HARI RAYA TUHAN YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM


Bacaan: Yeh 34:11-12.15-17; 1Kor 15:20-26a.28; Mat 25:31-46
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

“Bapak teko, awake dewe poso” (= Bapak berkunjung, kita semua berpuasa), demikian keluh kesah atau gerutu para pedagang kaki lima dan tukang becak di wilayah kota Semarang ketika Presiden Suharta berkunjung ke Semarang guna membuka Konggres Bahasa Jawa di sebuah hotel beberapa tahun lalu. Mengapa para pedagang kali lima dan tukang becak menggerutu dan merasa harus berpuasa, karena selama dua hari mereka ‘tidak boleh bekerja’ alias tidak boleh berdagang dan ‘mbecak’, demi kebersihan jalan-jalan kota Semarang yang mendapat kunjungan Presiden. Tidak bekerja berarti tak ada masukan sedikitpun bagi mereka, maka benarlah bahwa mereka mengatakan harus berpuasa. Pada tahun yang sama secara kebetulan Paus Yohanes Paulus II berkunjnng ke Indonesia, antara lain ke Yogyakarta bagi umat wilayah Keuskupan Agung Semarang. Pada peristiwa kunjungan Paus di Yogyakarta ini baik pedagang kaki lima maupun tukang becak sungguh diuntungkan, karena banyak orang yang memakai jasa mereka. Dan memang Paus pun juga minta agar diundang 20 tamu VVIP dalam kunjungannya, dan yang dimaksudkan dengan tamu VVIP tidak lain adalah mereka yang sakit, cacat, lansia, bayi dst.. . Pemimpin dunia memang berbeda dengan pemimpin agama, menejemen bernegara memang berbeda dengan menejemen menggereja. Pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam hari ini kita diajak untuk mengenangkan dan merefleksikan makna ‘raja’ serta fungsinya sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, maka marilah kita renungkan isi Warta Gembira hari ini.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40)
Yesus, Raja Semesta Alam, datang dan melayani dalam kesederhanaan dan kemiskinanNya serta berpihak pada/bersama dengan yang miskin dan berkekurangan atau ‘yang paling hina’. Sebagai umat beriman atau beragama, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil untuk meneladanNya, khususnya mereka yang berfungsi sebagai pemimpin maupun yang berpartisipasi dalam kepemimpinannya. Paus, pemimpin Gereja Katolik senantiasa menyatakan diri sebagai ‘hamba dari para hamba yang hina dina’, sedangkan para uskup menyatakan diri sebagai ‘hamba yang hina dina’.
“Preferential option for/with the poor” = Keberpihakan kepada/bersama yang miskin, itulah salah satu prinsip hidup menggereja sebagai paguyuban umat beriman, yang harus kita hayati dan sebarluaskan. Untuk itu kita sendiri hendaknya hidup dan bertindak secara sederhana serta memiliki sifat-sifat sebagaimana dihayati oleh orang-orang miskin yang baik dan berbudi pekerti luhur. Maka baiklah di akhir tahun Liturgy ini kita mawas diri: apakah kita semakin tumbuh berkembang dalam iman sehingga semakin meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, yang sederhana dan miskin serta datang untuk memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan dengan rendah hati. Orang-orang miskin dan hina baik secara material maupun spiritual kiranya ada di sekitar kita, berada di lingkungan hidup maupun kerja kita, maka marilah kita perhatikan mereka dengan penuh pelayanan dan kerendahan hati. Cirikhas orang miskin yang baik dan berbudi pekerti luhur, antara lain: bekerja keras dan senantiasa siap sedia untuk mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya.

Berinspirasi pada Warta Gembira hari ini kita diharapkan memperhatikan mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, terpenjara dan sakit, entah secara material maupun spiritual. Untuk itu kita memang harus siap sedia berjuang dan berkorban. Memperhatikan secara material berarti siap sedia untuk mengorbankan sebagian kekayaan atau harta benda/uang kita bagi mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, terpenjara atau sakit. Sedangkan secara spiritual antara lain kita harus dengan suka rela dan jiwa besar berani memboroskan waktu dan tenaga kita bagi mereka yang ‘terasing, terpejara dan sakit’ maupun ‘lapar, haus dan telanjang’ secara spiritual alias mereka yang kurang diperhatikan alias yang paling hina. Kunjungan bersama kepada mereka yang sedang dipenjara, yang diasuh di aneka panti asuhan kiranya juga merupakan salah satu bentuk penghayatan iman kepada Yesus, Raja Semesta Alam, yang berpihak pada/bersama yang miskin dan berkekurangan. Selanjutnya marilah kita renungkan sapaan Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.

“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22)
Kutipan di atas ini kiranya mengingatkan kita semua perihal janji baptis, yaitu ketika dibaptis kita berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan’. Maka baiklah pada Hari Minggu Terakhir tahun Liturgy atau Hari Raya Tuhan kndaita Yesus Kristus Raja Semesta Alam hari ini kita mawas diri perihal perkembangan penghayatan janji baptis, yang telah kita ikrarkan dengan bangga dan gembira ketika dibaptis.

Pertama-tama marilah kita mawas diri perihal ‘mati dalam persekutuan dengan Adam’ atau janji menolak semua godaan setan: apakah kita senantiasa menolak godaan setan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Godaan setan dalam menggejala dalam bentuk tawaran atau rayuan untuk ‘gila terhadap harta benda/uang, jabatan/pangkat/kedudukan atau kehormatan duniawi’. Yang paling menggoda pada masa kini kiranya harta benda atau uang sebagaimana telah menguasai para koruptor, karena dengan uang orang dapat hidup dan bertindak menurut kemauannya sendiri, meskipun untuk itu akhirnya akan menderita selamanya. Orang yang dirajai atau dikuasai oleh uang ketika tidak memiliki uang lagi pasti akan gila atau sinthing. Harta benda atau uang adalah ‘jalan ke neraka atau jalan ke sorga’, maka marilah sebagai umat beriman kita hayati uang sebagai ‘jalan ke sorga’, yang berarti semakin kaya akan uang hendaknya semakin suci, berbakti sepenuhnya kepada Tuhan.

