EKLEKTISISME KURIKULUM 2013


Ketika membolak balik tulisan opini di Kompas Cetak.com, saya menemukan artikel bagus tentang pendidikan di Indonesia terutama diskursus mengenai pro kontra kurikulum baru 2013, tulisan sdr. Doni Kusuma. Semoga tulisan ini bisa mencerahkan kita dalam menyikapi program pemerintah tentang kurikulum 2013.

Selamat membaca

Sebagai orang yang pernah studi khuGambarsus tentang kurikulum dan pengajaran, membaca kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam Kurikulum 2013 saya seperti mengikuti sebuah alur perjalanan pendidikan yang aneh.

Nalar saya tak dapat memahami dan daya imajinasi saya tidak dapat membayangkan seperti apa praktek pembelajaran Kurikulum 2013 ini di kelas, bagaimana sistem evaluasinya, dan betapa sibuknya guru karena bingung menerapkan Kurikulum 2013 di kelas. Saya coba menemukan di mana letak keanehan dan kecanggungan ini. Akhirnya saya menemukan satu penjelasan resmi tentang mengapa Kurikulum 2013 memang terasa aneh, di mana kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) sepertinya dipaksa-paksakan. Alasan ini ada dalam pilihan filsafat yang melandasi Kurikulum 2013, yaitu filsafat eklektisisme!

Dalam buku penjelasan tentang KI dan KD untuk sekolah dasar tertulis, “filosofi yang dianut dalam kurikulum adalah eklektik”. Selain menyebut kehadiran filsafat eklektik, aliran filsafat lain juga disebutkan, seperti perenialisme, esensialisme, humanisme, progresifisme, dan rekonstruktifisme sosial.

Karena filosofi yang dianut dalam kurikulum adalah eklektik, seperti dikemukakan di bagian landasan filosofi, nama mata pelajaran dan isi mata pelajaran untuk kurikulum yang akan dikembangkan tidak perlu terikat pada kaidah filosofi esensialisme dan perenialisme.

Saya yakin, kalau kita tanya kepada para guru tentang aliran-aliran filsafat yang disebutkan dalam penjelasan KI dan KD Kurikulum 2013, dapat dipastikan mereka tidak banyak tahu tentang aliran-aliran filsafat itu. Jadi, penyebutan berbagai macam aliran filsafat di atas tidak akan memiliki banyak arti bagi guru karena mereka sebagian jarang berurusan dengan pemikiran filosofis seperti di atas.

Arus pemikiran pendidikan
Filsafat pendidikan perenialisme atau tradisionalisme pada intinya ingin mengatakan bahwa prinsip-prinsip pendidikan yang fundamental, yang ada sekarang ini, sesungguhnya telah ada dari dulu. Prinsip ini berlaku sepanjang masa—di mana pun dan kapan pun—sebab telah teruji keampuhannya bagi peradaban umat manusia.

Maka, tugas pendidikan mewariskan prinsip-prinsip dasar pendidikan dan nilai-nilai kebajikan yang berlaku universal kepada generasi kini dan yang akan datang agar mereka dapat hidup secara bermartabat. Fakta-fakta akan berubah, tetapi prinsip pendidikan tetap. Inilah yang harus diajarkan di sekolah.

Filsafat pendidikan esensialis sebaliknya, yakni ingin mengajarkan hal-hal yang mendasar, tetapi tak fundamental, melainkan esensial yang dibutuhkan peserta didik, berupa pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan agar mereka bisa hidup di dunia nyata. Filsafat ini tidak mengutamakan isi pengetahuan, tetapi mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan. Dengan keterampilan ini, siswa dapat hidup di masyarakat.

Filsafat humanisme merupakan gerakan filsafat yang muncul pada abad ke-14. Filsafat ini ingin mengembalikan dimensi manusia ideal yang ada dalam sastra klasik, di mana pembelajaran kebudayaan dan bahasa klasik jadi salah satu sarana untuk sampai pada pembentukan manusia ideal. Filsafat humanisme dalam pendidikan tetap mengutamakan materi, program, guru, dan metode pembelajaran sebagai bagian utama pendidikan.

Adapun filsafat pendidikan progresif merupakan satu pendekatan yang menentang ketiga aliran di atas. Filsafat progresif, yang mulai muncul abad ke-19 dengan tokoh antara lain John Dewey, Ovide Decroly, dan Maria Montessori. Pendekatan ini oleh Dewey disebut sebagai Revolusi Kopernikan dalam pedagogi. Pusat pedagogi tradisional, seperti dalam perenialisme, humanisme, dan esensialisme adalah program studi, guru, disiplin ilmu, dan metode. Dalam pedagogi pendidikan baru ini terjadi perubahan pusat gravitasi, yaitu pada siswa.

