Memahami Bahasa Religius

dsc00634I. PENGERTIAN

Bahasa Religius ialah bahasa yang dipakai dalam “percakapan” religius untuk mengungkapkan keberadaan dan kualitas sesuatu yang berkaitan dengan bidang agama-religius. Bahasa Religius tidak memiliki pernyataan faktual yang menunjuk pada fakta-fakta aktual yang khusus. Bahasa Religius harus dibedakan dari bahasa dan fakta ilmiah – karena pernyataan-pernyataan dalam bahasa religius sama sekali mengandung arti yang berbeda.

Pembicaraan tentang Tuhan Yesus telah bangkit, Nabi Mohamad menerima Al Qur’an langsung dari Allah, Tuhan berbicara dengan Nabi Yosua, dan pelbagai ungkapan percakapan religus lainnya, tidak menunjuk kepada fakta khusus dan ilmiah, dan yang harus dibuktikan secara fisik dan ilmiah pula.

Benar bahwa semua bahasa religius selalu menimbulkan permasalahan jika diangkat ke dalam konteks dialog. Pertama-tama harus dimengerti bahwa ada pergeseran dari pengungkapan konteks sekular kepada konteks teologis-religius. Bahasa selalu bergerak dari pengungkapan sekular dan kemudian diadaptasikan kepada pengungkapan religius. Kata “baik”, “mencintai”, “memerintah”, “mengampuni”, “mendengar”, dan lain-lain seperti inilah yang selalu menimbulkan problematis dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam konteks beda agama dan kepercayaan.

II. PRINSIP ANALOGIS DARI THOMAS AQUINAS

Prinsip analogi yang dicetuskan Thomas Aquinas mau membantu kita untuk memahami bahasa religius. Analogi berarti sebuah kata itu sama tetapi beda arti, tergantung dari konteks percakapan. Prinsip analogi ini berbeda dengan prinsip univok, kata yang hanya memiliki arti pada dirinya sendiri. Kata “baik” yang dikenakan pada “adaan” dan “Allah”, tidak bisa dipahami secara univok tetapi harus dimengerti secara analog. Jadi menurut pandangan Thomas dan kaum Scholastic, baik yang digunakan secara religius maupun adaan bukan “univok” atau “ekwivok” tetapi “analog”.

Sebagai contoh, kata “setia”. Seekor anak anjing yang setia dan seorang bawahan yang setia kepada majikannya. Kedua kalimzt ini sama-sama memiliki kata “setia” tetapi muatan kualitas dari kata “setia” yang dikenakan pada anjing beda dengan kata “setia” yang dikenakan pada manusia.

Ini juga menyangkut inferior dan superior. Kata teolog Katolik Baron von Hugel: “sumber dan obyek agama, jika agama memang benar dan obyeknya nyata, sungguh tidak dapat, dengan kemungkinan apapun, terang bagi saya, seperti halnya saya dengan anjing saya. Sebab yang kita anggap berhubungan dengan realitas-kenyataan, inferior bagi diri kita sendiri. Demikian juga Aku dengan Allah. Dia begitu superior terhadap Aku, sehingga Aku tidak bisa berbicara banyak tentang realitas-Nya. Realitasku inferior bagi realitas-Nya yang sangat superior”.

III. PERNYATAAN RELIGIUS SEBAGAI SIMBOL OLEH PAUL TILLICH

Paul Tillich membedakan antara tanda dan simbol. Tanda ialah benda atau barang yang menjadi alamat atau yang menyatakan sesuatu. Tanda juga berarti cap, merek, pengenal, ciri, bukti, gejala, isyarat, dan gelagat. Sedangkan simbol berarti lambang untuk menyatakan sesuatu. Tanda menandakan apa yang ditandakannya. Misalnya lampu merah di jalan raya, menandakan pengemudi harus berhenti. Di dalamnya mengandug sifat konvesional; sebuah tanda yang telah diterima umum. Sesuatu disebut simbol selalu mau menyatakan sesuatu yang disimbolkan. Simbol bukan diinstitusikan secara beruah-ubah, seperti tanda-tanda konvensional namun timbul dari ketidaksadaran individual dan kolektif dan karenanya mempunyaii arti yang turun menurun. Simbol membuka tingkat-tingkat realitas yang dekat dengan kita dan sekaligus membuka dimensi dan unsur-unsur jiwa kita, yang berhubungan dengan aspek baru dari dunia yang diungkapkannya.

Menurut Tillich, iman religius hanya dapat mengungkapkan diri dalam bahasa simbolis. Setiap kata yang dipakai dalam pengungkapan religius selalu menunjuk kepada “yang ada di seberang” darinya sendiri, tetapi sekaligus mengambil bagian dalam apa yang ditunjukkannya sendiri. Bahasa atau pengungkapan iman ialah pengungkapan simbolik, karena itu tidak bisa menyatakan diri secara adekwat. Kecuali nama Allah sendiri, semuanya bersifat simbolis.

