NATAL TUHAN: PESTA KEKELUARGAAN UNTUK SEMUA

Setiap tahun orang Kristen selalu merayakan Natal menurut waktu yang ditetapkan, antara 24 dan 25 Desember. Juga untuk memeriahkannya secara lebih khusus, beberapa denominasi gereja telah mulai merayakan sebelum tanggal tersebut di atas. Terlepas dari segala penilaian apakah cocok atau tidak cocok merayakkan sebelum tanggal tersebut atau dirayakan lebih cepat, yang pasti bahwa pesta natal setiap tahun selalu mengundang perhatian semua manusia di seluruh dunia, entah yang beragama Kristen ataupun yang bukan beragama Kristen.

Tentu yang beragama Kristen mereyakannya di Gereja atau di rumah sedangkan yang tidak beragama kristen berpartisipasi dengan mengingatnya, turut hadir pada acara Natal berrsama orang Kristen ataupun hanya memandangnya dari jauh.

Dari kenyataan yang dapat disaksikan dan dialami, Natal adalah sebuah pesta kekeluargaan dari setiap umat manusia. Peristiwa kelahiran bukan hanya klaim umat Kristen, tetapi menjadi pengalaman eksistensial dari setiap manusia. Semua manusia lahir, hidup dan kemudian meninggal. Ini adalah fakta eksistensial, yang tidak seorangpun dapat menyangkalnya. Setelah dilahirkan ke dunia dari ibunya, seorang anak kemudian dipestakan menurut tradisi, adat istiadat, kultur dan juga menurut agamanya masing-masing. Ia kemudian diinisiasikan ke dalam kelompok masyarakat tempat di mana dia diinkarnasikan, hidup, berkembang dan akhirnya juga meninggalkan kelompok masyarakat dengan meninggal dunia. Intinya ialah bahwa awal dari kehadirannya adalah suatu kegembiraan yang selalu diungkapkan oleh mereka yang merasa memilikinya: keluarga, kerabat, sahabat, kenalan dan bahkan kelompok tempat dia akan bergabung. Hal seperti ini dapat kita telurusi dalam setiap budaya manusia di dunia. Pengalaman pertama akan kehadiran di dunia selalu dialami sebagai yang istimewa dan selalu mempengaruhi orang-orang sekitarnya.

Agama kristen hanyalah salah satu dari sekian banyak kelompok sosial dan kelompok agama-religius yang ada. Kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat, yang juga diimani sebagai Allah, telah menjadi sebuah cerita hidup, suatu cerita yang selalu dirayakan setiap tahun oleh semua orang Kristen. Yesus adalah “cerita Allah” di dunia karena Yesus memang selalu menceritakan tentang sifat-sifat Allah dan hal-hal yang berkaitan dengan kualitas-kualitas Allah; dan Yesus juga adalah ceritera itu sendiri. Sejak awal kelahiran-Nya, pengaruh tentang diri-Nya hanya sebatas pada keluarga, para pengikut dan juga bangsa Israel dan juga bangsa Roma yang sedang menduduki tanah Israel waktu itu. Tetapi setelah hidup dan terutama wafat dan kebangkitan-Nya, pengaruh-Nya mulai merambah ke seluruh dunia, mulai dari negeri Israle dan sampai ke seluruh dunia. Ini adalah sebuah peristiwa besar.

Kelahiran dan kehadiran-Nya di dunia menjadi kegembiraan yang besar. Kegembiraan itu bukan hanya dialami oleh orangtua Yosep dan Maria, tetapi juga keluarga, sahabat kenalan, penduduk kampung Nasareth dan bahkan termasuk kawanan binatang, para malekat dan penghuni surga (menurut cerita kitab suci). Ini adalah sesuatu yang luar biasa, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Semua bergembira dan berbahagia menyambut kelahiran-Nya dan kedatangan-Nya. Yang merayakan kelahiran Yesus waktu itu bukanlah orang-orang Kristen, bukan orang-orang Israel, bukan juga orang-orang yang tinggal di rumah doa. Yang merayakan kelahiran Yesus waktu itu ialah Yosep dan Maria orangtua-Nya, para gembala, kawanan ternak dan para malekat surga. Pesta kelahiran ini mewakili seluruh isi jagat raya: manusia, binatang, benda mati, dan penghuni surga; singkatnya dunia dan surga. Dan inilah alasan dikatakan mengapa kelahiran Yesus itu sungguh luar biasa, melebihi kelahiran manusia lainnya di atas bumi.

