EKLEKTISISME KURIKULUM 2013


Ketika membolak balik tulisan opini di Kompas Cetak.com, saya menemukan artikel bagus tentang pendidikan di Indonesia terutama diskursus mengenai pro kontra kurikulum baru 2013, tulisan sdr. Doni Kusuma. Semoga tulisan ini bisa mencerahkan kita dalam menyikapi program pemerintah tentang kurikulum 2013.

Selamat membaca

Sebagai orang yang pernah studi khuGambarsus tentang kurikulum dan pengajaran, membaca kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam Kurikulum 2013 saya seperti mengikuti sebuah alur perjalanan pendidikan yang aneh.

Nalar saya tak dapat memahami dan daya imajinasi saya tidak dapat membayangkan seperti apa praktek pembelajaran Kurikulum 2013 ini di kelas, bagaimana sistem evaluasinya, dan betapa sibuknya guru karena bingung menerapkan Kurikulum 2013 di kelas. Saya coba menemukan di mana letak keanehan dan kecanggungan ini. Akhirnya saya menemukan satu penjelasan resmi tentang mengapa Kurikulum 2013 memang terasa aneh, di mana kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) sepertinya dipaksa-paksakan. Alasan ini ada dalam pilihan filsafat yang melandasi Kurikulum 2013, yaitu filsafat eklektisisme!

Dalam buku penjelasan tentang KI dan KD untuk sekolah dasar tertulis, “filosofi yang dianut dalam kurikulum adalah eklektik”. Selain menyebut kehadiran filsafat eklektik, aliran filsafat lain juga disebutkan, seperti perenialisme, esensialisme, humanisme, progresifisme, dan rekonstruktifisme sosial.

Karena filosofi yang dianut dalam kurikulum adalah eklektik, seperti dikemukakan di bagian landasan filosofi, nama mata pelajaran dan isi mata pelajaran untuk kurikulum yang akan dikembangkan tidak perlu terikat pada kaidah filosofi esensialisme dan perenialisme.

Saya yakin, kalau kita tanya kepada para guru tentang aliran-aliran filsafat yang disebutkan dalam penjelasan KI dan KD Kurikulum 2013, dapat dipastikan mereka tidak banyak tahu tentang aliran-aliran filsafat itu. Jadi, penyebutan berbagai macam aliran filsafat di atas tidak akan memiliki banyak arti bagi guru karena mereka sebagian jarang berurusan dengan pemikiran filosofis seperti di atas.

Arus pemikiran pendidikan
Filsafat pendidikan perenialisme atau tradisionalisme pada intinya ingin mengatakan bahwa prinsip-prinsip pendidikan yang fundamental, yang ada sekarang ini, sesungguhnya telah ada dari dulu. Prinsip ini berlaku sepanjang masa—di mana pun dan kapan pun—sebab telah teruji keampuhannya bagi peradaban umat manusia.

Maka, tugas pendidikan mewariskan prinsip-prinsip dasar pendidikan dan nilai-nilai kebajikan yang berlaku universal kepada generasi kini dan yang akan datang agar mereka dapat hidup secara bermartabat. Fakta-fakta akan berubah, tetapi prinsip pendidikan tetap. Inilah yang harus diajarkan di sekolah.

Filsafat pendidikan esensialis sebaliknya, yakni ingin mengajarkan hal-hal yang mendasar, tetapi tak fundamental, melainkan esensial yang dibutuhkan peserta didik, berupa pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan agar mereka bisa hidup di dunia nyata. Filsafat ini tidak mengutamakan isi pengetahuan, tetapi mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan. Dengan keterampilan ini, siswa dapat hidup di masyarakat.

Filsafat humanisme merupakan gerakan filsafat yang muncul pada abad ke-14. Filsafat ini ingin mengembalikan dimensi manusia ideal yang ada dalam sastra klasik, di mana pembelajaran kebudayaan dan bahasa klasik jadi salah satu sarana untuk sampai pada pembentukan manusia ideal. Filsafat humanisme dalam pendidikan tetap mengutamakan materi, program, guru, dan metode pembelajaran sebagai bagian utama pendidikan.

Adapun filsafat pendidikan progresif merupakan satu pendekatan yang menentang ketiga aliran di atas. Filsafat progresif, yang mulai muncul abad ke-19 dengan tokoh antara lain John Dewey, Ovide Decroly, dan Maria Montessori. Pendekatan ini oleh Dewey disebut sebagai Revolusi Kopernikan dalam pedagogi. Pusat pedagogi tradisional, seperti dalam perenialisme, humanisme, dan esensialisme adalah program studi, guru, disiplin ilmu, dan metode. Dalam pedagogi pendidikan baru ini terjadi perubahan pusat gravitasi, yaitu pada siswa.

Filsafat pendidikan progresif, sering kali disebut juga dengan belajar melalui pengalaman langsung, tidak jarang menuai kritik karena pendekatannya yang terlalu berpusat pada anak sehingga melepaskan konteks hidup anak di masyarakat. Ia juga melulu mengorientasikan pendidikan pada apa yang dibutuhkan anak.

Padahal, masyarakat akan menjadi lebih baik kalau kita juga mempersiapkan peserta didik agar mampu memperbarui tatanan masyarakat yang ada menjadi lebih baik. Inilah garis besar filsafat pendidikan sosial rekonstruksionisme.

Filsafat pendidikan ini ingin mengatakan bahwa masyarakat yang ada sekarang berada dalam keadaan krisis sehingga model pendidikan mestinya melahirkan generasi pembaru sejarah. Suatu generasi yang mampu melahirkan individu guna mengubah tatanan masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan kekuatan kehendaknya. Kita tak cukup sekadar membentuk individu jadi seorang yang cerdas dan berakhlak mulia, tetapi juga seorang yang peduli, mau, dan mampu mengubah tatanan masyarakat yang ada sekarang ini menjadi lebih baik, lebih adil, lebih manusiawi, dan layak huni.

Kelemahan eklektisisme

Filsafat eklektik pada hakikatnya adalah ingin memilih yang terbaik dari banyak pendekatan. Istilah ini secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu eklektikos, yang artinya memilih atau menyeleksi. Eklektik adalah menggabungkan hal-hal yang berbeda, yang sebenarnya tidak cocok satu sama lain, jadi satu mosaik tersendiri. Pendekatan tidak melihat bahwa hal-hal yang dipilih itu secara natural, fundamental, cocok dan dapat diintegrasikan, tetapi sekadar menggabung-gabungkan apa yang baik menjadi satu kesatuan. Karena itu, pendekatan eklektik sering kali dianggap sebagai pendekatan yang tidak elegan, gabungan kompleks yang tidak jelas, jauh dari kesederhanaan berpikir secara nalar, serta sering kali dianggap tidak memiliki konsistensi dalam pemikiran.

Inkonsistensi pemikiran dan pemaksaan sebuah ide dalam sebuah sistem besar Kurikulum 2013 adalah sebuah keniscayaan karena pilihan pendesainnya bertumpu pada filsafat eklektik. Karena itu, tidak heran ketika bunyi salah satu butir KD dalam matematika adalah seperti ini: “Menunjukkan perilaku patuh, tertib, dan mengikuti aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan sesuai secara efektif dengan memerhatikan nilai tempat ratusan, puluhan, dan satuan.” Inilah integrasi antara pendidikan karakter dan matematika!

