MENCARI ARAH PENDIDIKAN MENURUT JOHN AMOS KOMENIUS

1. Sejarah Hidup Singkat
Komenius lahir pada tanggal 28 Maret 1592, di Moravia, sebuah kawasan di Eropa Timur, yang sekarang disebut dengan Republik Ceko. Orangtuanya termasuk golongan jelata, tetapi sangat bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak mereka. Komenius adalah anak bungsu dari 5 bersaudara dan dia adalah satu-satunya laki-laki dari antara mereka. Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan katolik dari orangtuanya, sehingga sampai usia dewasa, ia masuk dalam sekolah katolik dan akhirnya menjadi seorang Pastor dalam gereja katolik. Sebelum ia menjadi seorang pastor, ia menempuh pendidikan di Jerman, dan setelah itu ia kembali ke Ceko untuk bekerja di sana sebagai seorang guru.
Sebagai seorang guru, Komenius sangat mengenal baik situasi pendidikan pada masanya, sistem persekolahan pada abad ke-17 (abad di mana gereja dan dunia eropa mengalami situasi sulit, di mana terjadi perpecahan dalam tubuh kekristenan, kelupaan dan ketidakteraturan kependidikan bagi anak-anak dan juga pendiddikan untuk semua manusia.

2. Komenius: Reformator Dunia Pendidikan abad Moderen (abad 17)
Situasi dunia pendidikan masa Komenius sangat memprihatinkan. Keprihatinan pertama ialah bahwa pendidikan hanya diperuntukan bagi kaum pria dan kaum wanita tidak mempunyai kesempatan untuk menikmati pendidikan. Keprihatinan kedua ialah bahwa Bahasa Latin terlalu diagungkan sehingga menjadi bahasa pendidikan di semua sekolah di tempatnya. Hal ini kemudian menyebabkan pengajaran di kelas sebagaian besar adalah menjadi aktifitas dengan penjejalan kata, kalimat dan gramatika Latin kepada siswa, yang membuat siswa sulit untuk mencernanya dengan baik. Ini bisa dimengerti karena bahasa latin pada waktu itu menjadi bahasa gereja dan bahasa yang harus diketahui oleh semua warga gereja katolik (hal yang kemudian tidak bisa dibenarkan oleh Komenius). Keprihatinan ketiga ialah, gereja juga tidak memikirkan tujuan-tujuan belajar yang lebih spesifik, penetapan tahap-tahap pembelajaran yang terstruktur. Keprihatinan keempat ialah, proses pembelajarannya sangat ketat dan bahkan kejam dan dengan suasana sosial dan moral yang rendah. Komenius sendiri bahkan mengatakan bahwa, “sekolah abad ini adalah rumah bagi pejagalan pikiran”.

3. Metode yang Diusulkan Komenius
Karena itu, Komenius mencela penggunaan bahasa Latin di sekolah-sekolah. Ia justru menekankan agar pusat pendidikan ialah “back to naturals” (kembali kepada alam). Ia mengusulkan proses pembelajaran dan belajar yang menyenangkan bagi para siswa, yang diringkaskannya di dalam karyanya: pampaedia yang berarti “pendidikan universal”. Tujuan Komenius ialah “agar pendidikan dan pengetahuan itu dapat dinikmati semua orang dan bukan hanya untuk orang-orang tertentu saja”. Anak-anak seharusnya diajarkan secara bertahap, yang dimulai dengan konsep-konsep dasar dan wajar bagi seorang anak dan kemudian meningkat ke konsep yang lebih rumit. Justru dalam tahun-tahun pertama sekolah, Komenius menganjurkan untuk diberi kepada peserta didik bahasa ibu, salah satu cara untuk mempelajari kekayaan sendiri yang termasuk sebagai pelajaran dengan konsep-konsep wajar dan sederhana. Tetapi pendidikan seharusnya tidak hanya dibatasi pada usia-usia tertentu saja, melainkan diberikan kepada semua orang, “education for the all”, dalam dan untuk keseluruhan hidup setiap orang. Komenius mengusulkan agar kegiatan pendidikan seharusnya menjadi suatu kegiatan yang benar-benar menyenangkan dan praktis. Komenius membayangkan bahwa sekolah adalah suatu tempat permainan, merupakan awal yang menyenangkan dari seluruh kehidupan kita. Pendidikan di sekolah, menurut Komenius, seharusnya menjadi tempat untuk pengembangan pendidikan pikiran (akal budi) tetapi juga tempat untuk membina manusia seutuhnya yang harus dibentuk secara moral dan rohani.

