KEMERIAHAN NATAL DAN KESERHANAAN PASKA

080cxMemasuki bulan Desember, orang kristen selalu disibukkan dengan persiapan pesta Natal dan natal dan juga Tahun Baru. Sudah sejak jauh-jauh hari orangtua sudah mulai memikirkan apa rencana pada masa Natal nanti. Membuat kue, membelanjakan pakaian baru, mengunjungi keluarga lain untuk bernatalan, mempersiapkan makanan istimewa, serta acara-acara kekeluargaan lainnya. Mungkin itu hanya sebatas pada persiapan jasmani. Tetapi hal lain ialah persiapan secara rohani. Orang kristen disibukkan dengan pelbagai latihan koor, vokal group, natal kelompok kategorial, membuat drama atau fragmen serta rekoleksi atau retret sehari sebelum merayakan natal. Semuanya serba dipersiapkan dengan baik.

Tetapi sebaliknya pada perayaan Paskah. Pada masa paskah, nampaknya, orang kristen kurang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan seperti di atas. Paling-paling seperti latihan koor dan juga petugas-petugas dalam liturgi masa Paska. Lebih dari itu sudah tergantung dari inisiatif beberapa orang.

Pertanyaan kita ialah: mengapa perayaan natal lebih menyedot perhatian banyak orang dari pada perayaan paska? Padahal, masa Natal hanya berlangsung selama 2 minggu sedikit, sedangkan masa paska justru sampai 50 hari, di luar satu minggu untuk minggu suci, jumlah hari yang cukup lama jika dibandingkan dengan hari-hari dalam masa natal. Padahal, perayaan inti dalam umat kristen ialah paska dan bukan natal. Peristiwa paskah menyebabkan banyak perubahan dalam seluruh tradisi kristen. Paskah kebangkitan Tuhan, menyebabkan orang kristen pertama sebagai “para teolog kristen purba” memikirkan kehidupan Yesus sejak kelahiran-Nya sampai pada kebangkitan-Nya. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa Natal Yesus “diciptakan” karena ada peristiwa paska yang sangat luar biasa itu. Tanpa paskah, orang tidak akan merayakan natal Yesus sampai dengan sekarang ini. Jadi, paskah adalah titik berangkat seluruh sejarah kekristenan dan juga liturgi kristen. Tetapi mengapa peristiwa paska justru ditempatkan “seolah-olah” nomor dua dari pada natal dalam fakta konkrit kehidupan orang kristen? Beberapa alasan dapat kita uraikan:

Pertama, peristiwa natal lebih sebagai “fakta kongkrit” sedangkan peristiwa paska lebih kepada “fakta iman”. Bagi mereka yang tidak mengerti bahasa iman atau bahasa religius, akan sulit mengerti konsep pertama ini. Natal sebagai “fakta kongkrit” karena memang peristiwa natal dapat dilihat secara kasat mata, dirasakan dan yang lebih penting lagi semua manusia (dan juga binatang) membuka sejarah kehidupannya melalui peristiwa natal, kelahiran. Dan peristiwa ini tidak berlalu begitu saja, tetapi dirayakan, dipestakan secara meriah oleh orangtua, keluarga dan juga kerabat serta orang-oang sekampung. Banyak orang hadir memestakan peristiwa natal kita. Dan peristiwa itu secara terus menerus diulangi setiap tahun dalam perayaan hari ulang tahun kelahiran. Pada perayaan ulang tahunpun, banyak orangpun masih merayakan seccara lebih meriah. Sedangkan peristiwa paskah, kebangkitan jasmani, siapakah dari antara manusia yang pernah mengalaminya? Mungkin orang Kristen akan mengatakan, Lazaruspun sudah pernah bangkit, tetapi orang akan mengatakan: “itu kan kata Kitab Suci”. Tetapi untuk membuktikan itu pada jaman modern ini, agaknya sulit, karena belum ada orang yang sudah bangkit dari dalam kubur. Tetapi bagi orang kristen, kebangkitan Yesus adalah sebuah peristiwa besar, peristiwa yang sangat mengagumkan dan menggempakan seluruh dunia. Mereka selihat peristiwa kebangkitan Yesus sebagai majizat terbesar yang pernah di alami dalam sejarah alam semesta dan sejarah manusia. Dan ini adalah “fakta iman” yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang yang tidak seiman. Banyak orang, umat dan juga para teolog, telah berusaha menjelaskan peristiwa ini dari terang akal budi dan selalu tidak memuaskan. Karena itu, tidak heran jika setiap periode tertentu, selalu muncul penjelasan-penjelasan tentang kebangkitan Yesus berdasarkan Kitab Suci, tetapi dalam cara yang lebih baru dan segar. Karena itu maka, benar orang kristenpun lebih cenderung merayakan natal dengan lebih meriah dari pada paska.

Kedua, pesta natal menjadi pesta masyarakat luas sedangkan pesta paska hanya sebatas pada orang kristen. Seperti yang telah dikatakan di atas, peristiwa natal bukanlah klaim orang kristen, tetapi pengalaman natal adalah pengalaman seluruh umat manusia, kristen dan non kristen. Karena hakekat dari natal adalah kegembiraan maka setiap manusia selalu merayakan natalnya secara gembira pula dengan melibatkan sekian banyak orang. Ini beda dengan paska yang hanya dirayakan oleh orang kristen. Peluang merayakan paska secara meriah lebi cenderung melibatkan “ssedikit orang” sedaangkan perayakan paska lebih cenderung melibatkan “banyak orang”.