Kerancuan pemikiran filosofis dalam pendidikan, terutama saat mendesain kurikulum, akan berdampak besar pada proses pembelajaran dan pengajaran, sistem evaluasi, serta tercapai atau tidaknya proses pembelajaran seperti yang dipaparkan dalam KD dan KI. Kita pasti tidak rela bila uang rakyat yang besarnya Rp 2,4 triliun itu dipergunakan untuk sebuah perubahan kurikulum yang digagas dalam ketergesaan, di mana potensi gagalnya lebih besar daripada berhasilnya.

Pilihan filsafat eklektik tak lain adalah wujud kemalasan berpikir, simplifikasi persoalan, dan pilihan jalan pintas paling gampang. Filsafat eklektik dapat jadi jalan pintas rasionalisasi dan menghindar dari tanggung jawab ketika terjadi berbagai macam persoalan; mulai dari pilihan materi pengajaran, metode, sistem evaluasi, bahkan gagal dalam eksekusinya. Sebab, semua hal bisa dijustifikasi dan dirasionalisasi melalui pendekatan eklektik!

Doni Koesoema A

Pemerhati Pendidikan

Sumber tulisan: Kompas 5 April 2013, hal. 7

PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI UNTUK MASA PRAPASKAH 2013


1.       Kata Pengantar

Saudara/i yang terkasih,

Perayaan Paskah, dalam konteks Tahun Iman, menawarkan kepada kita sebuah kesempatan istimewa untuk memeditasikan tentang relasi antara iman dan kasih: antara percaya dalam Tuhan, dalam Tuhan Yesus Kristus, serta dalam cinta, yang adalah buah dari tindakan Roh Kudus dan membimbing kita dalam perjalanan menuju pendedikasian diri kepada Allah dan sesama.

 

2.      Iman sebagai Jawaban kepada Cinta Allah

Dalam Ensiklik yang pertama, saya telah menawarkan beberapa elemen untuk mengumpulkan keterkaitan secara erat antara dua keutamaan teologal ini, iman dan kasih. Berangkat dari penegasan fundamental Rasul Yohanes: “Kita telah mengakui dan percaya cinta Allah dalam diri kita” (1Yoh. 4:16), mengingatkan bahwa “ketika mulai berada sebagai orang Kristen tidak ada sebuah keputusan etis atau ide yang besar, melainkan perjumpaan dengan sebuah kedatangan, dengan sebuah horizon dan dengan keputusan terarah … Seperti Allah yang telah mencintai kita sejak semula (1 Yoh 4:10), sekarang cinta tidak lebih sebuah ‘perintah’, tetapi adalah jawaban kepada pemberian cinta, dengan mana Allah datang berjumpa dengan kita” (Deus caritas est, 1). Iman membangun komitmen pribadi – yang merangkum semua kemampuan-kemampuan kita – kepada pewahyuan tentang cinta kasih cuma-cuma dan “menghidupkan” bahwa Allah memiliki kita dan memanifestasikan diri secara penuh dalam Yesus Kristus. Perjumpaan dengan Cinta Allah, yang memanggil tidak hanya dengan hati, tetapi juga intelek: “Pengakuan tentang Allah yang hidup adalah sebuah jalan menuju cinta, dan peng– ia–an dari kehendak kita kepada kesatuan intelek, kehendak dan perasaannya dalam tindakan yang total dengan cinta. Oleh karena itu, ini adalah sebuah proses yang berjalan secara terus menerus: “cinta yang tidak pernah ‘tersimpulkan’ dan terkompletkan” (Ibid., 17). Dari sini datanglah kepada seluruh orang Kristen dan, secara khusus, kepada ‘para pekerja kasih’, kebutuhan akan iman, yang mana “bertemu dengan Allah dalam Yesus Kristus yang mengilhami dalam cinta mereka dan membuka jiwa mereka kepada yang lain, begitulah bahwa cinta mereka kemudian tidak lebih dari suatu perintah yang diatur untuk mengatakan dari luar tetapi sebuah konsekuen yang datang dari iman mereka yang menjadi karya dalam cinta” (ibid., 31a). Seorang kristen adalah seorang pribadi yang ditaklukan dari cinta Kristus dan karena itu, keterharuan dari cinta ini, “caritas Christi urget nos” (2Cor 5,14)-, adalah terbuka dalam bentuk yang lebih dalam dan konkret kepada cinta untuk yang akan datang (cfr. Ibid., 33). Sikap demikian lahir terutama dari kesadaran untuk dicintai, dimaafkan, terlebih lagi dilayani oleh Tuhan, yang membungkuk untuk membasuh kaki para rasul dan menyerahkan diri-Nya sendiri di salib untuk menarik manusia kepada Allah.

“Iman menawarkan kepada kita Allah yang telah memberikan Anak-Nya untuk kita dan mengilhami dalam diri kita kemenangan pasti yang adalah benar: Allah adalah cinta! … Iman, yang dinyatakan dalam cinta Allah telah menyatakan dalam hati Kristus tersalib, dibangkitkan dalam wajah-Nya yang mencintai. Dia adalah terang – dalam dasar keunikan – yang menerangi selalu secara baru sebuah dunia yang gelap dan memberikan kepada kita keberanian untuk hidup dan bertindak” (ibid., 39). Semua itu membuat kita mengerti bagaimana sikap dasar yang dibedakan orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh “cinta yang didasarkan pada iman dan darinya dibentuk” (ibid., 7).

 

3.      Kasih sebagai Hidup Iman

Seluruh hidup kekristenan adalah sebuah jawaban cinta Allah. Jawaban pertama adalah iman sebagai penerimaan yang penuh untuk kekaguman dan rasa syukur dari sebuah inisiatif yang keterlaluan keallahan yang mendahului dan mendesak kita. Dan “ya” keimanan menandakan awal dari sebuah sejarah yang bercahaya tentang persahabatan dengan Allah, yang memenuhi dan memberikan arti penuh kepada seluruh eksistensi kita. Karena itu Allah tidak puas bahwa kita menerima cintanya secara gratis. Dia tidak membatasi diri dalam mencintai kita, tetapi Dia ingin menarik kita kepada Diri-Nya sendiri, mentrasformasikan diri kita dalam bentuk yang begitu mendalam untuk membawa kita dan mengatakan seperti Santo Paulus: “bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristuslah yang hidup di dalam Aku” (Gal 2,20).

Ketika kita meninggalkan jarak kepada cinta Allah, kita menjadi serupa dengan Dia, berpartisipasi dalam kasih-Nya. Kita membuka diri kita kepada cinta-Nya berarti meninggalkan bahwa Dia hidup di dalam kita dan membawa kita untuk mencintai Dia, dalam Dia dan seperti Dia; hanya iman kitalah menjadi sungguh-sungguh “berkarya melalui kasih” (Gal 5,6) dan Dia mengambil tempat di dalam kita (cfr. Gv 4,12).

Iman adalah mengetahui kebenaran dan mengikutkan kalian (1 Tim 2,4); belas kasih adalah “berjalan”dalam kebenaran (cfr. Ef 4,15). Dengan iman, di masukan ke dalam persahabatan dengan Allah; dengan belas kasih dihidupi dan dirangkul persahabatan ini (cfr. Gv 15,14s). Iman menjadikan kita mengumpulkan perintah Allah dan Guru; belas kasih menghadiahkan kepada kita kebahagiaan untuk meletakkannya dalam praktek (cfr. Gv 13,13-17). Dalam iman, kita diperanakkan sebagai anak-anak Allah (cfr. Gv 1,12s); belas kasih menjadikan kita berharap akan penyelenggaraan secara konkret  dalam peranakan ilahi, membawa buah Roh Kudus (cfr. Gal 5,22). Iman membuat kita mengakui pemberian-pemberian Allah yang baik yang meyakinkan kita; belas kasih menjadikan mereka berbuah (cfr. Mt 25,14-30).

