Dari “DOMUS MEA, DOMUS ORATIONIS EST” menjadi “DOMUS MEA, DOMUS RISTORANTE”

domus meaPada akhir bulan Juni s/d akhir September 2009, saya berkesempatan mengisi liburan musim panas di Washington DC, USA, sambil ambil kursus intensif Bahasa Inggris. Setiap akhir minggu, hampir selalu ada saudara kapusin di propinsi St. Agustinus Pennsylvania yang membawa saya dan teman-teman lainnya ke tempat wisata atau yang cukup populer di sekitar Pennsylvania.
Dari sekian banyak tempat yang dikunjungi, satu tempat menjadi sulit terlupakan dari ingatan, ketika kami mengunjungi Pittsburg (pusat propinsi Kapusin Pensylvania) untuk mengikuti kaul kekal seorang saudara kapusin di propinsi ini. Bob Toomey (sekretaris propinsi) pada malam 27 Agustus 2009 (malam sebelum acara pesta) mengantar kami ke sebuah gereja yang namanya “Domus Mea, Domus Orationis Est” (Rumahku adalah Rumah Doa) yang didirikan lebih 100 tahun lalu. Pada awalnya, gereja ini didirikan untuk orang-orang Katolik “perantauan” yang tinga di sekitarnya dan juga untuk orang Katolik yang ada di tempat itu. Tetapi sejak awal juga, di lokasi gereja ini terdapat satu “pabrik” anggur terkenal di kota Pittsburg dan juga di semita wilayah Pennsylvania. Tidak heran jika gereja tersebut dinamakan “the Church Brew Works’ Cuisine…. Dining Excellence”. Tetapi sudah sejak lebih 15 tahun lalu, umat yang menjadi anggota gereja tersebut sudah tidak ada lagi (mungkin pindah ke gereja lain atau kembali ke kampung halaman mereka). Dengan rasa kagum yang sangat, kami memandang dari kejauhan di antara remang-remangnya malam yang dihiasi lampu pinggir jalan dan lampu-lampu sekitar gereja. Dengan penuh rasa kekaguman, kamipun beranjak masuk melalui pintu depan. Dengan penjelasan singkat, Sdr. Bob menjelaskan tentang sejarah gereja tersebut, bagian depannya (teras), secara pelan tentang ruang depan (biasanya ruang di mana di atas menaranya terdapat lonceng) dan ketika memasuki bagian dalam (panti imam dan umat), betapa tercenganglah kami semua ketika melihat orang-orang sedang dengan ramainya menikmati hidangan makan malam. Dengan pakaian resmi-formal sampai pada yang “I can see” terpampang jelas di hadapan pandangan kami. Sdr. Alex Naununu memandang suasana bercampur kagum dengan diam seribu bahasa sambil sesekali memandang kearah Bob yang mencoba menjelaskan tentang isi ruangan gereja itu. Sdr. Christian LG dan saya terpesona memandang gambar-gambar jalan salib yang masih tergantung di sekeliling bagian dalam gereja, gambar-gambar kudus, pipe organ besar, meja-meja makan, tempat air kudus di pintu masuk, bangku-bangku gereja yang telah ditata rapi mengelilingi meja makan, dan kamar-kamar pengakuan di samping kiri kanan yang telah diubah menjadi “kedai” untuk pelayanan menu dan teristimewa anggur lezat. Keterpesonaan kami dilengkapi dengan tempat anggur di depan bagian atas dan belakang altar (katanya: itu anggur asli yang memang sangat lezat untuk dinikmati). Penataan ruangan sangat apik dan rapi, tetap seperti ruangan gereja dengan segala perlengkapannya yang seharusnya. Hanya saja, bangku dan kursi telah diubah posisinya seperti di ruangan restoran. Dari ruang tengah kami melihat kesibukan para konsumen yang meminta dan memesan hidangan dari orang yang menjaga di kamar pengakuan. Mereka begitu akrab, penuh dengan senyum manis yang tulus, dan sambil bercanda ria. Mereka nampaknya begitu bahagia dengan situasi yang sedang mereka nikmati bersama.
