SEJARAH PENDIDIKAN: DARI YUNANI KUNO s/d 4 ABAD PERTAMA KEKRISTENAN

Manusia berada dan diciptakan dalam sejarah. Di satu sisi, manusia menentukan perjalanan sejarah tetapi di sini lain, dalam arti khusus, manusia juga diciptakan oleh sejarah. Manusia tidak bisa berada di luar dari sejarah, sebaliknya, ia selalu berada bersama dengan perjalanan sejarah. Selain itu, ia juga menemukan dirinya sebagai “yang bereksistensi” dalam sejarah dan bukan di luar sejarah. Agar perjalanan sejarah dapat bernilai maka, pertama-tama ia harus membuat dirinya bernilai di dalam dan di hadapan sejarah.
Demi pencapaian tujuan inilah maka banyak orang dalam perjalanan sejarah telah terlibat dalam memikirkan, bagaimana membuat diri manusia bernilai, bermoral dan baik sehingga mengakibatkan dunia yang bernilai, bermoral dan baik. Munculah para ahli filsafat. Pertanyaan tentang filsafat dari masa ke masa menimbulkan perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat, sampai menimbulkan muculnya ilmu-ilmu baru; mulai dari teologi dan sampai kepada teknologi.
Salah satu ilmu yang cukup berkembang yaitu pedagogi atau yang sering disebut juga dengan edukasi atau pendidikan. Perkembangan ilmu ini juga sebenarnya telah ada sejak manusia memikirkan tentang dirinya di hadapan dirinyaa, alam, lingkungan dan bahkan Tuhan. Tetapi secara perlahan, menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri, otonom.
Secara umum dapat kita kelompokkan perkembangan pedagogi menjadi 5 jaman: jaman kuno, tua (antik), jaman Kekristenan Awal, jaman pertengahan, jaman moderen dan jaman kontemporer. Di sini kita akan melihat sedikit perkembangan serta tokoh.tokoh yang telah menyumbangkan pemikiran pedadoginya kepada dunia pendidikan.
(Dalam tulisan ini, kita hanya ingin melihat garis besar serta para tokoh pedagogi. Pada kesempatan lain, kita akan melihat secara rinci, perjalanan pemikiran tentang pedagogi dalam usaha mendidik manusia pada setiap jaman).
I. ABAD TUA – KUNO
A. Di Yunani dan Romawi
1. Pendidikan pada Masa Peradaban Kuno
Pada masa peradaban tua, tekanan utama pendidikan kepada manuasia ialah bagaimana cara berusaha agar manusia tidak lupa akan segala norma yang berlaku secara lisan di tengah-tengah masyarakat. Ini berlaku untuk semua peradaban tradisional sebelum manusia mengenal alfabet (huruf-huruf). Dan cara yang paling ampuh untuk mengatasi kelupaan ialah melalui cerita lisan yang diteruskan kepada anak atau cucu, tentang segala aturan dan norma hidup, yang juga “ditetapkan” secara lisan. Begitulah dari generasi ke generasi, manusia mendidik generasi berikutnya dengan cara bercerita.