 

4.      Ketidakterpisahan Jalinan antara Iman dan Kasih.

Dalam terang apa yang telah dikatakan di atas, disimpulkan dengan jelas bahwa kita tidak pernah dapat memisahkan, dan lagi, mempertentangkan iman dan kasih. Dua keutamaan teologal ini secara intim disatukan dan merupakan menyesatkan untuk melihat keduanya sebagai suatu pertentangan atau sebuah “dialektika”. Dari satu sisi, itu adalah sikap yang terbatas dari siapa yang meletakkan dalam bentuk yang begitu kuat tekanan pada prioritas dan menentukan tentang iman dari evaluasi dan hampir membenci karya-karya konkret tentang kasih dan mereduksikan ini pada umanitarianisme umum. Tetapi dari sisi lain, sikap yang terbatas mempertahankan sebuah supremasi yang berlebihan tentang kasih dan karyanya, memikirkan bahwa karya-karya mengambil tempat iman. Untuk sebuah hidup spiritual yang sehat, perlu menghindari baik dari fideisme maupun dari aktivisme moral.

Keberadaan kekristenan terdiri atas sebuah pendakian ke gunung yang terus-menerus bertemu dengan Tuhan dan selanjutnya turun kembali, membawa cinta dan kekuatan yang datang dari padanya, dalam bentuk untuk melayani para saudara dan saudari kita dengan cinta Tuhan yang sama. Dalam Tulisan Suci kita melihat seperti semangat dari para Rasul untuk mewartakan Injil yang membangkitkan iman yang secara sempit dihubungkan pada kebelaskasihan yang pertama tentang pelayanan kepada orang-orang miskin (cfr KisRas 6,1-4). Di dalam Gereja, kontemplasi dan aksi disimbolkan dalam bentuk tertentu dari figur pewartaan Maria dan Marta, yang harus ada dan terintegrasi (cfr. Luk 10,38-42). Prioritas selalu berhubungan dengan Allah dan sharing pengalaman injili yang benar harus mengakarkan dirinya dalam iman (cfr. Katekese kepada Pendengar Umum) pada 25 April 2012. Sering juga cenderung, pada seputar batasan “kasih” kepada solidaritas atau kepada pertolongan kemanusian yang sederhana. Adalah penting mengingat bahwa karya yang maksimal tentang kasih adalah penginjilan yang sungguh-sungguh, yaitu “Pelayanan Sabda”. Tidak terdapat tindakan yang lebih baik, dan begitu berbelas kasih, menuju masa depan yang memecahkan roti Sabda Allah, sadar berpartisipasi pada Kabar Baik Injil, memasukannya dalam hubungan dengan Allah: penginjilan adalah promosi yang lebih tinggi dan integral tentang pribadi manusia. Seperti tertulis Hamba Allah Paus Paulus VI dalam Ensiklik Populorum Progressio, adalah pewartaan tentang Kristus yang pertama dan faktor utama perkembangan (cfr. n. 16). Adalah keoriginalitas kebenaran cinta Allah untuk kita, dihidupi dan diwartakan, yang membuka eksistensi kita kepada penerimaan cinta ini dan memungkinkan perkembangan integral kemanusiaan dan setiap manusia (cfr. Ensiklik Caritas in Viritate, 89).

Secara substansi, semua ambil bagian dari cinta dan terarah kepada cinta. Cinta cuma-Cuma dari Allah meninggalkan catatan bagi kita melalui pewartaan Injil. Jika kita menerimanya dengan iman, kita menerima kontak pertama dan tidak dapat dipikirkan dengan kemampuan keallahan untuk membuat kita “jatuh CINTA”, untuk kita dimorare dan bertumbuh dalam CINTA ini dan mengkomunikasikan itu dengan gembira kepada yang lain.

Dalam proposito tentang hubungan antara iman dan karya kasih, sebuah ekspresi dari Surat Paulus kepada jemaat di Efesus, menyimpulkan dalam bentuk yang lebih baik korelasi mereka: “demi rahmat kalian telah diselamatkan melalui iman; dan itu tidak datang dari kalian, tetapi adalah hadiah Allah; baik itu yang datang dari karya, karena tidak seorang pun dapat membanggakannya. Kita adalah karyanya, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk karya-karya yang baik, yang Tuhan siapkan karena dalam dia kita berjalan” (2,8-10). Diperkirakan di sini bahwa semua inisiatif, selama membatasi kebebasan kita dan tanggung jawab kita, menyadarkan keotentikannya dan mengorientasikannya kepada karya kasih. Ini semua adalah buah yang secara prinsip dari kekuatan manusia, dari kebanggaan, tetapi tersembunyi dalam iman yang sama. Aliran dari Rahmat yang besar yang Tuhan tawarkan. Sebuah iman tanpa karya adalah seperti pohon tanpa buah: dua keutamaan ini terimplikasi secara resiprokal. Masa Prapaskah mengundang kita, dengan indikasi-indikasi tradisional untuk kehidupan kristen, untuk menambahkan iman melalui sebuah pendengaran yang lebih mendalam dan diperpanjang dengan Sabda Allah dan partisipasi kepada Sakramen-sakramen, dan, dalam saat yang sama, untuk bertumbuh dalam kasih, dalam cinta menuju Allah dan menuju masa depan, juga melalui indikasi-indikasi konkret tentang puasa, dengan penitensi dan tentang amal.

 

5.      Prioritas Iman, yang Pertama Kasih

Seperti setiap pemberian Allah, iman dan kasih  memimpin kepada tindakan yang unik dan medesimo Roh Kudus (cfr. 1 Kor 13), di mana Roh yang dalam kita berteriak “Abbà! Bapa” (Gal 4,6), dan yang mengatakan kepada kita: “Gesus adalah Tuhan!” (1 Kor 12,3) dan “Maranatha”! (1 Kor 16,22; Ap 22,20).

Iman, pemberian dan jawaban membuat kita mengetahui kebenaran tentang Kristus sebagai CINTA yang terinkarnasi dan tersalib, penuh dan kesempurnaan yang taat kepada kehendak Bapa dan kemurahan keallahan yang tidak terbatas menuju masa depan; iman radikal dalam hati dan dalam pikiran keyakinan kuat bahwa inilah CINTA adalah realitas kemenangan yang unik pada kejahatan dan kematian. Iman mengundang kita untuk melihat  pengharapan, dalam penantian dengan penuh yakin bahwa kemenangan tentang Cinta Kristus bertambah pada kepenuhan-Nya. Dari pihaknya, kasih membuat kita masuk dalam cinta Allah yang termanifestasi di dalam Kristus, membuat kita ikut dalam bentuk personal dan eksistensial untuk memberi diri yang total dan tanpa  syarat kepada Yesus kepada Bapa dan kepada para saudara. Menanamkan  kasih dalam diri kita, Roh Kudus menyadarkan kita untuk berpartisipasi dalam dedikasi Kristus: memperanakkan menuju Allah dan persaudaraan menuju manusia (cfr. Rm 5,5).