“Mengabdi Tuhan Allah” berarti menjadikan Allah adalah Raja kita dan kita dikuasai atau dirajai olehNya. Kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintahNya, dan kiranya semua perintah atau kehendakNya dalam dipadatkan ke dalam perintah untuk ‘saling mengasihi satu sama lain sebagaimana Allah telah mengasihi’ kita. Allah telah mengasihi kita secara total sehingga kita dapat hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Saling mengasihi berarti saling memboroskan waktu dan tenaga satu sama lain, maka marilah kita saling memboroskan waktu dan tenaga alias saling memperhatikan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tenaga. Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi berarti kita sungguh mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam.

“Jikalau Aku membuat binatang buas berkeliaran di negeri itu, yang memunahkan penduduknya, sehingga negeri itu menjadi sunyi sepi, dan tidak seorang pun berani melintasinya karena binatang buas itu, dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan; hanya mereka sendiri akan diselamatkan, tetapi negeri itu akan menjadi sunyi sepi. Atau jikalau Aku membawa pedang atas negeri itu dan Aku berfirman: Hai pedang, jelajahilah negeri itu!, dan Aku melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang”(Yeh 14:15-17). Kutipan dari Kitab Yehiskiel di atas ini kiranya menunjukkan betapa maha kuasanya Allah. Mereka yang tidak beriman kepadaNya pasti akan segera dimusnahkan atau dihancurkan. Dengan kata lain kehancuran serta aneka macam musibah dan bencana alam yang sering terjadi masa kini antara lain karena kejahatan atau keserakahan manusia, buah ketidak-taatan manusia kepada Allah, Raja Semesta Alam.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya “(Mzm 23:1-3)

Beranda, IRRIKA, 20 November 2011

Sergio Lay

Iklan

BERBAHAGIALAH ORANG YANG …


Kiranya kita semua tahu atau kenal dengan Ibu Teresa dari Calcuta, entah melalui bacaan buku atau media cetak atau media elektronik. Ia adalah seorang biarawati yang tersentuh dan tergerak hatinya atas penderitaan jutaan manusia yang miskin dan berkekurangan serta kurang menerima perhatian; ia meninggalkan kemegahan biara dan sekolah yang diasuhnya dan kemudian ‘menggelandang’ di jalanan untuk menemani orang yang hampir mati atau sakit, bayi yang dibuang oleh yang melahirkannya, memberi makan apa adanya kepada mereka yang kelaparan dst.. Pribadi dan karyanya begitu memikat, mempesona dan menarik banyak orang, dan pada suatu saat diwawancari oleh seorang wartawan TIME. “Ibu menurut kata banyak orang ibu adalah orang suci atau santa yang masih hidup. Sebenarnya orang suci itu semacam apa ibu?”, demikian kurang lebih pertanyaan sang wartawan kepada Ibu Teresa. Dan dengan rendah hati dan mantap Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang dapat mengintip siapa itu Tuhan, siapa itu manusia dan apa itu harta benda”. Memang dari cara hidup dan cara bertindak ibu Teresa kita dapat mendalami kebenaran perihal ‘siapa Tuhan, siapa manusia dan apa harta benda’. Maka marilah pada Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini kita mawas diri, entah dengan cermin ibu Teresa dari Calcuta, santo-santa pelindung kita masing-masing atau bacaan-bacaan hari ini. Perkenankan saya merefleksikan secara sederhana apa yang tertulis dalam Injil hari ini.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3)
“Miskin di hadapan Allah” berarti menggantungkan atau mengandalkan diri sepenuhnya kepada Allah, menyadari dan menghayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, cara hidup dan cara bertindaknya dikuasai atau dirajai oleh Allah sehingga hidup dan bertindak menurut kehendak Allah. Dalam keadaan atau kondisi dan situasi apapun orang yang ‘miskin di hadapan Allah’ senantiasa bergembira dan berbahagia, karena bersama dan bersatu dengan Allah, dan tidak takut menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan dalam penghayatan iman. Ia dapat menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Mat 5:4)
“Menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah” memang butuh perjuangan dan pengorbanan alias siap sedia untuk berdukacita. Berdukacita berarti ada yang meninggal atau ditinggalkan, dan tentu saja dalam hal ini bukan orang, melainkan keinginan, nafsu, harapan atau dambaan pribadi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” (Yoh 16:20-21), demikian sabda Yesus. Marilah sabda Yesus ini kita renungkan, refleksikan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.
“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Mat 5:5)
Buah atau dampak ketahanan dan ketabahan dalam berdukacita atau penderitaan adalah lemah lembut, sabar dan tekun, tidak kasar dan tidak terburu-buru dalam menghadapi segala sesuatu. Yang bersangkutan juga hidup membumi, memperhatikan hal-hal sederhana dengan penuh cintakasih, ia mengerjakan hal-hal sederhana dan kecil dengan kasih yang besar. Kami percaya bahwa pada umumnya rekan-rekan perempuan atau para ibu lebih lemah lembut dari pada rekan-rekan laki-laki atau para bapak, maka kami berharap rekan-rekan perempuan atau para ibu dapat menjadi teladan dalam kelemah lembutan dalam hidup sehari-hari di dalam lingkungan hidup maupun lingkungan kerjanya, dan kepada rekan-rekan laki-laki atau para bapak hendaknya tidak malu-malu belajar lemah lembut juga dari rekan-rekan perempuan atau para ibu.
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6).
Perkembangan dari lemah lembut adalah ‘lapar dan haus akan kebenaran’, yang bersangkutan sungguh membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam nasihat, saran, ajaran , informasi dst.. dalam rangka menemukan kebenaran. Kebenaran sejati antara lain adalah bahwa kita adalah orang-orang lemah, rapuh dan berdosa yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya. Maka yang bersangkutan sungguh menghayati diri sebagai yang diperhatikan, banyak orang memperhatikannya, dan dengan demikian ia sungguh dipuaskan dengan berbagai bentuk perhatian.
“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7)
Orang yang menghayati diri sebagai yang diperhatikan banyak orang berarti kaya akan kemurahan hati, maka yang bersangkutan akan bermurah hati juga kepada orang lain atau siapapun juga. Murah hati berarti hatinya dijual murah alias siapapun boleh minta diperhatikan atau ia memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Masing-masing dari kita kiranya telah menerima kemurahan hati Allah, terutama dan pertama-tama melalui orangtua kita masing-masing, khususnya ibu kita yang telah mengandung dan melahirkan serta membesarkan dan mengasuh kita dengan sepenuh hati. Maka selayaknya sebagai umat beriman kita saling bermurah hati atau memperhatikan.
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8)
Buah bermurah hati adalah suci atau “sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1Yoh 3:2-3). Orang suci adalah “orang yang menaruh pengharapan kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci”. Orang suci mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sehingga semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya. Ia sungguh menjadi ‘kekasih Allah’
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9)
“Menjadi kekasih Allah” secara otomatis akan “membawa damai” dimana pun ia berada atau kemana pun ia pergi, terutama damai di hati. Bersama dan bergaul dengan ‘kekasih Allah’ akan terasa sejuk, damai dan tenteram serta aman. Perdamaian menjadi dambaan atau kerinduan semua orang, maka marilah kita sebagai orang beriman atau kekasih Allah senantiasa menjadi saksi atau teladan perdamaian serta menyebarluaskan perdamaian kepada siapapun dan dimanapun . “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan), demikian pesan Paus Paulus II memasuki millennium ketiga yang sedang kita jalani ini. Pembawa damai berarti senantiasa mengampuni siapapun yang telah menyalahi atau menyakitinya.

