rasul Filipus, tetapi karena di dalam kitab Gnostik tersebut tidak disinggung nama rasul-rasul Tuhan Yesus yang lain, kecuali hanya nama Rasul Filipus. Dan Brown juga tidak menyebutkan bahwa Injil Philip yang ditemukan dalam gulungan Nag Hammadi tersebut tidak ditulis di dalam bahasa Yunani ataupun berlatar belakang bahasa Yunani sebagaimana layaknya kitab-kitab Perjanjian Baru, namun di dalam bahasa Koptik, yaitu bahasa Mesir dan dengan latar belakang bahasa Siria!

KESIMPULAN
Sejak gereja berdiri dua ribu tahun yang lampau serangan terhadap pokok-pokok iman Kristiani tidak pernah berhenti. Serangan tersebut berasal dari kelompok bidat di dalam gereja sendiri, maupun dari orang-orang yang tidak mempercayai Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat manusia.Jadi, hujatan dalam buku The Da Vinci Code bukan hal baru. Hanya saja kali ini hujatan ini menjadi meluas karena ditunjang dengan sistem promosi dan pemasaran yang sangat canggih, yang mendatangkan keuntungan finansial luar biasa bagi pihak penulis dan penerbit buku ini. Di samping itu juga karena di wilayah-wilayah tertentu di dunia buku ini dipopulerkan oleh pribadi-pribadi yang tidak menginginkan terbangunnya kerukunan umat beragama di tengah masyarakat. Mengapa orang Kristen tidak menanggapi hujatan di dalam buku The Da Vinci Code dengan amarah yang membabi-buta dan berbuat keonaran? Hal ini bukan karena mayoritas orang Kristen yang terdidik mengetahui bahwa Yesus memang seorang manusia yang karena manuver politik Konstantin telah dijadikan Tuhan, sehingga tidak mampu menjawab hujatan tersebut (seperti dikatakan Dan Brown di dalam bukunya). Justru sebaliknya, orang Kristen yang berpikir obyektif, kritis dan memahami metoda ilmiah yang masuk nalar serta mengetahui sejarah iman mereka, akan dapat melihat hujatan di dalam novel The Da Vinci Code tersebut bersifat fitnah murahan. Di samping itu orang Kristen menghayati firman Tuhan bahwa “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:17-18). Perilaku kasih ini bukanlah tanda kelemahan, justru sebaliknya kemampuan untuk mengendalikan emosi secara dewasa merupakan bukti dari buah Roh (Galatia 5:22) di dalam kehidupan orang yang hidup di dalam anugerah Tuhan. Di sisi yang lain, buku-buku seperti The Da Vinci Code harus membuat orang Kristen lebih giat lagi membaca dan mempelajari Alkitab, memahami pokok-pokok ajaran iman yang sehat, dan sejarah gereja dengan baik. Dengan demikian mereka akan dapat “menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman dan dalam ajaran sehat yang telah mereka ikuti selama ini.” (1Timotius 4:6), serta mampu menjawab setiap hujatan tersebut sesuai dengan nasihat firman Tuhan: “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” (1Petrus 3:15-16). *** email: giuslay.zone@libero.it
Beranda, 13 Februari 2009