Hubungan yang eksis antara dua keutamaan ini adalah analogi pada apa yang antara dua Sakramen  Gereja mendasar: Pembaptisan dan Ekaristi. Pembaptisan (sakramentum fidei) mendahului Ekaristi (sakramentum caritatis), tetapi diarahkan kepadanya, yang membangun kepenuhan perjalanan kekristenan. Dalam bentuk analogi, iman mendahului kasih, tetapi dinyatakan asli hanya jika dimahkotai dari dia. Semua bagian dari penerimaan yang rendah hati dari iman (“tahu dicintai oleh Allah”, tetapi harus menambahkan pada kebenaran kasih (“tahu mencintai Allah dan masa depannya”), yang tinggal selalu, sebagai kesempurnaan) dari semua keutamaan.

Saudara-saudara terkasih, dalam masa Prapaskah ini di mana kita mempersiapkan diri kita untuk merayakan peristiwa Salib dan Kebangkitan, dalam mana CINTA ALLAH telah membebaskan dunia dan menerangi sejarah, saya mengucapkan selamat kepada kalian untuk menghidupi masa yang begitu hikmat dalam memulai kembali iman dalam Kristus Yesus, untuk masuk dalam lingkaran cinta-Nya menuju Bapa dan menuju setiap saudara dan saudari yang kita jumpai dalam hidup kita. Untuk ini saya menekuni doa saya kepada Allah, sementara saya meminta kepada masing-masing dan pada setiap komunitas Berkat Tuhan!

 Vatikan, 15 Oktober 2012

diterjemahkan secara bebas oleh Sergius Lay.

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN


(tulisan ini disadur dari koran kompas.com hari senin 2 juli 2012). http://edukasi.kompas.com/read/2012/07/02/09463238/Pendidikan.yang.Membebaskan

Sudah berapa puluh kali Kompas dan media massa lain mengabarkan kehebatan sosok-sosok pembaru yang cerdas dan berdedikasi tinggi di bidang pendidikan.

Kompas (4/6/2012), misalnya, menggambarkan sosok Suyudi, sukarelawan yang mendirikan sekolah alam di Klaten. Anak didik tidak diperlakukan sebagai obyek, namun subyek yang turut menentukan nasibnya sendiri. Melalui sekolah alam, ia ingin menunjukkan bahwa pendidikan yang sesungguhnya adalah memperlakukan anak agar menjadi manusia yang utuh. Tidak sekadar menjejalkan aneka informasi dan ilmu, tetapi juga bagaimana mengajak anak didik menemukan dirinya.

Dalam bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan. Sekolah alam ala Suyudi, dan yang bertebaran di tempat lain, ingin mengoreksi sistem pembelajaran terutama di tingkat dasar dan menengah yang cenderung satu arah. Pendidikan pada dasarnya adalah upaya penanaman sikap hidup, pandangan hidup, nilai-nilai tentang kehidupan, dan keterampilan hidup.

Pertanyaannya, kalau seorang Suyudi saja bisa mengembangkan pendidikan yang kreatif dan menyenangkan seperti ini, mengapa pemerintah tidak mengembangkannya juga? Yang terjadi di dunia persekolahan formal kita adalah suasana stres karena anak-anak dikejar ketuntasan pelajaran yang membosankan, yang tidak terkait dengan kebutuhan dan realitas keseharian, serta ujian nasional yang menekan saraf psikologisnya.

Dunia pendidikan harus menciptakan peluang bagi pembudayaan individu agar kapasitasnya berkembang, demikian pakar-pakar seperti Bertrand Russell, Paulo Freire, Ivan Illich, Montessori, Neil Postman, Ki Hadjar Dewantara, Moch Sjafei, dan Dewi Sartika. Mereka berbicara tentang pendidikan dari kacamata yang berbeda dan luas, terutama berkaitan dengan ”pemerdekaan” dari ”kebudayaan bisu”.

Dalam teori konflik, tampak bahwa peran sekolah disadari atau tidak juga melegitimasi dominasi elite sosial, bahkan sekolah merupakan bagian dari kepentingan masyarakat untuk mempertahankan struktur sosial, stratifikasi sosial, dan melayani kelas sosial tertentu. Dapat dipahami jika kelompok masyarakat miskin adalah pihak yang paling susah mengikuti irama pendidikan.

Perkembangan berbeda

Meski penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa rata-rata IQ bayi berumur kurang dari dua tahun tak berbeda signifikan, faktor-faktor ketika anak berangkat besar, seperti kekurangan gizi dan sarana pendidikan, membuat anak dari golongan miskin jauh tertinggal. Orang kaya sanggup ”menghadirkan” sekolah di rumah: ada guru les piano, komputer, dan seterusnya.

Umumnya, anak-anak orang miskin bersekolah di lingkungan kumuh, terbelakang, dan akrab dengan kekerasan. Lingkungan yang tidak ramah ataupun rasa percaya diri yang rendah menjadikan anak miskin cenderung agresif, mudah terprovokasi, dan mudah tersinggung.

Relevansi sekolah alam ala Suyudi juga terkait dengan meredupnya pamor IQ sebagai salah satu ukuran kecerdasan. Mengutip David Brooks dalam The Waning of IQ, Ninok Leksono (Kompas, 19/9/2007) menulis: ”Sementara psikometrika menawarkan daya tarik semu fakta obyektif, sains baru membawa kita kembali ke dalam kontak dengan sastra, sejarah, dan kemanusiaan, dan—pada akhirnya—ke keunikan individu”.

Banyak orang yang tinggi IQ-nya tetapi tidak sukses meniti karier, bahkan untuk sekadar bergaul. Buku Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, Howard Gardner (Basic Books, 1983) menyebut ada tujuh macam kecerdasan.

Kecerdasan-kecerdasan itu adalah 1. kecerdasan linguistik (kecakapan dan kepekaan terhadap arti dan tata kata); 2. Kecerdasan logika-matematika; 3. Kecerdasan musikal (untuk memahami dan mencipta musik); 4. Kecerdasan spasial (kecerdasan berpikir dalam gambar atau visual); 5. Kecerdasan tubuh-kinestetik (keterampilan olah tubuh untuk berekspresi seperti penari, olahragawan); 6. Kecerdasan antarpribadi atau interpersonal, yakni kecakapan untuk memahami individu lain; serta 7. Kecerdasan intrapersonal, yakni kecakapan untuk memahami diri dan menggunakan pengalamannya untuk membimbing orang lain. Masih ada kecerdasan lain, yaitu kepemimpinan edukasional.

Dalam proses tersebut semestinya semua aspek pendidikan dikaji secara kritis sehingga menghasilkan suatu bentuk sekolah yang merupakan ajang interaksi berbagai latar belakang masyarakat untuk saling memahami dalam suasana kesetaraan, keadilan, dan penghormatan. Sekolah menjadi bangunan budaya dalam arti luas.

Gagasan pendidikan multikultural ini sangat menarik jika dikaitkan dengan negeri multietnis seperti Indonesia. Sebagaimana disinggung Huntington sebelumnya, masalah integrasi nasional menjadi persoalan serius bagi negara yang baru merdeka dengan multietnis-nya.

Saat ini tugas mendidik anak diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Kalau anaknya tidak berhasil dalam menempuh kehidupan, sadar atau tidak, pihak sekolah yang disalahkan. Padahal orangtua yang sibuk mengejar karier. Kenyataan ini merupakan buah kehidupan keluarga pada zaman modern. Ini yang banyak mendatangkan stres, terutama bagi anak-anak, karena perubahan pola kerja orangtua.

Pranata sosial retak

Dalam artikelnya berjudul ”Go East Young Man” di Far Eastern Economic Review (1994), Mahbubani menunjukkan gejala retaknya pranata sosial di Barat seperti peningkatan angka bunuh diri, kehamilan remaja, dan kriminalitas.