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:10)
Memang ketika kita disalahi atau disakiti segera mengampuninya dan tidak balas dendam , kita akan merasa ‘teraniaya’. Baiklah jika demikian adanya marilah kita memandang dan menatap Dia yang tergantung di kayu salib. Untuk mewujudkan Kerajaan Allah/Sorga atau Allah yang meraja di dunia ini memang harus melalui penderitaan bahkan sampai wafat di kayu salib. Teraniaya atau menderita karena kebenaran adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka nikmati saja apa adanya.
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11)
“Tibo kebrukan ondho” = Jatuh tertimpa tangga, demikian kata pepatah Jawa. Ada kemungkinan dalam keadaan teraniaya dan menderita karena kebenaran kita masih dicela dan difitnah. Sekali lagi nikmati dan hayati aneka celaan dan fitnahan dalam dan bersama Tuhan, meneladan Yesus, Penyelamat Dunia, yang telah mengalaminya.
“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”
“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan”(Mzm 24:1-4b)
Disadur dari irrika.roma, renungan hari raya semua orang kudus 1 November.

Beranda, November 2011

Sergio LAY

KESETIAAN DALAM PERKARA KECIL


Hari Minggu Biasa XXXIII
Bacaan: Ams 31:10-13.19-20.30-31; 1Tes 5:1-6; Mat 25:14-30

Para pemimpin atau atasan yang sukses atau berhasil, artinya dapat menghayati tugasnya atau memfungsikan kepemimpinannya sungguh memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan yang dipimpin, pada umumnya berasal dari rakyat kccil atau memiliki pengalaman tinggal dan bekerjasama dengan rakyat kecil. Pemimpin yang bersangkutan pada umumnya juga sederhana, entah dalam cara hidup maupun cara bertindak, cara bicara maupun bekerja. Ia juga mengasihi dan memperhatikan apa yang kccil dan sederhana, entah itu manusia, binatang, tanaman maupun barang atau harta benda. Ia sungguh tidak mensia-siakan aneka keterampilan dan kecakapan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya, sehingga ia juga semakin terampil dan cakap dalam cara hidup dan cara bertindak. Maka marilah kita renungkan apa yang disabdakan oleh Yesus dalam perumpamaan perihal talenta sebagaimana diwartakan dalam Warta Gembira hari ini.

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21)

Dalam perjalanan penghayatan hidup, panggilan dan tugas pengutusan, kita menghadapi aneka macam perkara, entah besar atau kecil. Dalam menghadapi perkara besar pada umumnya kita takut serta merasa tidak mampu menghadapinya, maka baiklah kita hadapi dan selesaikan dahulu perkara-perkara kecil. Memperhatikan, menghadapi dan mengerjakan perkara-perkara kecil memang butuh kasih, kerendahan hati, ketekunan, kesabaran dan ketabahan serta ketelitian. Sebagai contoh menghadapi anak kecil harus rendah hati dan sabar dan dengan kasih, demikian juga binatang atau tanaman kecil. Bagian atau ‘onderdil’ peralatan teknologi semakin lama juga semakin kecil dan apa yang kecil tersebut sungguh menentukan berfungsinya alat yang bersangkutan.

Seorang pemimpin atau menejer yang baik dan sukes berkata “Jika anda tidak dapat mengatur diri sendiri jangan mengatur orang lain, jika anda tidak dapat mengatur kamar dan meja kerja anda sendiri, jangan mengatur kantor, dst..”. Kami berharap anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibina untuk memperhatikan perkara-perkara atau hal-hal kccil oleh orangtuanya antara lain dengan teladan konkret atau kiranya juga dapat belajar pada para pembantu atau pelayan rumah tangga atau kantor yang pada umumnya setia mengerjakan perkara-perkara atau hal-hal kecil. Kerjakan perkara atau hal kecil dengan cintakasih yang besar. Perkara atau hal kecil di dalam keluarga antara lain/misalnya: membuang sampah pada tempatnya, mematikan listrik atau keran air yang tidak dibutuhkan lagi, mengatur selimut, serandal atau sepatu atau pakaian, dst..

Dalam Warta Gembira hari ini kita diingatkan perihal keutamaan setia, yang harus kita hayati dan sebarluaskan. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat. Ini diwujudkan dalam perilaku tetap memilih dan mempertahankan perjanjian yang telah dibuat dari godaan-godaan lain yang lebih menguntungkan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24-25). Hemat saya dalam melaksanakan aneka perjanjian ada perkara-perkara atau hal-hal kecil yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh adalah perjanjian perkawinan antara laki-laki dan perempuan atau suami-isteri: jika anda mendambakan setia sebagai suami-isteri sampai mati, silahkan memperhatikan perkara-perkara atau hal-hal kecil dalam berrelasi atau saling mengasihi, misalnya memberi ciuman, memberi pujian, dst..

Orang yang peka pada perkara-perkara atau hal-hal kecil pada umumnya ialah para administrator keuangan, entah itu akuntan, pemegang kas atau pengawas keuangan. Mereka terbiasa dalam penghitungan uang sampai yang kecil-kecil, maka semoga mereka juga peka terhadap perkara-perkara atau hal-hal kecil dalam bidang kehidupan yang lain. Pengurusan atau pengelolaan harta benda atau uang yang benar dan baik, yang berarti sungguh memperhatikan perkara-perkara atau hal-hal kecil, akan menentukan keberhasilan atau kesuksesan urusan-urusan besar lainnya di kantor atau tempat kerja atau dalam kehidupan bersama di masyarakat. Setialah kepada perkara-perkara kecil, maka anda pada suatu saat akan siap sedia untuk menghadapi atau mengerjakan perkara-perkara besar.

“Kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar” (1Tes 5:4-6)
Sebagai umat beriman atau beragama kita “adalah anak-anak terang dan anak-anak siang” dan “tidak hidup di dalam kegelapan”, maka marilah kita hayati jati diri kita ini dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Salah satu cirikhas anak terang atau anak siang adalah hidup jujur dalam keadaan atau situasi apapun, kapanpun dan dimana pun, sehingga kehadiran dan sepak terjangnya senantiasa menerangi orang lain serta menjadi fasilitator bagi orang lain. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran. Ini diwujudkan dalam perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang serta rela berkorban untuk mempertahankan kebenaran. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan Tuhan dan diri sendiri” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17).

Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama untuk senantiasa hidup dan bertindak jujur kapan pun dan dimana pun. Secara khusus kepada mereka yang bertugas maupun berjuang demi kebenaran, seperti polisi, hakim/jaksa/saksi pengadilan, penuntut dst ..untuk sungguh jujur. Ingatlah dan sadarilah bahwa anda dapat berbuat curang tanpa diketahui sesama manusia, namun Tuhan tahu, dan pada waktunya nanti kecurangan anda pasti juga akan diketahui oleh umum dan anda akan dipermalukan tanpa kenal ampun. Kepada para pejuang dan pembela kebenaran kami harapkan tetap teguh dan tegar dalam memperjuangkan atau membela kebenaran, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan ancaman. Ada pepatah ‘orang jujur akan hancur’, namun percayalah memang orang jujur akan hancur untuk sementara tetapi akan mulia dan bahagia selamanya.

“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.” (Ams 31:10-12). “Tidak berbuat sepanjang umurnya” inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama, yang berarti kita dipanggil untuk senantiasa berbuat baik, terus-menerus, sepanjang hidup kita. Kami berharap anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibina untuk tidak berbuat jahat dan senantiasa berbuat baik, antara lain dengan teladan konkret para orangtua maupun aneka nasihat, saran dan tuntunan. Ketika anak-anak memiliki kebiasaan berbuat baik, maka kelak kemudian hari mereka akan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang selalu setia pada panggilan, tugas pengutusan maupun pekerjaannya.

“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,” (Mzm 128:1-5)

KEINDAHAN DALAM KESEHARIAN KITA


Mungkin kita merasa bahwa perjalanan hidup kita setiap hari begitu rutin, begitu saja, berubah tanpa bekas atau tidak ada sesuatu yang baru dirasakan. Anaximandros seorang filsuf Yunani pada beberapa abad sebelum Kristus mengatakan: “segala sesuatu adala mengalir”. Inilah kebenaran yang menurut sang filsuf, suatu kebenaran absolut. Ide ini dapat diterima karena memang segala sesuatu terus berubah, “mengalir seperi air” tanpa kita pikirkan atau tidak, tanpa campur tangan atau tidak. Smuanya terus berubah.

Tetapi filsuf lain yang hidup hampir seabad dengannya mengatakan: “segala sesuatu adala konstan. Yang mengalir itu ialah konstan, tetap”. Ide ini juga dapat diterima, bahwa jika segala sesuatu selalu berubah, mau mengatakan bahwa yang terus berubah dan mengalir itu bersifat tetap.

Kita bukan mau mempersoalkan apakah segala sesuatu itu berubah dan selalu tetap tetapi kita ingin mengikuti perjalanan sejarah hidup kita pribadi dan bersama sebagai suatu rahmat, grazia, grace, hadiah cuma-cuma. Dari matahari terbit sampai terbenamnya, dari bangun tidur sampai tidur lagi… semua terus berlanjut sebagai sebuah rutinitas harian, yang kadang membosankn juga.

Tetapi jika kita melihat dan menghayatinya dengan penuh rasa terima kasih kepada segala sesuatu yang tampak bagi kita dan sebagai sesuatu yang memperngaruhi kita, kita akan merasakan bahwa hidup itu sesuatu yang berharga, sesatu yang terus tetap dan berubah, yang di damnya kita bergerak dan hidup. Tanpa sadar atau tidak, rasa atau tidak, semuanya membentuk diri kita, pandagan kita, pikiran kita, rasa kita, opini kita dan seluruh halyang berkaitan dengan hidup kita.

Itulah yang kita sebut dengan keindahan. Keindahan tertemukan di dalam perubahan dan kekonstanan yang kita alam setiap hari. Kita dibentuk oleh perubahan dan kekonstanan itu dan kita juga terlibat dalam proses perubahan dan kekosntanan itu. Di sanalah tertemukan keindahan hidup. Dan jika lebih dalam kita melihat, terdapat suatu kekuatan dasyat yang hadir dalam kedua kekuatan itu. Kedasyatan itu ada dalam diri kita dan juga di luar diri kita. Di dalam diri kita berupa roh penggerak, roh pendorong, roh motivasi, yang terus membakar semangat kita untuk berubah atau bersikap tetap jika tidak dibutuhkan berubah. Di luar diri kita juga terdapat kekuatan lain seperti alam, udara, tanah, air, api, dan lain sebagainya.

Inilah jelmaan dari sang khalik, sang penguasa, sang “budha”, sang “bhahman” atau dalam bahasa religius kita SANG PENCIPTA. Dia begitu kuat hadir dalam diri kita dan dalam lingkungan, dan membuat segala sesuatu menjadi indah, terpesona, terkagum. Sayang bahwa tidak semua ciptaan-Nya menyadari setiap saat. Melihat, memandang dan merasakan hari baru dengan penuh syukur adalah tanda bahwa kita selalu berada dalam waktu yang terus berubah dan akhirnya menjadikan dir kita terpesona bagi maklum ciptaan lain. Membuat diri terpesona, adalah tanda bahwa kita membentuk perubahan dan kekonstanan itu menjadi lebih sempurna, atau paling kurang menuju kepada kesempurnaan itu.