4. Beberapa Karya Komenius
Beberapa tema pokok yang ditawarkan oleh Komenius dalam pemikirannya yang berkaitan dengan dunia pendidikan ialah: Didattica Magna dan Pampaedia. Di dalam Didattica Magna memuat konsep tentang manusia dan akhir dari pendidikan, hubungan antara pendidikan dan masyarakat, Kebutuhan sekolah untuk pendidikan, proses dalam bentuk analog kepada natural dan pengorganisasian persekolahan. Sedangkan dalam Pampaedia dibicarakan tentang rencana pembentukkan: collegium luci et dicasterium pacis, consistorium oecumenicum.

5. Pemikiran Komenius
a. Konsep pedagogi bagi Komenius didasarkan pada ide religiusnya bahwa ia mengonsepkan manusia dan natural (alam) sebagai manifestai yang lain dari yang ilahi. Allah adalah pusat dunia dan hidup manusia. Pendidikan dalam gambaran ini adalah penciptaan sebuah model universal tentang “uomo vituoso” (manusia yang berkeutamaan). Karena itu tidak salah jika Komenius sering dibandingkan dengan seorang theologus (ahli ilmu ketuhanan atau teolog). Terdapat 3 buku yang sangat terkenal dari Komenius sebagai buku bacaan yaitu: dunia dan alam, kenyataan dan pikiran manusia, rivelasi atau kitab suci.
b. Dua hal yang dipegang Komenius sebagai prinsip dalam pemikiran pendidikannya yaitu antara tradisionalisme dan juga keharmonisan dengan kontinuitas tahap-tahap pemikiran manusia. Seorang anak kecil tidak bisa dipaksa untuk berpikir seperti orang dewasa. Pendidikan kepada anak harus disesuaikan dengan dunia anak-anak, dan sebaliknya untukk orang dewasa. Dengan melakukan pendidikan semacam ini, orang akan mengalami kegiatan pendidikan yang sangat menyenangkan.
c. Dalam bukunya yang baru diterbitkan pada tahun 1681, dengan judul Triertium Catholicum, Komenius menyusun sebuah seri besar, yang secara progresif mengilustrasikan natura dan manusia. Pertama, organ-organ untuk teks atau bacaan dari buku-buku yang luar biasa. Di dalamnya ia membedakan tiga sarana atau strument yang meletakkan sebuah susunan untuk penggunaan praktis: sensus (manus), ratio (mens) dan fides (lingua). Selanjutnya Komenius juga menyusun dasar-dasar dari seri triadi yaitu sapere, agere e loqui, yang menyatakan pada tingkat operatif fungsi-fungsi sarana manusia. Susunan dari seri-seri dalam bukunya yang heendal diajarkan kepada siswa harus berangkaat dari teori, kepada praksis dan kemudian disintesiskan kembali. Juga diuraikan bagaimana Komenius menyusun dasar-dasar dari triadi dari analysis, syntesis dan syncrisis. Metode syncritis, dalam prakteknya, mendapat penghargaan dalam keterbukaan universal dan meletakkan pengetahuan pada posisinya sebagai pengetahuan. Ini adalah sebuah metode yang meletakkan untuk menambahkan pada sebuah pengetahuan tentang Tuhan untuk analogi, secara implisit sudah dinasehatkan dari Kitab Suci.
d. Didattica Magna
Ini adalah sebuah karya yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Dalam didattica magna Komenius menerangkan konsepnya tentang manusia dan takdir atau nasibnya. Komenius menegaskan bahwa “manusia adalah lebih tinggi, sempurna, dan paling baik dari segala ciptaan, dan karena ini maka tujuan akhir hidup manusia adalah kebersatuannya dengan sang pencipta yaitu Tuhan”. Pekerjaan guru harus cenderung kepada realisasi semua sublimasi ke dalam keberadaan manusia: “semua yang memenuhi pada tugas untuk membentuk manusia harus mengajar mereka kepada hidup tentang martabat mereka, keunggulan mereka dan kepada (mengalamatkan) semua kemungkinan-kemungkinan melalui sublimasi dari tujuan ini”. Tugas ini dimengerti jika direfleksikan pada tiga finalitas di mana Tuhan di atas bumi: “manusia ditempatkan antara ciptaan-cciptaan yang nampak karena lobang/liang: penciptaan rasional; ciptaan Allah dari ciptaan lain; gambaran ciptaan dan menyenangkan penciptanya”.