Sekolah, yang mestinya merupakan tempat belajar, bermain, berteman, dan mengembangkan jati diri, pada akhirnya tidak menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Bahkan tidak jarang anak justru takut kepada gurunya. Beban pekerjaan rumah, guru yang otoriter, orangtua yang terlalu memaksa agar anaknya berprestasi menjadikan anak trauma untuk pergi bersekolah. Kasus anak-anak yang bunuh diri gara-gara dimarahi guru atau diolok-olok temannya lalu menjadi berita keseharian.

Fakta seperti itu disebut oleh Prof Kurt Singer dari Universitas Munchen, Jerman, sebagai fenomena ”sekolah yang sakit” atau Wenn schule krank macht. Sekolah menjadi tempat penuh sensor, guru yang selalu mengawasi dengan tanpa batas etika-psikologis, perintah sekolah yang selalu menjadi diktator dan mematikan bakat, sekolah menjadi pengadilan yang selalu penuh hukuman sehingga mengakibatkan kegelisahan, ketakutan, penuh ancaman. Semua fenomena ini disebut Kurt Singer sebagai schwarzer paedagogik atau ”pedagogi hitam” (Sindhunata, 2001).

Indonesia tampaknya perlu segera menata kembali sistem pendidikannya agar mencetak anak-anak yang bahagia menjalani proses belajarnya, baik di sekolah maupun di rumah.

Saratri Wilonoyudho Dosen Universitas Negeri Semarang. Anggota Dewan Riset dan Ketua Koalisi Kependudukan Jateng

PENILAIAN MORAL MENURUT IMMANUEL KANT


(ketika mencari artikel tentang moralitas dan etika Kant, saya menemukan artikel bagus yang layak dibaca oleh kita)
Seorang anggota dewan dari sebuah partai yang mengklaim sebagai partai ‘bersih’ kepergok menonton video porno di tengah sidang paripurna. Dan di tengah kesulitan rakyat kecil memenuhi kebutuhan dasarnya, para anggota DPR bersikukuh untuk membangun gedung mewah sebagai kantor barunya. Terhadap dua peristiwa yang sampai sekarang masih hangat tersebut, rakyat mencibir mereka sebagai wakil rakyat yang tidak bermoral.

Di negeri kita, negeri Timur nan ‘agamis’, kebutuhan untuk bermoral atau berakhlak baik hampir sama pentingnya dengan kebutuhan dasar untuk hidup. Sejak kecil anak sudah diajari agar bermoral yang baik. Murid sekolah dasar sampai mahasiswa di perguruan tinggi tak pernah luput dari serbuan ceramah moral. Mau melamar kerja maupun melamar pasangan hidup pun mensyaratkan moral yang baik. Bahkan sampai mati pun moral seseorang masih menjadi perbincangan di antara mereka yang hidup.

Moral atau akhlak berarti ajaran tentang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak diperkenankan, mana yang pantas dan tidak layak. Biasanya kita mendapatkan ajaran moral dari orang tua, guru agama, atasan, atau orang-orang yang kita anggap [atau menganggap diri mereka sendiri] memiliki kelebihan daripada kita. Sedangkan ajaran-ajaran moral tersebut biasanya bersumber dari ajaran agama, adat-istiadat, kitab-kitab, serta kepercayaan dan keyakinan yang dianut.

Namun benarkah jika kita melakukan sebagaimana yang dianjurkan oleh orang tua atau guru agama lantas membuat kita menjadi orang yang bermoral? Benarkah rajin ibadah, suka membantu mereka yang lemah, mematuhi peraturan yang ada, dst, otomatis membuat kita menjadi orang yang baik? Apakah jika kita berbohong atau tidak menepati janji lantas menjadikan kita sebagai orang yang tidak berakhlak?

Etika Kant

Kalau pertanyaan-pertanyaan di atas diajukan kepada Kant, dengan tegas ia akan menjawab: belum tentu! Immanuel Kant adalah salah satu filsuf besar yang dilahirkan sejarah. Pemikiran filsuf Jerman kelahiran 22 April 1724 ini masih terus dikaji dan diminati sampai saat ini. Filsuf yang membujang sampai akhir hayatnya di usia 80 tahun ini banyak memberikan pengaruh tidak hanya kepada orang-orang yang seagama dengannya, yakni Protestan, tetapi juga para pemikir dari bermacam dan beragam agama dan kepercayaan serta yang tidak beragama sekalipun.

Menurut Kant, ada tiga patokan untuk menentukan apakah perbuatan seseorang dikategorikan sebagai tindakan bermoral atau tidak. Tiga hal ini dalam pemikiran etika Kant masuk dalam syarat-syarat imperatif kategoris, yaitu perintah mutlak yang wajib kita patuhi. Ketiga patokan tersebut adalah prinsip hukum umum, prinsip hormat terhadap person, dan prinsip otonomi.
Pertama, sebuah tindakan dapat disebut sebagai tindakan yang bermoral apabila tindakan tersebut berdasarkan pada prinsip hukum umum. Prinsip hukum umum itu berbunyi sebagai berikut: ”Bertindaklah selalu berdasarkan maksim yang bisa sekaligus kamu kehendaki sebagai hukum umum”. Yang dimaksud dengan maksim adalah prinsip yang berlaku secara subjektif, yang merupakan patokan individu dan personal. Maksim dibedakan dari ‘hukum’, yang adalah prinsip objektif yang berlaku bagi semua orang tanpa kecuali.

Maksud Kant dengan prinsip hukum umum tersebut sebenarnya begini: untuk mengetahui apakah tindakanku itu wajib aku lakukan atau tidak, maka aku harus bertanya apakah maksimku dapat diuniversalisasikan atau tidak. Jika prinsip atau maksimku itu dapat diuniversalisasikan alias dapat diterapkan untuk semua orang, maka tindakanku itu wajib aku lakukan. Tapi jika tidak dapat diuniversalisasikan, maka aku tidak wajib melakukan tindakan tersebut.

Sebagai contoh adalah sebuah kasus di awal tulisan ini, yaitu seorang anggota dewan yang menonton video porno di waktu sidang paripurna DPR karena merasa tidak ada yang memperhatikannya. Bagi anggota dewan ini, maksim/prinsip yang ia pakai adalah sbb: “Jika saya sedang mengikuti sidang paripurna, dimana masing-masing anggota dewan sibuk dengan perhatiannya masing-masing, maka saya akan menggunakannya untuk menonton video porno”. Nah untuk mengetahui apakah tindakannya ini wajib dilakukan atau tidak, maka ia harus bertanya apakah prinsip/maksim yang ia gunakan itu dapat diterapkan secara universal kepada semua orang atau tidak.

Untuk contoh kasus di atas, tentu saja jawabannya tidak bisa. Sebab andai saja maksim yang ia pakai tersebut digunakan oleh semua anggota dewan, maka tujuan sidang tidak akan tercapai. Hal ini karena setiap anggota dewan, lantaran merasa tidak ada yang memperhatikannya, akan menonton video porno di setiap sidang paripurna. Dan kalau ini yang terjadi, tentu sidang paripurna DPR tidak akan terlaksana dan justru kekacauan yang muncul. Karena maksim tersebut tidak dapat diuniversalisasikan, maka tindakan tersebut tidak boleh dilakukan.