Akhirnya, entah bagaimanapun, kita yang hidup dalam alam yang terus berubah dan konstan, berani melihat keseharian hidup kita sebagai sebuah keindahan yang amat dalam, sebuah rahmat dan grazia atau grace yang besar, yang tidak akan terulang lagi seperti pada saat sebelumnya. Melihat bahwa setiap peristiwa hidup hanya terjadi sekali saja, dan tidak akan terulang lagi. Dan yang sekali itu ialah rahmat keindahan, yang kesemuanya berasal dari Tuhan kita, Pencipta kita. Sykukur dan sembah adalah sikap hati dan budi yang pantas dipersembahkan kepada-Nya.

Selamat menikmati keindahan setiap hari yang kita terima dari SUMBER KEINDAHAN HIDUP KITA.

sergio
Roma, 17 April 2010

Dari “DOMUS MEA, DOMUS ORATIONIS EST” menjadi “DOMUS MEA, DOMUS RISTORANTE”


domus meaPada akhir bulan Juni s/d akhir September 2009, saya berkesempatan mengisi liburan musim panas di Washington DC, USA, sambil ambil kursus intensif Bahasa Inggris. Setiap akhir minggu, hampir selalu ada saudara kapusin di propinsi St. Agustinus Pennsylvania yang membawa saya dan teman-teman lainnya ke tempat wisata atau yang cukup populer di sekitar Pennsylvania.
Dari sekian banyak tempat yang dikunjungi, satu tempat menjadi sulit terlupakan dari ingatan, ketika kami mengunjungi Pittsburg (pusat propinsi Kapusin Pensylvania) untuk mengikuti kaul kekal seorang saudara kapusin di propinsi ini. Bob Toomey (sekretaris propinsi) pada malam 27 Agustus 2009 (malam sebelum acara pesta) mengantar kami ke sebuah gereja yang namanya “Domus Mea, Domus Orationis Est” (Rumahku adalah Rumah Doa) yang didirikan lebih 100 tahun lalu. Pada awalnya, gereja ini didirikan untuk orang-orang Katolik “perantauan” yang tinga di sekitarnya dan juga untuk orang Katolik yang ada di tempat itu. Tetapi sejak awal juga, di lokasi gereja ini terdapat satu “pabrik” anggur terkenal di kota Pittsburg dan juga di semita wilayah Pennsylvania. Tidak heran jika gereja tersebut dinamakan “the Church Brew Works’ Cuisine…. Dining Excellence”. Tetapi sudah sejak lebih 15 tahun lalu, umat yang menjadi anggota gereja tersebut sudah tidak ada lagi (mungkin pindah ke gereja lain atau kembali ke kampung halaman mereka). Dengan rasa kagum yang sangat, kami memandang dari kejauhan di antara remang-remangnya malam yang dihiasi lampu pinggir jalan dan lampu-lampu sekitar gereja. Dengan penuh rasa kekaguman, kamipun beranjak masuk melalui pintu depan. Dengan penjelasan singkat, Sdr. Bob menjelaskan tentang sejarah gereja tersebut, bagian depannya (teras), secara pelan tentang ruang depan (biasanya ruang di mana di atas menaranya terdapat lonceng) dan ketika memasuki bagian dalam (panti imam dan umat), betapa tercenganglah kami semua ketika melihat orang-orang sedang dengan ramainya menikmati hidangan makan malam. Dengan pakaian resmi-formal sampai pada yang “I can see” terpampang jelas di hadapan pandangan kami. Sdr. Alex Naununu memandang suasana bercampur kagum dengan diam seribu bahasa sambil sesekali memandang kearah Bob yang mencoba menjelaskan tentang isi ruangan gereja itu. Sdr. Christian LG dan saya terpesona memandang gambar-gambar jalan salib yang masih tergantung di sekeliling bagian dalam gereja, gambar-gambar kudus, pipe organ besar, meja-meja makan, tempat air kudus di pintu masuk, bangku-bangku gereja yang telah ditata rapi mengelilingi meja makan, dan kamar-kamar pengakuan di samping kiri kanan yang telah diubah menjadi “kedai” untuk pelayanan menu dan teristimewa anggur lezat. Keterpesonaan kami dilengkapi dengan tempat anggur di depan bagian atas dan belakang altar (katanya: itu anggur asli yang memang sangat lezat untuk dinikmati). Penataan ruangan sangat apik dan rapi, tetap seperti ruangan gereja dengan segala perlengkapannya yang seharusnya. Hanya saja, bangku dan kursi telah diubah posisinya seperti di ruangan restoran. Dari ruang tengah kami melihat kesibukan para konsumen yang meminta dan memesan hidangan dari orang yang menjaga di kamar pengakuan. Mereka begitu akrab, penuh dengan senyum manis yang tulus, dan sambil bercanda ria. Mereka nampaknya begitu bahagia dengan situasi yang sedang mereka nikmati bersama.
Dengan agak kecewa, langkah penuh layu dan wajjah tertunduk sedih, kami kembali ke tempat penginapan kami karena waktu telah melewati jam 11 (sebelas) malam. Tidak ada kata dan diskusi hangat di antara kami. Kepada yang lainnya, kami hanya berbisik “aku tidak tenang di dalam gereja itu. Bagaimana mungkin gereja semegah itu seperti Gereja lama di tempat San Padre Pio di San Giovanni Rotondo, diubah menjadi restoran yang terlaris di kota ini”. Sepanjang perjalanan pulang, kami terus memikirkan, bagaimana masa depan Gereja Kristus (dari Gedungnya) jika akhirnya orang menjadikannya sebagai restoran, Bar, Pub, bioskop atau malah tempat untuk tarian telanjang?
Entah bagaimanapun, itulah situasi Gereja yang satu itu. Tetapi paling kurang, itu telah menunjukkan suatu mentalitas dari aliran progresif dan fungsionalisme dalam perkembangan pemikiran manusia. Orang bisa saja berdoa di rumah dan tidak harus di gereja. Untuk apa Gereja, kalau orang tidak mengalami kebahagiaan? Untuk apa Gereja kalau orang-orang yang menjadi anggota saling memperebutkan kekuasaan, saling mencurigai, ladang untuk mencari untung melalui korupsi, sebagai tempat pelarian dari rasa stress? Untuk apa ke Gereja jika setelah bergereja tidak memberikan kedamaian dan keselamatan? Mungkin kita akan mengatakan: “bukan Gereja yang tidak menjamin kedamaian dan keselamatan tetapi justru orang-orang di dalamnya yang menginginkan keselamatan dan kedamaian itu”. Tetapi justru Gereja dibentuk oleh Kristus dalam kesatuan-Nya dengan para Rasul, dan seluruh umat Kristus telah diikat dan disatukan ke dalamnya karena baptisan. Pertanyaan kita ialah: “apakah Gereja yang tidak memberikan kedamaian dan keselamatan, atau orang-orang yanag tidak menginginkan kedamaian dan keselamatan itu”?
Saya tidak banyak memikirkan aspek teologis dan biblis dari situasi di atas. Tetapi saya hanya sekedar bebrbagi apa yang ada dalam hati saya. Dengan melihat situasi seperti itu, terbersit dalam pikiran saya bahwa “gereja ibaratkan sebuah restoran, yang menawarkan kualitas pelayanan dan kualitas dari barang dagangan yang membuat orang tertarik kepadanya”.
Gereja, dalam arti orang-orang yang hidup, pengikut Kristus, seharusnya bersifat terbuka, membuat dirinya menarik kepada banyak orang. Gereja, melalui aktifitas religius, liturgi dan aksi seharusnya tidak sampai pada membuat orang lain yang dari jauh kaggum dan terpesona, tetapi harus sampai membuat orang datang dan masuk ke dalamnya serta mengalami kesungguhan kedamaian dan keselamatan itu. Tempat dan kamar pengakuan yang dijadikan tempat pengambilan pesanan dan pembayaran uang, mungkin bisa mengatakan kepada kita bahwa melalui sakramen-sakramen, kita seharusnya melayani orang dengan penuh setia, dengan senyum, sedikit canda ria, serta taat pada aturan permainan yang ada. Sakramen-sakramen tidak seharusnya membebani umat dan pelayanannya dengan kekakuan yang irrasional tetapi sebaliknya dengan kekakuan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Sering orang Kristen melaksanakan ritus demi ritus itu sendiri dan bukan ritus demi penghayatan akan keselamatan yang darri Allah. Jika ritus demi ritus, maka sakramen dan pelayanan akan dilihat sebagai beban dan sebagai penindasan. Akhirnya orang tidak lagi melihat makna sesungguhnya dari hidup menggereja, tetapi melihat Gereja sebagai sarana untuk mengambil sesuatu untuk kepentingan diri.
Kita tidak hendak bercita-cita mengubah gedung gereja kita menjadi “domus ristorante” tetapi dengan membaca situasi yang sedang berkembang sejak satu dekade yang lalu, kita dipacu untuk senantiasa merefleksikan kembali cara kita menggereja dalam dunia yang penuh dengan gejolak progresifme, sekularisme, fungsionalisme dan bentuk-bentuk –isme lainnya. Tentu kita harus sungguh menjaga tradisi hidup iman dan hidup menggereja kita yang telah teruji dalam perjalanan sejarah. (kunjungi situs ini: http://www.churchbrew.com)

