PENDIDIKAN AGAMA DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KURIKULUM SEKOLAH

I. PENGANTAR
Rasa curiga-mencurigai antar-pemeluk agama di Indonesia menjadi aktifitas yang tiada hentinya diperbincangkan setiap kali ada gesekan api kecurigaan, terutama gesekan antara agama Islam dan Kristen, entah itu dengan istilah mengislamisasi dan mengkristenisasi.
Dengan latar belakang pluralitas budaya, adat istiadat dan agama yang ada, seharusnya kita berupaya mencari jalan ke luar yang menjadi jalan tengah pembentukan kepribadian manusia Indonesia yang sungguh pancasilais, agamais, pluralis dan nasionalis. Dengan itu tingkat kecurigaan di antara orang indonesia sendiri dapat dikurangi dan semakin ditingkatkan rasa solidaritas, kekeluargaan dan bebas berjalan bersama menuju tujuan kebahagiaan bersama.

II. SITUASI PENDIDIKAN AGAMA DI INDONESIA
Fakta bahwa setiap agama di Indonesia ingin menempatkan pendidikan agama menjadi urutan pertama dari bidang studi yang lain di sekolah. Tentu hal ini mempunyai tujuan agar anak didik dapat secara pelan dan pasti meningkatkan ketakwaan kepada Tuhannya seturut agama dan kepercayaan masing-masing. Bidang studi agama menjadi hal pertama yang harus diletakkan dalam penyusunan kurikulum di sekolah.
Pemerintah melihat ini sangat penting karena manusia Indonesia sebelum dididik untuk bereksplorasi dengan dunia teknologi dan ilmu pengetahuan, harus memperkuat pertahanan keyakinan agamanya yang menjadi pengarah hidup dan pedoman hidup menuju kebahagiaan di akhirat. Karena itu pelajaran Pendidikan Agama menjadi pelajaran wajib, yang hampir didapat sejak anak memasuki dunia pendidikan Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan malah sampai kepada perguruan Tinggi. Urutan di dalam raportpun ditempatkan pada urutan pertama

III. PELAJARAN AGAMA: MEMBENTUK KEPRIBADIAN YANG INTEGRAL?
Ini adalah pertanyaan penting dan menarik, berkaitan dengan arah dan maksud penyediaan pendidikan agama di setiap sekolah? Sejak ilmu agama dittempatkan sebagai pelajaran utama di sekolah, sudah sejauh mana pelajaran agama telah membentuk manusia Indonesia yang nasionalis, pluralis dan pancasilais? Apakah di seminari (sekolah dan institut persekolahan Kristen dan Katolik) telah diajarkan mata pelajaran agama Islam. Hindu, Budha dan agama tradisional lainnya). Apakah di pesantren milik NU dan Muhamadyah diajarkan juga agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan yang lainnya? Bagaimana dengan praktek di agama Hindu dan juga Budha? Setiap agama hamper semuanya memiliki lembaga institut persekolahan yang bercirikan keagamaannya. Ada keyakinan kita bahwa, institut-institut tersebut hanya mempraktekkan agamanya sendiri dan mengesampingkan pengetahuan dari agama yang lain.
Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa ada semacam ketakutan jika diajarkan agama yang lain di sekolah maka siswa dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dari agama yang berbeda dengannya. Mereka hanya ingin agar pelajaran agama, selalu mengedepankan dalam pengajaran bahwa agama sendirilah yang terbeaik, yang terbenar dan mengatasi dari agama yang dianut oleh orang lain. Pengajaran agama menjadi pelajaran yang menyempitkan pandangan bahwa seolah ajaran agama sendiri lebih bagus, dan sekaligus menutup mata, hati dan pikiran kepada kebenaran yang ada di dalam agama yang lain. Sejak kecil, manusia Indonesia dicekoki dengan kebenaran yang terbatas dan menutup diri kepada kebenaran yang universal.
Tidak heran jika, sejak kecil, anak sudah membiasakan diri melihat pemeluk agama lain sebagai kafir, tidak bertuhan, dan lebih fatal lagi, najis. Apa yang terjadi, sejak kecilpun anak sudah ditanamkan rasa benci, rasa tidak senang, rasa bahwa agamanya yang benar dan yang lain sebagai salah, kafir. Ini tidak hanya terjadi antara agama, tetapi juga di antara kelompok-kelompok yang ada di dalam agama tersebut. Tentu kita tidak dapat mengeneralisasi hal tersebut, tetapi ini adalah fenomena yang terjadi di mana-mana di tanha air Indonesia. Yang turut memprihatinkan lagi ialah: jika seorang anak hidup di lingkungan mayoritas (entah Islam atau Kristen), hidup keseharian mereka hanya antara rumah tempat tinggal, sekolah, dan rumah ibadah dan tanpa mengenal teman yang berasal dari keyakinan agama lain. Kapankah anak akan mencoba mengenal sesama teman sebangsa dari agama lain? Setelah memsuki perguruan tinggi di tempat yang agak pluralis atau ketika dia sudah mulai bekerja di tempat yang warga negaraanya cukup pluralis. Apakah dia akan dengan cukup sampang hidup berdampingan dan tidak merasa terganggu dengan keyakinannya?
Hal ini merupakan tantangan serius yang kita hadapi bersama sebagai bangsa yang memiliki kemajemukan dalam banyak hal. Kemajemukan ini seharusnya sudah mulai disadarkan kepada anak didik di sekolah dasar, agar mereka tidak terkejut dengan situasi masa depan yang akan mereka hadapi. Jika tidak, maka ketika anak beranjak dewasa dan mulai pergi “merantau” ke tempat yang cukup majemuk, dia akan menghadapi pelbagai gesekan ide, gesekan konsep dan gesekan ideologi yang telah ditanam sejak kecil.