Filsafat pendidikan progresif, sering kali disebut juga dengan belajar melalui pengalaman langsung, tidak jarang menuai kritik karena pendekatannya yang terlalu berpusat pada anak sehingga melepaskan konteks hidup anak di masyarakat. Ia juga melulu mengorientasikan pendidikan pada apa yang dibutuhkan anak.

Padahal, masyarakat akan menjadi lebih baik kalau kita juga mempersiapkan peserta didik agar mampu memperbarui tatanan masyarakat yang ada menjadi lebih baik. Inilah garis besar filsafat pendidikan sosial rekonstruksionisme.

Filsafat pendidikan ini ingin mengatakan bahwa masyarakat yang ada sekarang berada dalam keadaan krisis sehingga model pendidikan mestinya melahirkan generasi pembaru sejarah. Suatu generasi yang mampu melahirkan individu guna mengubah tatanan masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan kekuatan kehendaknya. Kita tak cukup sekadar membentuk individu jadi seorang yang cerdas dan berakhlak mulia, tetapi juga seorang yang peduli, mau, dan mampu mengubah tatanan masyarakat yang ada sekarang ini menjadi lebih baik, lebih adil, lebih manusiawi, dan layak huni.

Kelemahan eklektisisme

Filsafat eklektik pada hakikatnya adalah ingin memilih yang terbaik dari banyak pendekatan. Istilah ini secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu eklektikos, yang artinya memilih atau menyeleksi. Eklektik adalah menggabungkan hal-hal yang berbeda, yang sebenarnya tidak cocok satu sama lain, jadi satu mosaik tersendiri. Pendekatan tidak melihat bahwa hal-hal yang dipilih itu secara natural, fundamental, cocok dan dapat diintegrasikan, tetapi sekadar menggabung-gabungkan apa yang baik menjadi satu kesatuan. Karena itu, pendekatan eklektik sering kali dianggap sebagai pendekatan yang tidak elegan, gabungan kompleks yang tidak jelas, jauh dari kesederhanaan berpikir secara nalar, serta sering kali dianggap tidak memiliki konsistensi dalam pemikiran.

Inkonsistensi pemikiran dan pemaksaan sebuah ide dalam sebuah sistem besar Kurikulum 2013 adalah sebuah keniscayaan karena pilihan pendesainnya bertumpu pada filsafat eklektik. Karena itu, tidak heran ketika bunyi salah satu butir KD dalam matematika adalah seperti ini: “Menunjukkan perilaku patuh, tertib, dan mengikuti aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan sesuai secara efektif dengan memerhatikan nilai tempat ratusan, puluhan, dan satuan.” Inilah integrasi antara pendidikan karakter dan matematika!

Kerancuan pemikiran filosofis dalam pendidikan, terutama saat mendesain kurikulum, akan berdampak besar pada proses pembelajaran dan pengajaran, sistem evaluasi, serta tercapai atau tidaknya proses pembelajaran seperti yang dipaparkan dalam KD dan KI. Kita pasti tidak rela bila uang rakyat yang besarnya Rp 2,4 triliun itu dipergunakan untuk sebuah perubahan kurikulum yang digagas dalam ketergesaan, di mana potensi gagalnya lebih besar daripada berhasilnya.

Pilihan filsafat eklektik tak lain adalah wujud kemalasan berpikir, simplifikasi persoalan, dan pilihan jalan pintas paling gampang. Filsafat eklektik dapat jadi jalan pintas rasionalisasi dan menghindar dari tanggung jawab ketika terjadi berbagai macam persoalan; mulai dari pilihan materi pengajaran, metode, sistem evaluasi, bahkan gagal dalam eksekusinya. Sebab, semua hal bisa dijustifikasi dan dirasionalisasi melalui pendekatan eklektik!

Doni Koesoema A

Pemerhati Pendidikan

Sumber tulisan: Kompas 5 April 2013, hal. 7

PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI UNTUK MASA PRAPASKAH 2013


1.       Kata Pengantar

Saudara/i yang terkasih,

Perayaan Paskah, dalam konteks Tahun Iman, menawarkan kepada kita sebuah kesempatan istimewa untuk memeditasikan tentang relasi antara iman dan kasih: antara percaya dalam Tuhan, dalam Tuhan Yesus Kristus, serta dalam cinta, yang adalah buah dari tindakan Roh Kudus dan membimbing kita dalam perjalanan menuju pendedikasian diri kepada Allah dan sesama.