Ketiga, pengaruh natal terhadap pasar bisnis. Karena secara pelan-pelan, Natal dilihat sebagai pesta tahunan rakyat maka terbukalah peluang ke praktek bisnis. Munculnya kartu natal, naiknya harga barang-barang seperti kebutuhan pokok dan juga terbelih pakaian, ongkos kendaraan pun ikut naik, dan lain sebagainya adalah tanda bahwa permintaan bisnis pasar di masa natal sangat meningkat. Ini berbeda dengan pada masa paska. Kecuali itu, tenggat waktu untuk liburan kerja dan juga sekolahpun berbeda. Ketika natal, kebanyakan sekolah dan kantor lebih lama menerapkan waktu liburnya karena bisa sampai setelah tahun baru baru masuk kerja dan sekolah, sedangkan pada waktu paskah hanya beberapa hari saja. Ini sangat mempengaruhi cara pandang kita tentang pentingnya sebuah pesta, baik itu natal maupun paskah. Orang Kristen saja sudah sulit mengerti peristiwa paska dengan akal budi, bagaimana harus dirayakan dengan lebih meriah daripada natal?

Dari beberapa hal di atas, sangat penting bagi orang Kristen untuk membuktikan kepada diri sendiri dan juga kepada orang lain bahwa inti dari sejarah dan perjalanan hidup kekristenan kita berawal dari Paska Yesus, kebangkitan Yesus. Rasul Paulus pernah berkata: “kalau Yesus tidak bangkit, sia-sialah iman kita”. Paulus tidak mengatakan, “jika Yesus tidak lahir, sial-sialah iman kita”. Tekanan utama perayaan religius dalam kekristenan ialah kebangkitan Yesus. Bagi Yesus inilah adalah “fakta iman sekaligus fakta kongkrit” dan tidak hanya sekedar “fakta iman”. Paulus mengatakan hal tersebut bukan karena dia beriman, tetapi dia, Paulus, dan juga rasul-rasul lain, telah bertemu dengan Yesus yang bangkit itu. Bagi mereka, ini bukan hanya iman tetapi kenyataan. Karena kebangkitan Yesus adalah kenyataan maka, mereka berani bertaruh dengan penguasa, kaum kafir, penjajah roma, pengadilan dan bahkan kematian untuk memberikan kesaksian tentang kebangkitan yang Yesus yang kongkrit itu. Dan dalam sejarah gereja, pembelaan ini selalu dibayar dengan kesaksian, dengan keberanian dan terlebih lagi dengan darah dari mereka yang beriman kepada-Nya sampai pada kematian yang ngeri. Ribuan, jutaan atau malah lebih, dari orang-orang yang membela akan fakta iman dan fakta kongkrit dari kebangkitan Yesus. Mereka bukanlah orang-orang bodoh tetapi mereka berasal dari segala kaum, dari masyarakat jelata sampai kepada tokoh-tokoh jenius dunia ini.

Dari fakta tersebut maka, seharusnya paska lebih dirayakan secara meriah. Tetapi karena terbentur pada “pengalaman kongkrit” dan “pengalaman iman” dalam pengalaman kemanusiaan manusia, maka menjadi kesulitan besar untuk menghayati paska secara lebih meriah. Tetapi ini justru menjadi tantangan besar bagi seluruh umat kristen dalam menghayati imannya secara benar dan mendalam. Benar bahwa kegiatan natal dan paska secara ekumenis semakin ditingkatkan, tetapi kualitas perasaan dari kedua perayaan tersebut tetap mempunyai perbedaan.

Hal yang sangat penting bagi seluruh umat manusia ialah bahwa pengalaman religius yang diwariskan tidak harus diterangkan secara gamblang dan masuk akal kepada dunia. Terdapat tingkatan wilayah dalam keseluruhan pengalaman manusia. Pengalaman-pengalaman itu terbentang dari pengalaman empiris, pengalaman analitis dan sampai kepada pengalaman religius. Pengalaman empiris dan analitis masih dapat dimasuki oleh pihak lain secara bebas, tetapi jika sampai kepada pengalaman religius, maka ini menjadi wilayah privat yang harus mengertinya dengan iman. Setiap agama di dunia memiliki wilayah privat ini. Inilah pengalaman religius yang diwariska dalam setiap agama dan kepercayaan. Kebenaran dan kesahihan dari pengalaman ini hanya dapat dijelaskan secara iman pula.

Karena itu, jika muncul sebuah pertanyaan: mengapa natal dirayakan secara lebih meriah dari pada paskah, maka kita harus melihatnya dari segi wilayah-wilayah pengalaman empiris-sosial dan berjalan terus sampai kepada pengalaman religius-iman. Kalau orang kristen merayakan natal secara lebih meriah berarti karena pengalaman natal memang sangat menyentuh pengalaman keseharian, dan itu tidak hanya dialami oleh orang kristen tetapi oleh semua manusia dan malah makhluk hidup. Tetapi jika paska hanya dirayakan secara sederhana, itu karena paskah adalah pengalaman iman-religius dalam kalangan keluarga kristen saja, dan sedikit saja menyentuh pengalaman dari semua manusia. Tetapi entah bagaimanapun, setiap orang kristen tetap dipanggil untuk membuktikan imannya secara jelas-nyata dalam kehidupan dengan sesama dan lingkungan. Iman yang tidak dihidupi secara nyata adalah iman yang mati. Maka setiap orang kristen seharusnya merayakan natal dan paska secara meriah, karena keduanya bukan saja perayaan dari pengalaman kongrit dan iman yang berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang utuh dalam hidup kekristenan kita.

Beranda, 24 Desember 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s