IV. MUNGKINLAH ADA SOLUSI?
Jika kita membicarakan solusi maka kita berhadapan dengan suatu keberanian untuk memformat ulang konsep dan tradisi yang telah mengendap dalam dan pikiran kita. Tidak bisa kita kesampingkan bahwa pelbagai tindakan teroris dan permusuhan antara agama di Indonesia disebabkan oleh minimnya pengetahuan anak serta peserta didik akan kebenaran yang hidup dalam agama yang lain. Ketidakakuian ini menyebabkan suatu tindakan radikal yang selalu berusaha mengesampingkan agama lain atau kelompok yang ada dalam agama sendiri. Hal ini mungkin berat dan sulit, tetapi kita harus coba memulainya. Kita akan coba melihat beberapa usulan yang kiranya bisa mencairkan kebekuan kesalingcurigaan di antara orang-orang Indonesia sendiri.
Pertama, pendidikan setiap agama seharusnya diajarkan di setiap sekolah. Dengan menyediakan sarana pendidikan agama apa saja di sekolah, maka secara pelan anak akan dihantar kepada pemahaman yang benar tentang ajaran dan juga kebenaran yang ada dalam agama lain. Tentu kita harus memprioritaskan pendidikan agama kita, baru kemudian beranjak kepada agama lain. Tetapi ha lini sehaarusnya telah menjadi kebutuhan utama di setiap kurikulum sekolah. Jika kita ingin akan toleransi, maka kita harus sudah mulai sejak anak didik masih kecil. Adalah lebih baik, jika sporangi anak SD sudah mengenal sejarah umum dan kekahasan daari setiap agama di Indonesia daripada setelah dia berada di peerguruan tinggi atau setelah dia bekerja.
Kedua, pemerintah seharusnya menyediakan tenaga-tenaga pengajar agama di setiap sekolah. Seharusnya setiap sekolah memiliki guru yang bisa menguasai secara umum dan benar tentang agama-agama yang ada di Indonesia. Pasti ini mempunyai kesulitan karena mata pelajaran hanya 1 les setiap smester. Tidak mungkin kelima agama dapat diajarkan secara total untuk satu minggu. Karena itu diusulkan agar pelajaran agama menjadi pelajaran agama yang di dalamnya memuat sejarah dan ajaran singkat dari setiap agama di Indonesia, dan bukan hanya diajarkan hanya agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu atau Budha.
Ketiga, karena itu tempat pendalaman agama sendiri bukanlah sekolah tetapi di dalam keluarga dan di luar jam sekolah, misalnya di tempat pengajian, sekolah minggu, klenteng, yang diorganisir secara baik oleh insitutinya masing-masing agama. Agama yang diajarkan di sekolahpun harus berbentuk pengetahuan yang secara umum mencakup dari pelbagai aspek yang kurang lebih sama, misalnya soal sejarah, inti pengajaran, kekhasan yang seharusnya disadari dan diterima sebagai berbeda dari agamanya sendiri.
Kempat, jika ini dapat dibuat maka, secara pelan dan pasti, rasa menerima dan mengakui keberbedaan keyakinan akan semakin dipupuk dan dihargai sejak usia dini. Ini member peluang yang sangat besar untuk menghilangkan radikalisme agama yang sempit, yang memandang agama atau kelompok lain sebagai yang tidak benar, kafir dan najis. Jika benar bahwa radikalisme agama dan keyakinan yang sempit, yang akhirnya melahirkan terorisme, maka beberapa usulan ini seharusnya bisa dicoba untuk diimplementasikan dalam setiap lingkungan sekolah di Indonesia tanpa kecuali. Intinya ialah ialah, anak sejak kecil telah dibekali dengan pengetahuan agama-agama yang bukan agamanya.

V. PENUTUP
Demikianlah beberapa uraian singkat tentang tulisan ini. Mungkin ini proyek yang tidak mungkin dapat diimplemetansikan, mengingat kepentingan dari setiap agama. Tetapi jika kita ingin menciptakan rasa hormat, rasa solidaritas, rasa pluralitas dan nasionalitas, maka kita bisa mencoba untuk menerapkannya.
Kita tidak perlu mengharapkan bahwa manusia pada usia dewasa akan dengan mudah beradaptasi dengan suatu pengetahuan dan keyakinan yang baru. Itu hanya dapat dilakukan sejak usia dini. Tetapi ini semua tergantung dari petinggi-petinggi pengambil kebijakan di lingkungan pemerintah. Masyarakat, nampaknya, masih berada pada tahap menanti keputusan dari pemerintah. Ibaratkan anjing menggonggong menunggu tulang daging akan dilemparkan kepadanya atau tidak; itu pada akhirnya semuanya tergantung tuannya. Mereka hanya terus menggonggong tanda menginginkan sesuatu.

Beranda: 21 Juli 2009
SERGIO

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s