Syarat kedua agar tindakan kita bisa dikategorikan sebagai tindakan bermoral adalah penghormatan terhadap person. Prinsip ini berbunyi: ”Bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau selalu memperlakukan umat manusia, entah itu di dalam personmu atau di dalam person orang lain, sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sebagai sarana”. Prinsip ini mau mengatakan dua hal. Pertama, aku tidak boleh menjadikan diriku sendiri ataupun diri sesamaku sebagai sarana belaka. Kedua, dalam mengambil pertimbangan-pertimbangan moral, kita wajib memperhatikan pihak lain.

Contoh dari prinsip kedua ini adalah tindakan orang yang akan bunuh diri karena beratnya beban yang ia tanggung. Menurut Kant, sebelum orang tersebut melakukan bunuh diri, ia harus bertanya dulu: apakah tindakan bunuh diri ini sesuai dengan prinsip hormat kepada manusia atau tidak
Apabila ia bunuh diri untuk lepas dari penderitaan, maka mungkin saja ia tidak merugikan orang lain. Tetapi tidak dengan dirinya sendiri. Sebab melakukan bunuh diri berarti ia tidak menghormati personnya sendiri, dan hanya memperlakukannya sebagai sarana untuk melepaskan penderitaan. Karenanya jelas tindakan ini tidak boleh dilakukan.

Prinsip ketiga yang membuat sebuah tindakan disebut sebagai tindakan bermoral adalah prinsip otonomi. Prinsip ini mengatakan: “Bertindaklah sedemikian rupa dimana kehendak dari dirimu sendirilah yang menentukan tindakan tersebut”. Maksud dari prinsip ini adalah semua tindakan yang kita lakukan harus murni karena kehendak dan keinginan kita sendiri, bukan karena pengaruh apalagi paksaan dari orang lain. Kant menyebut prinsip ini dengan ‘kehendak otonom’, yaitu kehendak yang mau melakukan sesuatu berdasarkan hukum yang ditentukannya sendiri. Lawan dari kehendak otonom adalah kehendak heteronom, yaitu melakukan sesuatu bukan karena kehendak kita sendiri, tetapi demi hukum di luar hukum orang tersebut, seperti karena ikut-ikutan orang lain.

Seturut dengan prinsip ketiga ini, Kant membedakan antara legalitas dan moralitas. Legalitas adalah tindakan yang sesuai dengan kewajiban/hukum. Legalitas merupakan tindakan yang dilakukan bukan karena kecenderungan langsung, melainkan demi kepentingan tertentu yang terpuji atau menguntungkan. Misalkan saja ada seorang penjual yang tidak mau menipu pembelinya. Menurut Kant, tindakan penjual tersebut belum tentu bermoral. Karena bisa jadi ia melakukan itu bukan karena tindakan itu baik, tetapi agar pembelinya terus menjadi pelanggannya. Kalau demikian adanya, maka tindakan penjual tersebut tidak masuk kategori bermoral, tetapi hanya legal saja.

Sedangkan moralitas adalah tindakan yang dilakukan demi untuk kewajiban. Tindakan ini mengesampingkan unsur-unsur subjektif seperti kepentingan sendiri, melainkan berpedoman pada kaidah objektif yang menuntut ketaatan kita begitu saja, yaitu hukum yang diberikan oleh rasio dalam batin kita.

Korelasi

Itulah tiga syarat imperatif kategoris yang dijadikan Kant sebagai patokan moral. Jika sebuah tindakan tidak memenuhi satu dari ketiga prinsip tersebut, maka otomatis tindakan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang bermoral. Tindakan yang tidak bermoral berarti tindakan yang tidak memiliki nilai moral di dalamnya, yang dalam bahasa agama berarti tindakan yang tidak berpahala.

Umat Kristiani sangat berhutang besar kepada Kant dalam merumuskan etika. Karena dari prinsip ketiga, yaitu prinsip otonomi, berkembanglah apa yang disebut dengan suara hati, yaitu kesadaran moral dalam situasi konkret. Konsep suara hati ini memiliki posisi penting dalam etika Kristiani. Suara hati adalah kesadaran dalam batin saya bahwa saya berkewajiban mutlak untuk selalu menghendaki apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya. Dan dari kehendak itulah tergantung kebaikan saya sebagai manusia. Dan hanya saya sendirilah yang dapat dan berhak untuk mengetahui apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya. Suara hati menegaskan bahwa hanya saya, bukan orang lain, yang memutuskan tindakan saya, meskipun dipengaruhi oleh banyak pertimbangan luar. Saya lah penentu dan penanggungjawabnya.

Meski demikian, suara hati juga dapat ditemukan dalam kazanah keilmuan Islam, yang lazim kita sebut dengan hati nurani [nur ‘aini], kendati belum dikembangkan secara maksimal oleh para sarjana Muslim. Sabda Nabi, “Istafti nafsaka”, mintalah nasehat pada hati nuranimu. Di sini Nabi menegaskan, dalam menentukan sebuah tindakan, kita diperintah agar bertanya pada hati nurani kita yang terdalam, apakah tindakan tersebut baik atau tidak.

Dalam bahasa agama, konsep moralitas dan legalitas dari Kant dapat kita sebut sebagai ikhlas dan tidak ikhlas. Moralitas yang berarti melakukan sebuah tindakan murni demi sebuah kewajiban dan nilai kebaikan dari tindakan itu, tidak jauh berbeda dengan konsep ikhlas. Sedangkan lawannya, legalitas, berarti tidak ikhlas yang bisa jadi riya/pamer atau lainnya.

Dan dari konsep moralitas dan legalitas ini pula menjadi jelas bahwa yang menentukan suatu tindakan menjadi bermoral atau tidak adalah maksud/niyat pelakunya. Sebuah tindakan bisa kelihatan baik, tetapi sebenarnya tidak memiliki bobot moral karena pelakunya memiliki niyat yang lain. Konsekuensi dari ajaran etika Kant ini adalah kita tidak bisa menilai sebuah tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Kita tidak akan bisa mengetahui apa maksud dan niyat seseorang melakukan sebuah tindakan tertentu.

Karena itu, setiap penilaian bahwa orang lain adalah seorang pendosa, terkutuk, pantas masuk neraka, dsb, adalah sebuah kemunafikan yang justru menunjukkan sifat-sifat tersebut kembali kepada pengucapnya. Hanya pelakunya sendiri dan Tuhan saja yang tahu apa motif dan tujuan dari sebuah tindakan. Karenanya, memberikan penilaian-penilaian tersebut kepada sesama manusia sama saja artinya dengan merebut hak preogratif Tuhan. Sebuah tindakan yang dalam Islam disebut dengan syiri’.

Sumber: http://sambiyan.blogspot.com/2011/04/patokan-moral-menurut-immanuel-kant.html

PAUL RICOEUR: IDENTITAS, NARASI DAN PENDIDIKAN


Identitas dan narasi (cerita) termasuk dalam salah satu pokok pemikiran dari Paul Ricoeur. Menurut Paul Ricoeur, identitas mengambil bentuk yang problematis karena identitas memiliki dua sisi atau model. Paul Ricoeur mencoba untuk mempersiskan kedua model atau bentuk identitas ini, yaitu identitas, yang dari satu sisi dinamakan «identitas idem» dan dari sisi lain dinamakan «identitas ipse».
Apa yang dimaksud dengan «identitas idem» dan apa yang dimaksud dengan «identitas ipse»? Paul Ricoeur mengatakan bahwa yang dimaksud dengan «identitas idem» ialah identitas tentang sesuatu yang tetap dan tidak berubah, sementara penampakkan-penampakan (seperti misalnya «kecelakaan-kecelakaan») selalu berubah. Model filosofisnya, dalam istilah tradisional, ialah substansi. Substansi adalah lapisan bawah atau dasar (latin: substratum), sokongan, dukungan, identik dalam arti kekal, tetap dan abadi, yang tidak dapat berubah, yang dihapus dari waktu (tidak termasuk dalam waktu). Identitas substansial ini dapat juga direalisasikan di bawah bentuk identitas struktural. Sebagai contoh, kode (susunan yang teratur) genetik kita tetap sama dari lahir sampai mati, seperti satu spesies tanda biologis. Kita memiliki contoh dari «identitas idem»: identitas struktur, identitas fungsi, dan identitas hasil. Dengan demikian jelas bahwa, «identitas idem» ialah substansi dari «sesuatu» atau «seseorang» karena mengindikasikan ketidakberubahan dan bersifat tetap, kekal.