2. Pendidikan ala Homeros dan Hesiodos
Pada masa ini, pendidikan dibagi dalam 2 bagian, menurut Homeros dan Hesiodos; yang semuanya berkembang di Yunani. Pendidikan ala Homeros (dalam Illiad dan Odisea) menekankan pada menjadi manusia ideal. Manusia ideal adalam manusia yang memiliki arete. Orang yang memiliki arete ialah orang yang memiliki kekuatan fisik seperti keberanian dan juga kehebatan untuk meraih kegemilangan dan hormat. Ini dicirikan dengan menang dalam perang, kuat, besar, tampan, bicara sopan dan baik, punya nasehat yang masuk akal, kaya dan berkuasa (ide kepahlawanan). Tujuan pendidikan ialah membuat manusia memiliki kualitas-kualitas tersebut. Selain ada dua hal yang ditekankan juga dalam arete yaitu: kemampuan dalam hal gymnastik dan musik, serta memiliki kebaikan dan keindahan.
Hal yang kedua yaitu pendidikan ala Hesiodos. Pendidikan yang ditekankan Hesiodos ialah pendidikan yang membuat mereka yang dididik memiliki visi popolis (visi publik-umum-masyarakat).
Konsep arete dalam Homeros berkembang dari ide kepahlawanan menjadi keutamaan dalam pergulatan hiidup sehari-hari yang dialami kaum tani. Dasar moralitas dalam arete Hesiodos ialah keadilan dan kerja keras. Orang yang adil ialah orang yang bekerja keras. Kerja keras adalah jalaan satu-satunya menuju kepada keutamaan.
3. Pendidikan di Sparta dan Athena (Yunani)
Pendidikan di Sparta (abad VIII – VI sm), mulai dari yang lebih humanis kepada komunitaris yang anti demokrasi. Arete bukan lagi dipahami sebagai serdadu yang mengutamakan semangat patriotisme, yang dilakukan secara bebas, tetapi kegiatan pendidikan diambil alih oleh negara sebagai institusi tertinggi. Sifat pendidikan menjadi sangat tiranis, totalitarian (sedangkan di wilayah Atena, ciri pendidikan kepada masyarakat lebih demikratis, dialogis dan menghargai individu). Memang arah dan tujuan pendidikan di Sparta ialah keutamaan moral sebagai warga negara yang memiliki cinta secara total kepada tanah air, menghargai nilai kekuatan dan kekerasan, mengutamakan latihan fisik demi kesiapan tempur dan ketaatan total kepada tanah air (patria). Arete kepahlawan Homerian berubah menjadi cita-cita cinta akan tanah air, kematian demi membela tanah air adalah kematian yang indah dan membahagiaan. Kepahlawanan dalam Homerian yang lebih aristokratis berubah menjadi kepahlawanan yang sifatnya kolektif (demi orang lain-negara). Inilah awal dari kebangkitan kebangsaan atau jiwa patriotisme yang luar biasa (arete patria).
Sedangkan pendidikan di Atena lebih menekankan keharmonisan. Tatanan sosial tidak didominasi militer tetapi masyarakatlah yanag mengatur kehidupan polis (kota-negara) melalui sebaauh tata sosial politik. Sipil diberi kekuasaan yang sangat besar dan luas untuk mengurus negara dan polis. Arete Homerian yang aristokratis mulai dipraktikan oleh setiap warga negara yang ingin berprestasi. Ideal kepahlawanan dalam Homerian tidak lagi hanya milik seseorang tetapi menjadi milik setiap warga polis. Persaingan kepahlawanan di medan tempur, sekarang juga berubah menjadi persaingan dalam perlombaan di Olympiade. Sekolah-sekolah yang sebelumnya milik keluarga bangsawan berubah menjadi milik publik. Pada masa inilah muncul banyak ilmu pendidikan di sekolah: gimnastik, musik, puisi, teater, dan sastra.

4. Pendidikan menurut Para Filsuf dan Socrates
Pada sekitar abad ke-5 sm, pendidikan oleh para filsuf sangat menekankan gaya bicara retoris. Manusia dididik untuk menjadi seorang retoris, kepandaian dalam bicara atau berpidato. Orang dididik untuk mampu berbicara dengan baik dan logis serta bijaksana. Mereka diajar untuk menyebarkan gagasan dan pendapat, tata bahasa yang baik, teknik bicara serta retorika yang meyakinkan. Tujuan pendidikan ialah mencetak para orator ulung. Karena itu arete berkembang kepada yang sifatnya politis, arete politis, yang termanifestasi melalui kemampuan retoris yang indah.
Lain dengan pendapat Sokrates. Sokrates menekankan pada “jiwa”. Pendidikan harus mengantar manusia sampai kepada “penemuan jiwa” dan inilah yang sangat sentral dalam diri manusia. Jiwa ini setelah ditemukan harus dipelihara. Jiwa dilihat penting karena jiwa adalah sentral dari kegiatan berpikir, bertindak dan menegaskan nilai-nilai moral. Orang yang mampu memelihara jiwa ialah orang yang “mengenal dirinya sendiri”. Karena itu arete yang sebelumnya lebih bersifat politis berubah menjadi arete yang lebih interior, lebih kepada pengolahan dimensi moralitas manusia.