Dengan agak kecewa, langkah penuh layu dan wajjah tertunduk sedih, kami kembali ke tempat penginapan kami karena waktu telah melewati jam 11 (sebelas) malam. Tidak ada kata dan diskusi hangat di antara kami. Kepada yang lainnya, kami hanya berbisik “aku tidak tenang di dalam gereja itu. Bagaimana mungkin gereja semegah itu seperti Gereja lama di tempat San Padre Pio di San Giovanni Rotondo, diubah menjadi restoran yang terlaris di kota ini”. Sepanjang perjalanan pulang, kami terus memikirkan, bagaimana masa depan Gereja Kristus (dari Gedungnya) jika akhirnya orang menjadikannya sebagai restoran, Bar, Pub, bioskop atau malah tempat untuk tarian telanjang?
Entah bagaimanapun, itulah situasi Gereja yang satu itu. Tetapi paling kurang, itu telah menunjukkan suatu mentalitas dari aliran progresif dan fungsionalisme dalam perkembangan pemikiran manusia. Orang bisa saja berdoa di rumah dan tidak harus di gereja. Untuk apa Gereja, kalau orang tidak mengalami kebahagiaan? Untuk apa Gereja kalau orang-orang yang menjadi anggota saling memperebutkan kekuasaan, saling mencurigai, ladang untuk mencari untung melalui korupsi, sebagai tempat pelarian dari rasa stress? Untuk apa ke Gereja jika setelah bergereja tidak memberikan kedamaian dan keselamatan? Mungkin kita akan mengatakan: “bukan Gereja yang tidak menjamin kedamaian dan keselamatan tetapi justru orang-orang di dalamnya yang menginginkan keselamatan dan kedamaian itu”. Tetapi justru Gereja dibentuk oleh Kristus dalam kesatuan-Nya dengan para Rasul, dan seluruh umat Kristus telah diikat dan disatukan ke dalamnya karena baptisan. Pertanyaan kita ialah: “apakah Gereja yang tidak memberikan kedamaian dan keselamatan, atau orang-orang yanag tidak menginginkan kedamaian dan keselamatan itu”?
Saya tidak banyak memikirkan aspek teologis dan biblis dari situasi di atas. Tetapi saya hanya sekedar bebrbagi apa yang ada dalam hati saya. Dengan melihat situasi seperti itu, terbersit dalam pikiran saya bahwa “gereja ibaratkan sebuah restoran, yang menawarkan kualitas pelayanan dan kualitas dari barang dagangan yang membuat orang tertarik kepadanya”.
Gereja, dalam arti orang-orang yang hidup, pengikut Kristus, seharusnya bersifat terbuka, membuat dirinya menarik kepada banyak orang. Gereja, melalui aktifitas religius, liturgi dan aksi seharusnya tidak sampai pada membuat orang lain yang dari jauh kaggum dan terpesona, tetapi harus sampai membuat orang datang dan masuk ke dalamnya serta mengalami kesungguhan kedamaian dan keselamatan itu. Tempat dan kamar pengakuan yang dijadikan tempat pengambilan pesanan dan pembayaran uang, mungkin bisa mengatakan kepada kita bahwa melalui sakramen-sakramen, kita seharusnya melayani orang dengan penuh setia, dengan senyum, sedikit canda ria, serta taat pada aturan permainan yang ada. Sakramen-sakramen tidak seharusnya membebani umat dan pelayanannya dengan kekakuan yang irrasional tetapi sebaliknya dengan kekakuan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Sering orang Kristen melaksanakan ritus demi ritus itu sendiri dan bukan ritus demi penghayatan akan keselamatan yang darri Allah. Jika ritus demi ritus, maka sakramen dan pelayanan akan dilihat sebagai beban dan sebagai penindasan. Akhirnya orang tidak lagi melihat makna sesungguhnya dari hidup menggereja, tetapi melihat Gereja sebagai sarana untuk mengambil sesuatu untuk kepentingan diri.
Kita tidak hendak bercita-cita mengubah gedung gereja kita menjadi “domus ristorante” tetapi dengan membaca situasi yang sedang berkembang sejak satu dekade yang lalu, kita dipacu untuk senantiasa merefleksikan kembali cara kita menggereja dalam dunia yang penuh dengan gejolak progresifme, sekularisme, fungsionalisme dan bentuk-bentuk –isme lainnya. Tentu kita harus sungguh menjaga tradisi hidup iman dan hidup menggereja kita yang telah teruji dalam perjalanan sejarah. (kunjungi situs ini: http://www.churchbrew.com)

100_7323
Beranda, 22 September 2009
sergio

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s