100_7323
Beranda, 22 September 2009
sergio

SIAPAKAH AKU INI MENURUT ENGKAU?


26.07.2009 113Apakah Anda mengenal saya? Apakah saya mengenal Anda? Apakah Anda mengenal anak-anak Anda? Apakah Anda mengenal orangtua Anda? Apakah kita mengenal bersama rekan-rekan kerja yang bekerja dengan kita? Apakah antara Anda dan istri atau suami Anda sudah saling mengenal? Mungkin kita mengatakan, ah…itu adalah pertanyaan konyol yang semestinya tidak pernah ditanyakan. Tetapi justru pertanyaan seperti itu menjadi penting tatkala kita harus sungguh-sungguh mengenal orang ada di sekitar lingkungan kita.
Judul tulisan ini ialah: “siapakah AKU ini menurut engkau?” Tetapi tulisan ini lebih bertujuan melihat salah satu makna dari “pengenalan” akan Tuhan, Yesus. “Pengenalan” akan Yesus berarti juga “pengenalan” akan Allah. Apa persis arti pengenalan yang termuat di dalam bacaan-bacaan Kitab Suci Kristen? Kita ingin serena melihat makna ini dalam sudut pandang yang lebih bebas, dalam arti tafsiran yang lebih bebas.
Kitab Perjanjian Lama melalui nabi Yesaya sedikit memberikan gambaran yang jelas tentang pengenalan itu. Yesaya merasakan, mengimani dan mengenal dengan kualitas yang sangat mendalam bahwa Yahwe tinggal bersamanya, siap menolongnya. Karena itu, meskipun berhadapan dengan musuh-musuh yang siap membunuhnya, Yesaya tetap mengandalkan Tuhan, karena Yesaya mengenal bahwa Yahwe adalah Allah penolong. Pengenalan Yesaya yang mendalam akan Yahwenya membawa dia kepada suatu kesakitan, penderitaan dan kematian. Tetapi Yesaya yakin, bahwa akhir hidupnya di tangan Yahwe. Dia menyerahkan seluruh hidup dan nyawanya untuk Yahwe. Inilah akibat dari sebuah “pengenalan” yang sungguh-sungguh. Kisah tentang pengenalan Yesaya akan Yahwe juga dirasakan dan dialamai oleh para nabi yang lain dalam seluruh karya pewartaan mereka. Karena itu, mengenal berarti “mengerti”. “Mengerti” berarti “mengetahui” dan “mengetahui” berarti juga ikut merasakan dan menyerahkan diri kepada apa yang dikenal, diketahui, dimengerti.
Dalam Perjanjian Baru, melalui rasul Yakobus, juga dilukiskan bagaimana ciri-ciri dari orang yang sungguh mengenal Allah. Hanya satu hal yang ditekankan oleh Yakobus: orang yang mengenal Yesus dan Bapa dengan baik ialah “orang yang sungguh beriman dan mempraktekkan imannya itu dalam perbuatan”. “Iman tanpa perbuatan ialah mati” menjadi ciri utama bagi orang-orang yang menamakan dirinya pengikut Kristus, yang mengenal Kristus secara mendalam.
Nah, bagaimana dengan kata Injil-Injil? Apakah para murid mengenal Yesus? “Apa kata orang tentang Aku”? tanya Yesus kepada para murid. Inilah bentuk pertanyaan yang secara pelan namun pasti, membimbing kepada inti pertanyaan Yesus kepada mereka. Yesus tahu, bahwa para murid sudah lebih 2 tahun hidup bersama Dia, tetapi Yesus sekarang ingin tahu dengan persis, bahwa mereka telah sungguh mengenal Dia. Kalaupun sudah mengenal, pengenalan seperti apakah yang mereka miliki? Mengenal nama? Mengenal latar belakang keluarga dan hidup Yesus sebelumnya? Mengenal sifat dan watak Yesus? Apa maksud Yesus dengan pengenalan itu?
Jawaban Petrus menjadi titik cerah untuk dirinya, untuk para murid lainnya dan untuk Yesus sendiri dan untuk kita: “Engkau adalah Kristus”. Jawaban “Engkau adalah Kristus” adalah sebuah pengakuan iman akan pengenalan yang sangat mendalam. Kristus berarti “yang diurapi dari Allah” dan itu disamakan dengan “Anak Allah” dan juga “Allah sendiri”. Menurut Petrus, Yesus adalah Allah yang Emanuel, yang ada di antara kita. Pengenalan Petrus akan Yesus bukanlah sebatas pengenalan nama, latar belakang, cita-cita, tetapi pengenalan yang merubah seluruh hidupnya untuk menjadi seperti hidup dan pribadi Yesus. Pengenalan Petrus dan para murid lain (kecuali Yudas pengkianat) membawa mereka kepada pengenalan akan Allah hadir di antara mereka, menolong mereka, menyertai mereka, termasuk di saat-saat sulit, termasuk kematian. Dan itulah yang dikatakan Yesus dengan “mengikuti Aku dan memanggul salibnya sendiri”. Mengenal Yesus berarti hidup bersama Dia, mengikuti Dia, mengimani Sabda-Nya, setia kepada Gereja dan menghidupi sakramen-sakramen. Ini adalah salib kita, tetapi sekaligus menjadi tanda bahwa kita sungguh mengenal Dia secara pribadi.