5. Pendidikan menurut Plato
Pada dasarnya, Plato menekankan penndidikan untuk “mencetak seorang filsuf pemimpin”. Kritik Plato kepada kepada pemikiran pendidikan sebelumnya: “mereka yang menjalani pendidikan hanya untuk mengejar sukses, kehormatan, dan popularitas ialah pendidikan yang tingkatnya rendah sekalai. Menurut Plato, pendidikan yang dilakukan harus menghantar orang kepada pengenalan dan penghayatan makna kebaikan dan keadilan serta kebenaran. Manusia harus mempau memelihara keharmonisan dari jiwanya dengan cara memelihara keharmonisan negara, kebahagiaan dunia dan kebahagiaan yang mengatasi dunia. Dan ini hanya dapat dimilki oleh seorang filsuf. Seorang filsuf harus mampu memikirkan kebahagiaan dunia dan yang mengatasi dunia serta mampu hidup dengan orang lain dalam alam demokratis.

6. Pendidikan menurut Isokrates
Isokrates ialah seorang guru yang sangat mulia di hadapan publik Yunani, dalam hal budaya oratoris dan pendidikan tulisan. Ia mengajarkan beberapa teori bahwa: kefasihan berbicara ialah hadiah alamiah, pengajaran tidak dapat menyempurnakan alam, para siswa, hanya dalam kasus ini, dapat memahami dari dosen yaitu sistem-sistem ide yaitu forma pembicaraan. Selain itu, Isokrates juga memperkenalkan kurikulum pendidikan, yang di dalamnya mengatur sekolah menengah atas yang mulai dibuka kepada publik dengan lamanya waktu 3-4 tahun dan setiap kelas tidak lebih dari 9 orang.
Hal lain yang penting dalam pengaturan pendidikan ialah adanya ensiklopedia, pembentukkan moral siswa melalui larangan-larangan atau perintah-perintah praktis dari pengalaman dan studi tentang sejarah, retorika diajarkan dengan peniruan, pentingnya praktek dialektika serta diterapkan ilmu matematika di sekolah sangat penting.
Tentang batas-batas paideia. Sokrates mengkritik bahwa paideia bukan ditentukan pada kedalaman opini (kebenaran-kebenaran absolut) tetapi dalam paideia retorica. Untuk pembentukan manusia, Isokrates mengembangkan sebuah konsep budaya dan formasi yang direduksikan pada praktek-praktek sikap dan tingkah laku. Obyek-obyek fondamental dari metode edukatifnya ialah: praktek nilai, keseimbangan dalam hubungannya dengan masa depan, kebijaksanaan dan kerendahan hati, serta keseimbangan interior (kedalaman jiwa manusia)

7. Pendidikan pada Peradaban Helenistik – Yunani
Sekitar abad ke-4 sm, dimulailah peride Helenis, di mana kenudayaan Romawi mulai masuk ke Yunani. Pertemuan kedua kebudayaan ini kemudian mempengaruhi juga pendidikan di yunani. Idealisme manusia tidak hanya ditemukan dalam individu (Yunani): dalam pemeliharaan jiwa Sokrates, dalam keterlibatan ala Plato manusia yang memiliki arete adalah manusia yang berada dalam sebuah dunia yang tergabung secara global melalui pelbagai macam kebudayaan dunia. Pemahaman ini membuka kepada kepada ide humanitas. Akhirnya pendidikan pada masa ini bergeser kepada pendidikan yang berciri humanitas. Inilah paideianya ala Romawi. Pada masa ini juga muncul pelbagai displin ilmu seperi matematika (Euklides), fisika (Arkhimedes), astronomi (Aristrakus), geografi (Erastisfene), dll. Lewat kebudayaan helenis, paideia Yunani berubah menjadi humanitas yang sedalam-dalamnya.