Sebaliknya «identitas ipse» tidak berimplikasi pada ketetapan seperti pada «identitas idem», tetapi mengindikasikan suatu perubahan, mengandung variabilitas perasaan, ada kecenderungan, keinginan, dll. Sebagai contoh dari «identitas ipse»; identitas diri saya sendiri ketika saya membuat janji. Janji, yang saya buat buat adalah contoh yang paling jelas, karena saya tidak mempunyai sesuatu untuk dilakukan (dalam kasus subyek yang menjanjikan), dengan suatu identitas substansial, sebaliknya, saya memenuhi janji saya meskipun terdapat perubahan-perubahan suasana hati saya. Ini adalah identitas yang akan dapat kita sebut dengan pemeliharaan, lebih daripada nafkah hidup (subsistence). «Saya adalah saya dan saya masih tetap sebagai diri saya sendiri, meskipun saya tidak lagi identik, meskipun saya terus diubah dari waktu ke waktu dan terus berubah di dalam waktu». Substansi janji akan tinggal tetap tetapi ipsenya akan terus berubah di dalam waktu.

Berdasarkan pada konsep tentang kedua identitas di atas, Paul Ricoeur akhirnya menghubungkannya dengan «waktu»: satu adalah hubungan dalam beberapa bentuk kekekalan, ketidaktetapan, dan yang lainnya berkaitan dengan natural. Paul Ricoeur menyebut «identitas naratif», yang ingin mengatakan dengan mana bahwa identitas dari suatu subyek, mampu menjaga sebuah janji, disusun sebagai identitas dari sebuah karakter cerita. Maksudnya ialah bahwa kedua identitas tersebut bukanlah hal-hal yang hanya tinggal permanen dalam diri manusia, tetapi menjadi «identias yang dinarasikan» atau «identitas yang diceritakan» kepada yang lain dalam hidup. Karena itu, identitas personal itu selalu harus dinarasikan kepada orang lain yang kita hadapi dalam keseharian hidup kita. «Saya sebagai pribadi memiliki identitas idem, yaitu sebagai substansi, alas, dasar, atau penopang dan itu ditampakkan (walaupun tidak menyeluruh) dalam identitas ipse yang berbentuk rangkaian seluruh kejadian dalam perjalanan (semacam auto-biografi) kehidupan. Rangkaian kejadian dalam auto-biografi inilah yang dilihat sebagai narasi atau cerita (yang terus bersambung) yang juga sekaligus membangun dan memformat diri dan pribadi kita secara terus.

Hal yang paling penting yang ingin ditegaskan oleh Paul Ricoeur adalah dialektika dari dua identitas tersebut: «identitas idem» dan «identitas ipse». Dapat dikatakan bahwa «identitas naratif» – yang hadir dalam cerita-cerita besar atau ditafsirkan oleh kita, diuraikan dalam kehidupan – berosilasi antara kutub identitas besar: yang kekal atau tidak berubah dan yang eksis hanya anugerah-anugerah kepada kehendak untuk mempertahankannya, seperti ketika dipertahankan sebuah perjanjian.

Dalam konteks pendidikan, Paul Ricoeur memberikan sumbangan besar yaitu dalam kaitan dengan «pendidikan dan penarasian». Aksi kependidikan harus dimengerti sebagai tindakan yang rentan (sensitif) untuk diceriterakan, atau untuk menciptakan sebuah sejarah yang pantas diceriterakan. Pendidikan dan terdidik masing-masing memiliki identitasnya, memiliki sejarahnya, memiliki idem dan ipse-nya. Dalam proses pembelajaran, pendidik (dan juga terdidik) harus mampu melihat masing-masing identitas ini. Karena itu, proses pembelajaran adalah kesempatan di mana seluruh peserta berkesempatan «membuka dan mempresentasikan» narasinya masing-masing. Setiap narasi yang melekat dalam setiap pribadi, baik langsung maupun tidak langsung, menjadi masukan dan teks pelajaran bagi orang lain yang hadir ketika teks narasi itu dipresentasikan. Paul Ricoeur juga menekankan bahwa seluruh pengalaman pribadi adalah teks-teks narasi, yang sekaligus menjadi «income» bagi orang lain ketika mereka mendengarkan dan merasakan. Proses pembelajaran adalah seni «bercerita» dan ketika terjadi «penceritaan» maka sekaligus juga terjadi «seni pertukaran pengalaman» dan pengalaman yang diceritakan menghadirkan identitas dari setiap pencerita.

Pertanyaannya ialah, manakah auto-biografi yang perlu dan ingin diceritakan? Tentu saja itu adalah identitas kita, baik yang berada secara substansi maupun yang berada dalam peristiwa-peritiwa sejarah kita. Memang setiap orang memiliki auto-biografi masa lalu yang perlu diceritakan, tetapi dalam proses pembelajaran, perlu juga menciptakan narasi baru atau «narasi etika» yang dibangun bersama dalam kelompok belajar. Kebersamaan dalam pembelajaran adalah sebuah sejarah yang akan dinarasikan sejak ketika proses itu terjadi. Karena itu seperti dikatakan Paul Ricoeur, «waktu dan cerita» memiliki hubungan yang sangat erat dengan setiap kehidupan kita. Cerita berada di dalam waktu dan kejadian dalam waktu itu akan diingat dan diceritakan. Kegiatan pendidikan yang terjadi dalam waktu harus menciptakan sebuah cerita yang mampu mengubah sejarah pada masa depan yang lebih positip dan baik. Bagaimana dengan proses pendidikan kita?