Di sini, kita hanya ingin mencoba merenungkan arti pengenalan akan Allah yang sesungguhnya, berdasarkan sabda Tuhan yang kita dengar hari ini. Pertama: mengenal akan Allah dan Yesus berarti menjadikan hidup kita seperti hidup Yesus. Hidup kita selalu berada dalam rebutan Allah dan iblis. Kita pun tahu bahwa di akhir jaman, Kristus akan sekali lagi bertanya kepada kita masing-masing: “siapakah aku ini menurut Anda?” Pernyataan macam apakah yang akan kita jawab? …..oh…itu kata romomu, guru agamamu? Yesus akan menuntut jawaban kita dan praktek kita (seperti kata rasul Yakobus dlm bacaan kedua) serta menuntut kesetiaan dalam iman seperti yang ditunjukkan oleh nabi Yesaya.
Kedua, entah bagaimanapun, pengenalan kita akan Tuhan, akan Allah, akan Yesus, juga harus mempunyai rembesannya dalam kebersamaan kita setiap hari. Saling mengenal yang baik di antara kita, di antara kelompok kita, di tempat kerja kita, di dalam keluarga kita; akan membantu kita untuk mengembangkan saling percaya, saling menghormati dan saling mencintai yang berkualitas. Mengenal ialah mencintai, memberikan hidup seutuhnya kepada yang dikenal, dan mempercayakan seluruh hidup kepada yang dikenalnya. Inilah pengenalan yang sejati. Kadang ada kisah yang cukup memilukan didengar, bahwa pasangan suami istri yang sudah hidup sekian lama, tetapi kadang mereka tidak mengenal satu sama lain. Mereka hanya hidup bersama tetapi mereka tidak saling mengenal secara mendalam. Masing-masing tetap menjadi misteri bagai yang lain. Ketika ditanyakan oleh pasangannya, “siapakah aku ini menurutmu”, wah… jawabannya hebat dan romantis…, tetapi bagaimana prakteknya? “Engkau kok tetap misteri untukku ya…”? Entahlah. Malah membuat pasangannya menjadi lebih bingung, atau saling bingung…. Dan bertanya dalam hari, “siapakah orang ini untuk aku ya..?” Tetapi mungkin ada juga antara orangtua dan anak yang tidak saling kenal dengan baik. Mungkin orangtua mengenal anak-anaknya tetapi sebatas pada yang biasa-biasa saja, tapi mengenal yang susungguhnya malah tidak…. Sebaliknya, anak-anak juga kadang tidak mengenal orangtua (mungkin karena sibuk sekolah, ga ada waktu untuk saring pengalaman). Dikatakan mengenal, tetapi mereka kadang tidak mematuhi orangtuanya? Apakah arti pengenalan menurut Kitab Suci untuk kita?
Melalui tulisan singkat ini, kita mencoba untuk mengenal teman-teman kita, mengenal partner kerja kita, mengenal anggota keluarga kita (anak, suami, istri) dengan baik dan mendalam serta melakukan sesuatu bagi mereka sebagai tanda bahwa kita mengenal mereka. Karena dengan melakukan demikian, kita juga telah melakukan untuk Yesus, untuk Allah. Dengan itu kita juga akan siap menjawab dengan jawaban yang tepat ketika pada saatnya Yesus bertanya: “siapakah Aku ini menurut Anda”?

Beranda, 13 September 2009
sergio

THE 83rd WORLD MISSION SUNDAY 2009


Ini adalah tulisan yang diupdate dari pesan dan warta paus Benediktus XVI pada hari Minggu Misi ke-83, beberapa minggu lalu di tahun 2009 ini. Selamat menikmatinya…

“The nations will walk in its light” (Rev 21:24) On this Sunday, dedicated to the missions, I turn first of all to you, my brothers in the episcopal and the priestly ministry, and then to you, my brothers and sisters, the whole People of God, to encourage in each one of you a deeper awareness of Christ’s missionary mandate to “make disciples of all peoples” (Mt 28:19), in the footsteps of Saint Paul, the Apostle of the nations. “The nations will walk in its light” (Rev 21:24). The goal of the Church’s mission is to illumine all peoples with the light of the Gospel as they journey through history towards God, so that in Him they may reach their full potential and fulfilment. We should have a longing and a passion to illumine all peoples with the light of Christ that shines on the face of the Church, so that all may be gathered into the one human family, under God’s loving fatherhood. It is in this perspective that the disciples of Christ spread throughout the world work, struggle and groan under the burden of suffering, offering their very lives. I strongly reiterate what was so frequently affirmed by my venerable Predecessors: the Church works not to extend her power or assert her dominion, but to lead all people to Christ, the salvation of the world. We seek only to place ourselves at the service of all humanity, especially the suffering and the excluded, because we believe that “the effort to proclaim the Gospel to the people of today… is a service rendered to the Christian community and also to the whole of humanity” (Evangelii Nuntiandi, 1), which “has experienced marvellous achievements but which seems to have lost its sense of ultimate realities and of existence itself” (Redemptoris Missio, 2).