Dari doktrin “analogi” Thomas Aquino menuju menuju ke “partisipastif” Tillich. Segala yang disifatkan pada “Ada” adalah bentuk partisipasi; mengambil bagian dalam “Ada” itu sendiri. Misalnya, baik mengambil bagian dalam proposisi Allah yang baik.

IV. IAN CROMBIC Cs: DOKTRIN INKARNASI

Pertama dulu, kita harus mengerti perbedaan tajam atribut metafisik Allah dan atribut moral (Kristus yang tak terbatas dan Kristus yang terbatas dalam pribadi kemanusiaan-Nya). Pernyataan Allah baik, pengasih dan penyayang, setia, dan lain-lain, terinkarnasikan dalam diri Kristus, diungkapkan secara kongkrit dalam relasi dan diri kemanusiaan Kristus.

Entah apapun yang kita katakan, kita harus memakai perumpamaan untuk memikirkan Allah; dan itu menuntut bahasa religius, bukan bahasa iptek-teknis. Hal-hal yang kita katakan tentang Allah, dikatakan atas otoritas Sabda dan tindakan Kristus, yang berbicara dalam bahasa manusia, dengan menggunakan perumpamaan, dan kita juga berbicara tentang Allah dalam perumpamaan-perumpamaan otoritatif. Kita memang melihatnya secara samar-samar dalam perumpamaan tersebut tetapi kita juga yakin akan sumber perumpamaan itu.

V. jh. randal : Bahasa religius, sebagai bahasa Non-Cognitif

Pernyataan dalam percakapan sehari-hari dapat dibedakan dalam dua jenis: kognitif dan non kognitif. Semuanya tergantung pada apa itu fakta faktual atau tidak. Pernyataan kognitif selalu dapat dianalisa melalui fakta-kongkrit. Ucapan non-cognitif tidak bisa dikatakan tantang benar-salahnya, karena tidak bisa dianalisa dari fakta-fakta.

Nah, bagaimana dengan proposisi-proposisi teologis, merupakan cognitif atau non-cognitif? Teori dewasa ini mengatakan, bahasa religius lebih bersifat non-cognitif. JH. Randal dalam buku “The Role of Knowlege in Western Religion” memberikan empat fungsi dari simbol religius.

Pertama: simbol itu membangkitkan emosi dan mendorong orang untuk bertindak. Ini meyakinkan dan menguatkan orang untuk semakin percaya akan apa yang dianggapnya benar. Kedua: simbol merangsang aksi kooperatif dan dengan demikian mengikat suatu komunitas bersama melalui respons yang sama terhadap simbol itu. Ketiga: simbol itu mampu mengkomunikasikan kualitas pengalaman yang tidak dapat diungkapkan dengan bahsa sehari-hari. Keempat: simbol itu menjelaskan pengalaman manusia akan suatu aspek dunia yang dapat disebut sebagai “tatanan kemuliaan” atau “tatanan yang ilahi”.

VI. Rb. Braithwaite: bahasa religius sebagai bahasa non-cognitif

Secara lebih jauh dan mendalam lagi, Braithwaite mengatakan bahwa bahasa religius terutama berfungsi dalam bidang etika. Di dalamnya mengandung pernyataan, entah sadar atau tidak, kesetiaannya kepada seseorang akan apa yang dilakukannya. “jika saya menyatakan bahwa Allah itu penuh cinta, berarti saya juga mau setia kepada apa yang saya katakan bahwa saya saja penuh cinta kepada orang lain”.

Ini sedikit berpengaruh kepada pandangan dan kebijaksaan dalam 2 (dua) agama yang sama ciri dan nilai kebijaksanaannya. Tetapi itu tidaklah penting. Yang penting ialah bagaimana para penghayat agama itu sungguh hidup menurut apa yang dihayatinya.

VII. PENUTUP

Dari beberapa pandangan para filsuf dan teolog di atas, John Hick telah mencoba memberikan masukan berarti bagi diskusi dalam pencarian titik temu dialog antar agama dunia. Kita semakin menyadari bahwa setiap agama memiliki cara mengungkapkan penghayatan akan iman dan kepercayaan. Itu semua berada dalam lingkup penggunaan bahasa agama. Ini beda dengan bahasa iptek dan bahasa teknis lainnya.

Tugas kita ialah mencoba mengerti, memahami dan menghargai setiap pengungkapan bahasa agama-religius yang dipakai oleh setiap penghayat agama. Dengan demikian curiga-mencrigai antar pemeluk agama dapat diselesaikan atau paling tidak dapat dinetralisir.

Diolah dari tulisan John Hick,

dalam “Philosophy of Religion” New Jersey, 1973, hlm. 69-96

Mela, Sibolga: Kamis, 17 Mei 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s