8. Pendidikan pada Masa atau Peradaban Romawi dan abad pertama dari Republik Romawi
Pada masa ini paideia Yunani mulai berkembang dan mempengaruhi pendidikan di Romawi. Tekanan utama pada paideia Romawi yang baru (yang tidak ada sebelumnya) ialah: peranan penting tadisi dan keluarga dalam pendidikan. Pendidikan di Roma pada abad-abad sebelum masehi ialah dibentuk melalui keluarga dengan cara menghormati apa yang disebut dengan mos maiorum dan sistem pater familias. Materi dasar bagi pendidikan adalah seperti mengutamakan kebaikan tanah air, la pietas (devosi), la fides (kesetiaan), la grafitas (kualitas hidup) dan la constantia (stabilitas). Semua orang yang didik harus diarahkan kepada manusia yang mempunyai keutamaan seperti 4 hal tersebu, dan ini harus dibentuk sejak orang berada di dalam keluarga.

9. Pendidikan Roma kontra Pendidikan Helenistik
Tema-tema pemikiran pada masa Helenis (dengan tokoh utamanya Aleksander Agung, 334-323 sm), berkisar pada: adanya pusat peradaban helenis, tekanan utama pada kultur dan ilmu pengetahuan, tersedianya perpustakaan dan museum, ilmu-ilmu pengatahuan khusus dan batas-batasnya, paideia dan humanisme klasik, ide-ide baru filsafat helenis. Tetapi yang paling penting dan yang menjadi ciri khas pendidikan helenis ialah paideia HUMANITAS. Semua manusia dididik untuk memiliki sikap perikemanusiaan kepada sesamanyan (ingat bahwa pada masa ini, beberapa budaya besar sudah mulai saling bertemu seperti romawi, yunani, ibrani, barbar, dll karena ekspansi bangsa Roma ke wilayah Yunani dan sampai ke Timur Tengah).
Dari segi kultur dan keilmuan. Untuk menunjang paideia humanitas dikembangkan pendidikan budaya dan juga ilmu. Orang muda mulai mempelajari hal-hal ini dar usia 7 tahun sampai dengan 19 atau 20 tahun. Selain itu juga dibangun institusi pengetahuan sebagai museum dan juga perpustakaan yang menyediakan buku-buku dari papirus. Ilmu dan batasan-batasannya terdiri atas, misalnya: matematika, astronomia, filologi (studi gramatika dan linguistik), geografi, biologi, ilmu botani, medis dan storiografi. Selain itu, telah ada juga pembagian tingkatan sekolah: sekolah dasar, sekolah menengah dan juga lapangan dan gimnasium tempat untuk pertandingan olah raga.

10. Pendidikan di Romawi pada abad-abad pertama
Pendidikan di Romawi nampaknya mempunyai ciri yang lebih khusus di mana kekahasan Romawi tetap dipertahankan. Terdapat dua ahal yang ditekankan dalam proses pendidikan kepada generasi berikut yaitu: mos maiorum dan pater familias. Dalam mos maiorum peserta didik diajarkan untuk memiliki 4 hal pokok yang harus menjadi milik mereka, yaitu: la pietas, la fides, la grafitas dan la constantia. Keempat hal ini merupakan keutamaan yang harus dimiliki oleh setiap manusia romawi. Penghormatan kepada leluhur dan warisan budaya leluhur sangat dijunjung tinggi. Karenaa itu setiap anak diajarkan untuk menghargai dan menghormati arwah leluhur serta menjadi segala tradisi yang ditinggalkan leluhurnya. Selain itu, pater familias juga sangat ditekankan dalam pendidikan jaman romawi kuno. Pater familias mau menekankan bahwa seorang ayah sangat berperan penting dalam pendidikan kepada anak-anaknya. Sebelum anak berumur 7 tahun, ia dididik oleh ibunya, tetapi setelah itu ia akan melihat, meniru dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak (dengna berpedoman pada pekerjaan ayahnya). Ke mana ayahnya pergi, ia akan juga menngikutinya untuk belajar darinya.