1. All Peoples are called to salvation – In truth, the whole of humanity has the radical vocation to return to its source, to return to God, since in Him alone can it find fulfilment through the restoration of all things in Christ. Dispersion, multiplicity, conflict and enmity will be healed and reconciled through the blood of the Cross and led back to unity. This new beginning can already be seen in the resurrection and exaltation of Christ, who draws all things to himself, renewing them and enabling them to share in the eternal joy of God. The future of the new creation is already shining in our world and, despite contradictions and suffering, it enkindles hope for new life. The Church’s mission is to spread hope “contagiously” among all peoples. This is why Christ calls, justifies, sanctifies and sends his disciples to proclaim the Kingdom of God, so that all nations may become the People of God. It is only in this mission that the true journey of humanity is understood and attested. The universal mission should become a fundamental constant in the life of the Church. Proclamation of the Gospel must be for us, as it was for the Apostle Paul, a primary and unavoidable duty.

2. The Pilgrim Church – The universal Church, which knows neither borders nor frontiers, is aware of her responsibility to proclaim the Gospel to entire peoples (cf. Evangelii Nuntiandi, 53). It is the duty of the Church, called to be a seed of hope, to continue Christ’s service in the world. The measure of her mission and service is not material or even spiritual needs limited to the sphere of temporal existence, but instead, it is transcendent salvation, fulfilled in the Kingdom of God (cf. Evangelii Nuntiandi, 27). This Kingdom, although ultimately eschatological and not of this world (cfr Jn 18:36), is also in this world and within its history a force for justice and peace, for true freedom and respect for the dignity of every human person. The Church wishes to transform the world through the proclamation of the Gospel of love, “that can always illuminate a world grown dim and give us the courage needed to keep living and working … and in this way … cause the light of God to enter into the world” (Deus Caritas Est, 39). With this message I renew my invitation to all the members and institutions of the Church to participate in this mission and this service.

3. Missio ad gentes – The mission of the Church, therefore, is to call all peoples to the salvation accomplished by God through his incarnate Son. It is therefore necessary to renew our commitment to proclaiming the Gospel which is a leaven of freedom and progress, brotherhood, unity and peace (cf. Ad Gentes, 8). I would “confirm once more that the task of evangelizing all people constitutes the essential mission of the Church” (Evangelii Nuntiandi, 14), a duty and a mission which the widespread and profound changes in present-day society render ever more urgent. At stake is the eternal salvation of persons, the goal and the fulfilment of human history and the universe. Animated and inspired by the Apostle of the nations, we must realize that God has many people in all the cities visited by the apostles of today (cfr Acts 18:10). In fact “the promise is to you and to your children and to all that are far off, every one whom the Lord our God calls to him” (Acts 2:39). The whole Church must be committed to the missio ad gentes, until the salvific sovereignty of Christ is fully accomplished: “At present, it is true, we are not able to see that all things are in subjection to him” (Heb 2:8).

4. Called to evangelize even through martyrdom – On this day dedicated to the missions, I recall in prayer those who have consecrated their lives exclusively to the work of evangelization. I mention especially the local Churches and the men and women missionaries who bear witness to and spread the Kingdom of God in situations of persecution, subjected to forms of oppression ranging from social discrimination to prison, torture and death. Even today, not a few are put to death for the sake of his “Name”. The words of my venerable Predecessor, Pope John Paul II, continue to speak powerfully to us: “The Jubilee remembrance has presented us with a surprising vista, showing us that our own time is particularly prolific in witnesses, who in different ways were able to live the Gospel in the midst of hostility and persecution, often to the point of the supreme test of shedding their blood” (Novo Millennio Ineunte, 41). Participation in the mission of Christ is also granted to those who preach the Gospel, for whom is reserved the same destiny as their Master. “Remember the words I said to you: A servant is not greater than his master. If they persecuted me, they will persecute you too” (Jn 15:20). The Church walks the same path and suffers the same destiny as Christ, since she acts not on the basis of any human logic or relying on her own strength, but instead she follows the way of the Cross, becoming, in filial obedience to the Father, a witness and a travelling companion for all humanity. I remind Churches of ancient foundation and those that are more recent that the Lord has sent them to be the salt of the earth and the light of the world, and he has called them to spread Christ, the Light of the nations, to the far corners of the earth. They must make the Missio ad gentes a pastoral priority. I am grateful to the Pontifical Mission Societies and I encourage them in their indispensable service of promoting missionary animation and formation, as well as channelling material help to young Churches. Through these Pontifical Institutions, communion among the Churches is admirably achieved via the exchange of gifts, reciprocal concern and shared missionary endeavours.

5. Conclusion – Missionary zeal has always been a sign of the vitality of our Churches (cf. Redemptoris Missio, 2). Nevertheless it must be reaffirmed that evangelization is primarily the work of the Spirit; before being action, it is witness and irradiation of the light of Christ (cf. Redemptoris Missio, 26) on the part of the local Church, which sends men and women beyond her frontiers as missionaries. I therefore ask all Catholics to pray to the Holy Spirit for an increase in the Church’s passion for her mission to spread the Kingdom of God and to support missionaries and Christian communities involved in mission, in the front line, often in situations of hostility and persecution. At the same time I ask everyone, as a credible sign of communion among the Churches, to offer financial assistance, especially in these times of crisis affecting all humanity, to enable the young local Churches to illuminate the nations with the Gospel of charity. May we be guided in our missionary activity by the Blessed Virgin Mary, Star of New Evangelization, who brought Christ into the world to be the light of the nations and to carry salvation “to the ends of the earth” (Acts 13:47).

To all I impart my Blessing.
From the Vatican, 29 June 2009

+ BENEDICTUS PP. XVI –

Beranda, 10 September 2009
sergio