Yang menarik perhatian kita ialah bahwa kelahiran Yesus itu bukan menjadi milik orang Kristen semata, karena kelahiran itu bukan juga untuk orang Kristen. Kelahiran itu bersifat sederhana sekaligus luar biasa, dan terjadi di hadapan semua orang, semua hal, dan juga penghuni surga. Yesus lahir dan hadir untuk semua. Setelah ia dewasa, Ia juga bekerja di hadapan semua, dan bukan bekerja untuk kelompok-Nya. Ia memang mempunyai kelompok (12 rasul) tetapi merekapun akhirnya bekerja untuk semua, untuk pergi dan melayani seluruh dunia. Dengan demikian, pesta Natal seharusnya dimaknai sebagai pesta kekeluargaan untuk semua manusia. Ini adalah sebuah pesta kegembiraan karena seseorang yang datang dari Tuhan, telah lahir, hadir dan melayani semua orang. Spiritualitas inkarnasi Yesus melalui peristiwa kelahiran-Nya seharusnya menjadi peristiwa spiritualitas semua manusia untuk semakin berani melayani seluruh masyarakat, seluruh manusia, seluruh alam semesta. Jika kita melakukan secara meriah pesta Natal, itu berarti tersirat suatu arti bahwa kita ingin juga memeriahkan pelayanan kita yang tulus dan murni bagi semua orang, seperti yang telah ditunjukkan Yesus kepada dunia. Spiritualitas pelayanan sebenarnya tidak hanya menjadi klaim orang Kristen tetapi seharusnya menjadi milik semua orang, yang menamakan dirinya sebagai pelayan masyarakat, entah dalam lingkup yang kecil maupun dalam lingkup yang lebih besar.

Peristiwa Natal seharusnya menjadikan semua orang yang merayakannya bergembira, berbahagia, dan bersukaria karena seseorang yang dinantikan telah lahir. Peristiwa Natal seharusnya membuat semua orang sadar bahwa manusia dan alam semestanya adalah satu keluarga yang tidak terpisahkan. Hal itu harus membahagiaan semua, tanpa kecuali karena agama dan pola pikir yang berbeda. Kebahagiaan natal harus dirayakan bersama oleh semua manusia, dipraktekkan bersama dan dialami bersama dalam hidup bersama pula. Kita seharusnya lepas dari anggapan bahwa natal Yesus adalah natalnya orang Kristen. Dari satu sisi hal itu benar, tetapi dari sisi lain, sisi sosial kemasyarakatan, Natal itu menjadi milik kita semua. Kita perlu menghadirkan peristiwa tersebut dalam kebersamaan kita, dalam dunia sosial kita yang terancam retak dan hancur oleh keegoan dan individualisme yang kian kuat. Kita harus merayakan Natal Tuhan bukan hanya karena kita orang Kristen tetapi karena kita adalah satu keluarga Allah. Jika hal ini dapat terjadi maka secara pelan-pelan, dunia kita akan mengalami sebuah dunia dengan wajah baru, wajah kelahiran baru, wajah keluarga baru, wajah persaudaraan baru dan wajah kehidupan yang baru. Jika kebaruan dapat tercipta dalam kebersamaan hidup kita, maka benar bahwa NATAL ADALAH PESTA KEKELUARGAAN UNTUK SEMUA.

dsc027482

Roma: Senin 22 Desember 200

giuslay.74@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s