e. Didattica Magna: Pendidikan dan Masyarakat: “kita semua mempunyai keinginan untuk dididik”
Setiap manusia, untuk menjadi manusia, harus dibentuk, untuk: “tidak ada seorangpun yang percaya untuk benar-benar mampu menjadi manusia, jika tidak belajar untuk berkelakuan atau bertindak dari manusia: yaitu tidak dididik kepada nilai-nilai yang menjadi manusia. Pembentukan harus memulai dari usia yang lemah lembut, ketika pikiran-pikiran banyak diterima.
f. Didattica Magna: Kebutuhan tentang sekolah untuk Pendidikan.
Pemeliharaan anak-anak menyentuh secara alamiah kepada orangtua, sebab mereka jarang …. Mereka tahu atau mereka dapat atau mereka mempunyai cukup waktu bebas dari mendedikasikan kepada pendidikan anak-anak; dan ini harus terjadi dalam istitusi persekolahan.
Berdasarkan hal ini, maka Komenius ingin membuka sekolah di mana saja: dalam setiap komunitas yang baik diorganisasi (entah kota, desa atau kampung) dibuka satu sekolah yang adalah tempat di mana pendidikan yang dibagi atau diberi kepada remaja dalam kelompok masyarakat. Penegasan tentang kebutuhan sekolah disertai oleh Komenius dari penilaian-penilaian kritis menuju situasi pada masanya, yang sebenarnya sekolah-sekolah: bukan untuk semua yang dengan tidak jelas atau samar-samar, bukaan menghadirkan di mana-mana, tidak harus mengecualikan yang kurang berbakat, tidak harus mengecualikan orang-orang yang cacat jasmani, dan tidak mengecualikan perempuan. Dalam waktu yang sama, Komenius membantah tesis dari masing-masing yang mereka takutkan konsekwensi pengajaran kepada buruh.buru, pekerja kasar (kuli), wanita-wanita kecil yang baik.
g. Didattica Magna: Metode, proses dalam bantu analog kepada alam.
Pada kekurangan-kekurangan dan pada kesalahan-kesalahan yang menonjol, Komenius menentang modelnya tentang sekolah yang diatur dengan baik, dalam semua yang diajarkan tentang semua. Di dalam dia mereka menemukan tempat-tempat ideal tentang kebijaksanaan, kejujuran dan belas kasihan; pendidikan direalisasikan dengan kehalusan budi dan keramahan, tanpa kekejaman dan terpaksa; kultur yang didistribusikan adalah benar dan solid, tidak dangkal dan di manapun diusahakan. Komenius melihat bahwa metodologia juga penting dalam praktek mengajar, dan selajutnya ia mengatakan bahwa “seni tentang mengajar tidak berhasil apa-apa yang lain bahwa suatu disposisi materi, benda, waktu secara teknis lebih dirinci.
Ususlnannya yang besar ialah kepada natura: kita berharap bahwa mengoservasi sebagai tindakan alamiah dalam memperlakukan ha lini atau hal itu, yang akan meyakinkan kita untuk berproses dalam model analog. Secara khusus, pendidik, melalui suatu tindakan yang konstan kepada alam, menekankan aspek-aspek ini:
 Suatu kecocokan pilihan dari isi-isi karena mengajar tidak berarti terlalu membebani pikiran siswa dari informasi-informasi yang mendasari pada imitasi tetapi membuka pikiran kepada intelligenza, mendapatkaan pengetahuan bukan dari buku-buku tetapi dari alam, seperti yang dibuat orang-orang antik;
 Kesederhanaan, yang mana perlu berangkat dari arti-arti;
 Perencanaan pengajaran, yang harus membuat acuan kepada obyek-obyek, kepada pengalaman, kepada buku besar dari alam;
 Menggunakan buku-buku sederhana dan nyata dengan perawatan yang maksimal;
 Tingkatan dan aturan logika-evolutif: pengajaran harus berproses dari yang lebih umum dan sintesis untuk melewati secara bertingkat pada kekhususan dan analisis;
 Kebersediaan arsistektonis sekolah;
 Mengusulkan, selanjutnya, sebuah metode untuk pengajaran ilmu secara umum, tentang seni-seni, tentang bahasa-bahasa, dan terutama tentang moral dan devosi.
 Yang terakhir, mempertahankan bahwa, metode pendidikan harus ditinggalkan jejak paada cinta, kebebasan, pada penghormatan pendidik, kepada keramahtamahan.
h. Didattica Magna: Organisasi Persekolahan
(akan bersambung)

Iklan

2 thoughts on “MENCARI ARAH PENDIDIKAN MENURUT JOHN AMOS KOMENIUS

    • trims juga. yah…hanya mencoba membagikan yang diketahui tanpa didahului dengan refleksi mendalam dan aktual. tapi tidak apa-apa, karena sedang dikembangkan lagi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s