Beranda, 11-12-2010

Sdr. Sergio Lay

J. MARITAIN DAN PRIBADI MANUSIA


Dari sudut pandang filosofis, konsep dasar tentang apa yang harus dipertahankan ialah pribadi manusia. J. Maritain sangat menekankan dalam konsep pendidikannya tentang pribadi manusia. Manusia adalah seorang pribadi yang memiliki akal budi dan kehendak. Manusia tidak eksis hanya sebagai «keberadaan kefisikan»: tetapi terdapat dalam dirinya sebuah keberadaan yang lebih mulia dan lebih kaya: yaitu kesungguhan keberadaan spiritual, yang juga mencakup pengetahuan dan cinta. Karena itu dan dalam arti ini, semua, dan tidak hanya satu bagian, adalah universal dalam dirinya sendiri, sebuah mikrokosmos dalam makrokosmos, yang secara sadar atau tidak, terus berjalan menuju ke kekekalan. Melalui cinta manusia dapat menyumbangkan dirinya secara bebas kepada «keberadaan-keberadaan» yang adalah untuk dia sebagai yang lain bagi dirinya sendiri.
Jika kita mencari atau meneliti keradikalan yang pertama dari semua, bahwa kita dikondisikan untuk mengakui kepenuhan realitas filosofis tentang konsep jiwa ini, bahwa banyak kekayaan konotasi-konotasi, yang mana Aristoteles gambarkan sebagai prinsip pertama kehidupan dari setiap organisme dan melihat menyediakan dalam diri manusia yaitu intelek yang melebihi hal material, dan untuk itu kekristenan telah mengatasi sebagai «Jaman Tuhan» dan sebagai fakta untuk hidup kekal. Dalam daging dan dalam tulang manusia ada jiwa yang adalah roh dan adalah lebih dari semua keuniversilanan fisik. Untuk itu manusia tidak hanya tergantung dari bantuan yang lebih bersifat materi, tetapi keberadaan pribadi manusia selalu berada dalam keutamaan tentang jiwanya, yang menguasai waktu dan kematian. Itu adalah roh yang adalah akar kepribadian.
Konsep kepribadian mengimplikasikan tentang keseluruhan totalitas dan kemandirian. Mengatakan bahwa seorang manusia adalah pribadi berarti mengatakan bahwa dalam dasar keberadaannya, entah itu keseluruhan atau bagian-bagian, adalah lebih mandiri untuk melayani. Ini adalah misteri kenaturalan kita bahwa pemikiran religius menyatakan ketika mengatakan pribadi manusia direferensikan kepada gambar Allah. Seorang pribadi manusia memiliki martabat absolut karena secara mandiri dihubungkan langsung dengan kerajaan keberadaan, kebenaran, kebaikan, keindahan, dengan Tuhan; dan hanya melalui ini dia dapat sampai pada keberadaan yang sempurna. Tempat tinggal atau rumah spiritual adalah seluruh keteraturan nilai-nilai yang absolut, yang mana merefleksikan dalam beberapa bentuk keallahan yang absolut yang mentransendenkan dunia, dan mempunyai dalam dirinya kemampaun untuk menarik minat yang lainnya kepada dirinya.

Beranda, 5 Desember 2010

Sdr. Sergio Lay OFMCap.

HANNAH ARENDT DAN KARYA-KARYANYA


Hannah Arendt (Linden, 14 Oktober 1906 – New York, 4 Desember 1975) adalah seorang filsuf dan juga seorang sejarahwati berkebangsaan Jerman-Amerika. Beremigrasi ke Amerika Serikat di mana ia memperoleh kewarganegaraan Amerika juga. Walaupun pemikiran-pemikirannya dapat dikategorikan sebagai filsafat, tapi dia sendiri menolah untuk dikategorikan sebagai seorang filsuf.
Hannah Arendt lahir dari keluarga Yahudi di Linden, Hanover dan dibesarkan di Königsberg sebelum (kota kelahiran dari filsuf sebelumnya yaitu Imanuel Kant, dan yang sekaligus dia kagumi) dan kemudian Berlin. Walaupun Arendt sangat mengagumi pemikiran Kant, tetapi dia adalah seorang mahasiswi filsafat yang dipimpin oleh Martin Heidegger di Universitas Marburg. Dia memiliki hubungan yang dekat dengan Heidegger. Hannah Arendt sungguh mendalami tesis-tesis atau pengajaran Heidegger, sehingga dia sebenarnya tidak mampu untuk menghapus cinta dan pengabdian kepada guru pertamanya itu. Dalam perjalanan kependidikannya, Hannah Arendt pindah ke Heidelberg di mana ia lulus dengan tesis tentang konsep cinta menurut St. Agustinus dari Hipo, di bawah bimbingan seorang pembimbing tesisnya yaitu filsuf (mantan psikolog) Karl Jaspers.
Tesis Hannah Arendt diterbitkan untuk pertama kali tahun 1929, namun karena asal-usulnya yang Yahudi, maka Hannah Arendt ditolak untuk menjadi guru yang berkualifikasi di universitas Jerman (dengan kemungkinan dia harus menulis lagi tesis kedua) pada tahun 1933. Setelah itu ia meninggalkan Jerman dan berangkat ke Paris, dan di Paris Arendt bertemu dengan seorang kritikus sastra yaitu Marxis Walter Benjamin. Selama Arendt tinggal di Prancis, dia bekerja untuk membantu pengungsi Yahudi yang lari dari Nazi Jerman. Namun, setelah invasi Jerman (dan pendudukan berikutnya), Perancis selama Perang Dunia II dan deportasi berikutnya orang Yahudi ke kamp konsentrasi Jerman, Hannah Arendt harus pindah lagi dari sini. Pada tahun 1940 ia menikah dengan penyair dan filsuf Jerman Heinrich Blücher, tetapi bukan ke Jerman, tetapi (bersama ibunya juga) mereka pindah ke Amerika Serikat, dan tentu dengan pertolongan seorang wartawan Amerika yaitu Varian Fry. Setelah itu ia menjadi aktivis dalam komunitas Yahudi Jerman di New York dan menulis untuk mingguan Aufbau. Setelah Perang Dunia Kedua, Arendt sempat berkomunikasi dengan gurunya Heidegger yang membahas beberapa hal berkaitan dengan kesaksian mereka tentang Nazi. Hannah Arendt kemudian meningea dunia di New York pada tahun 1975 dan dimakamkan di Bard College, Annandale on Hudson, New York.

Karya dan Pemikirannya
Pemikiran Hannah Arendt berkisar pada sifat kekuasaan, otoritas politik, dan totalitarianisme. Tentu seluruh tema ini berkaitan dengan situasi politik dan mentalitas manusia pada jamannya. Dalam pandangannya tentang pengadilan Eichmann untuk The New Yorker, yang kemudian menjadi buku The Banalitas Kejahatan – Eichmann di Yerusalem (1963), – mengangkat isu bahwa kejahatan bukanlah kebisaan radikal, melainkan justru kurangnya akar, memori, dan kurangnya tindakan untuk berdialog dengan diri sendiri, sebuah dialog yang Arendt mendefinisikan dua dalam keduaan dan dari mana dia datang dan tindakan moral itu dibenarkan. Arendt juga mencatat bahwa kejahatan itu sering muncul dari pihak laki-laki walaupun sikap ini sering disepelekan begitu saja dalam pandangan umum, tetapi justru bahwa laki-laki sering menjadi agen kejahatan. Dan inilah sikap dari banalitas itu, seperti yang terjadi di Nazi Jerman, di mana-mana orang-orang tidak sepakat dengan keterlibatan kejahatan yang paling mengerikan dalam sejarah dan mendengar individu yang seharusnya bertanggung jawab atas kejahatan tidak sungguh-sungguh mengerti arti dari politik. Hannah Arendt juga juga menulis The Origins of Totalitarianisme (1951), yang menelusuri akar Stalinisme dan Nazisme, dan koneksi mereka dengan anti-Semitisme. Buku ini berada di pusat banyak kontroversi, karena dibandingkan dua sistem bahwa mayoritas ulama Eropa – dan bahkan banyak orang Amerika yang – tampak bertentangan. Tetapi pekerjaan yang menetapkan contoh sempurna dari teori politik nya diterbitkan pada tahun 1958 dengan judul «Kehidupan yang Aktif». Kondisi manusia di mana Arendt ingin memulihkan kembali tingkat yang penuh dengan dimensi politik manusia dalam upaya untuk mengembalikan «teori libertarian dari masa pengadaptasian sosial».

sergio lay – roma, 19 November 2010