11. Marco Fabio Quintiliano – institut Oratoria
Masa ini berkisar dari tahun 35 s/d 95 m. tema-tema pokok yang ditawarkan oleh Quintiliano ialah: pendidikan dan mengajar antara Republik Romawi dan Imperium Romawi, tujuan pendidikan adalah menjadi pembiara atau orator yang kompleks. Aspek pedagogi sudah harus dimulai pada tahun pertama masa kanak-kanak, ada keyakinan dalam diri semua manusia, menekankan juga pada kualitas pendidikan keluarga, pendidikan sebelum sekolah foraml, nasihat didatik kepada bacaan dan tulisan, telah adanya sekolah privat dan publik, guru retorik, mengembangkan talenta dan bakat natural dan menjadi seorang orator sempurna.
Sudah terdapat tiga tingkat pendidikan yang ditawarkan oleh Quintiliano: primaaria, secondaria dan superiore. Dalam tingkat primaria (dasar), mereka mempelajari literatur dan ludi magister. Sedangkan pada tingkat secondaria (menengah) mereka mempelajari gramatika dan juga adminisstrasi. Sedangkan pada tingkat superiore (atas) mereka mempelajari retorika serta bagaimana dilaksanakan.
Beberapa aspek penting dalam pendidikan, bahwa tujuan utama dari institut orator ialah membentuk orator yang komplet, bermoral, berkultur dan menjadi profesi. Karena itu pendidikan harus sudah dimulai dari tahun pertama anak-anak, pendidikan pra-sekolah harus dimulai dengan belajar permainan, pendidikan harus sesuai dengan bakat alam.

B. Pendidikan pada Awal Kekristenan (4 abad pertama)
1. Pendidikan Masa Kekristenan Tua = elemen pedagogi
Pada masa ini, tekanan utama pendidikan mulai berbeda. Muncul elemen-elemen fondamental dalam dunia pendidikan yang berlainan dengan cakrawala Yunani dan juga Romawi, walaupun di sana-sini terdapat kesamaan juga. Ide-ide biblis yang sangat fondamental, yang mewarnai pendidikan pada masa ini yaitu seperti, tekanan kepada monoteisme (dari politeisme yunan dan romawi), penciptaan – creazionisme (oleh Tuhan dan bukan dewa-dewa), antroposentisme (lawan dari kosmosentrisme yunani), pemeliharaan pribadi, dosa asal, dimensi baru tentang iman dan roh kudus, agape kristen (lawan dari eros yunani),revolusi nilai kristiani – kotbah di bukit, kebangkitan kristiani (lawan immortalitas yunani), arti baru sejarah dan hidup manusia.
Tujuan utama pendidikan ialah agar manusia menjadi SANTO (kudus) seperti Tuhan yang dari kekal adalah kudus. Inilah yang oleh orang kristen disebut dengan virtus christiana dan charitas christiana. Misi pendidikan kepada anak-anak dan kepada semua manusia mencakup tiga organ penting yaitu, dalam keluarga, gereja dan juga masyarakat.

2. Abad-abad Pertama Kekristenan
Aspek-aspek pedagogi pada masa ini sangat dipengaruhi oleh kitab suci yang sudah mulai ditulis oleh para murid Yesus serta oleh Paulus dan juga surat-surat lainnya. Kekristenan makin berkembang dan pendidikan bagi orang kafir untuk masuk ke dalam agama kristen perlu dipersiapkan dengan baik. Karena itu, unsur-unsur atau tema dari pendidikan dapat kita lihat dalam beberapa hal. Pertama, perhatian kepada anak-anak. Ini dipengaruhi oleh perhatian Yesus kepada anak-anak, kaum wanita dan juga kaum lemah. Kedua, ialah tentang tanggung jawab pendidikan keluarga (bisa dibaca dalam efesus 6:1-4). Ketiga, ialah pendidikan bagi katekumeen (orang kafir yang akan masuk ke dalam gereja kristen). Keempat, pengajaran dan nasehat-nasehat dari para bapa gereja. Dan kelima ialah, bagaimana mengatur orang muda kristen yang bersekolah di sekolah kafir.

Iklan

14 thoughts on “SEJARAH PENDIDIKAN: DARI YUNANI KUNO s/d 4 ABAD PERTAMA KEKRISTENAN

  1. halo mas, boleh nggak aku taruh artikel ini di blogku? kebetulan aku baru memulai sebuah blog dgn wacana pendidikan kritis.. blognya masih diprivate krn masih aku rapiin. nanti akan aku sertakan juga link dari artikel ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s