 

2.      Iman sebagai Jawaban kepada Cinta Allah

Dalam Ensiklik yang pertama, saya telah menawarkan beberapa elemen untuk mengumpulkan keterkaitan secara erat antara dua keutamaan teologal ini, iman dan kasih. Berangkat dari penegasan fundamental Rasul Yohanes: “Kita telah mengakui dan percaya cinta Allah dalam diri kita” (1Yoh. 4:16), mengingatkan bahwa “ketika mulai berada sebagai orang Kristen tidak ada sebuah keputusan etis atau ide yang besar, melainkan perjumpaan dengan sebuah kedatangan, dengan sebuah horizon dan dengan keputusan terarah … Seperti Allah yang telah mencintai kita sejak semula (1 Yoh 4:10), sekarang cinta tidak lebih sebuah ‘perintah’, tetapi adalah jawaban kepada pemberian cinta, dengan mana Allah datang berjumpa dengan kita” (Deus caritas est, 1). Iman membangun komitmen pribadi – yang merangkum semua kemampuan-kemampuan kita – kepada pewahyuan tentang cinta kasih cuma-cuma dan “menghidupkan” bahwa Allah memiliki kita dan memanifestasikan diri secara penuh dalam Yesus Kristus. Perjumpaan dengan Cinta Allah, yang memanggil tidak hanya dengan hati, tetapi juga intelek: “Pengakuan tentang Allah yang hidup adalah sebuah jalan menuju cinta, dan peng– ia–an dari kehendak kita kepada kesatuan intelek, kehendak dan perasaannya dalam tindakan yang total dengan cinta. Oleh karena itu, ini adalah sebuah proses yang berjalan secara terus menerus: “cinta yang tidak pernah ‘tersimpulkan’ dan terkompletkan” (Ibid., 17). Dari sini datanglah kepada seluruh orang Kristen dan, secara khusus, kepada ‘para pekerja kasih’, kebutuhan akan iman, yang mana “bertemu dengan Allah dalam Yesus Kristus yang mengilhami dalam cinta mereka dan membuka jiwa mereka kepada yang lain, begitulah bahwa cinta mereka kemudian tidak lebih dari suatu perintah yang diatur untuk mengatakan dari luar tetapi sebuah konsekuen yang datang dari iman mereka yang menjadi karya dalam cinta” (ibid., 31a). Seorang kristen adalah seorang pribadi yang ditaklukan dari cinta Kristus dan karena itu, keterharuan dari cinta ini, “caritas Christi urget nos” (2Cor 5,14)-, adalah terbuka dalam bentuk yang lebih dalam dan konkret kepada cinta untuk yang akan datang (cfr. Ibid., 33). Sikap demikian lahir terutama dari kesadaran untuk dicintai, dimaafkan, terlebih lagi dilayani oleh Tuhan, yang membungkuk untuk membasuh kaki para rasul dan menyerahkan diri-Nya sendiri di salib untuk menarik manusia kepada Allah.

“Iman menawarkan kepada kita Allah yang telah memberikan Anak-Nya untuk kita dan mengilhami dalam diri kita kemenangan pasti yang adalah benar: Allah adalah cinta! … Iman, yang dinyatakan dalam cinta Allah telah menyatakan dalam hati Kristus tersalib, dibangkitkan dalam wajah-Nya yang mencintai. Dia adalah terang – dalam dasar keunikan – yang menerangi selalu secara baru sebuah dunia yang gelap dan memberikan kepada kita keberanian untuk hidup dan bertindak” (ibid., 39). Semua itu membuat kita mengerti bagaimana sikap dasar yang dibedakan orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh “cinta yang didasarkan pada iman dan darinya dibentuk” (ibid., 7).

 

3.      Kasih sebagai Hidup Iman

Seluruh hidup kekristenan adalah sebuah jawaban cinta Allah. Jawaban pertama adalah iman sebagai penerimaan yang penuh untuk kekaguman dan rasa syukur dari sebuah inisiatif yang keterlaluan keallahan yang mendahului dan mendesak kita. Dan “ya” keimanan menandakan awal dari sebuah sejarah yang bercahaya tentang persahabatan dengan Allah, yang memenuhi dan memberikan arti penuh kepada seluruh eksistensi kita. Karena itu Allah tidak puas bahwa kita menerima cintanya secara gratis. Dia tidak membatasi diri dalam mencintai kita, tetapi Dia ingin menarik kita kepada Diri-Nya sendiri, mentrasformasikan diri kita dalam bentuk yang begitu mendalam untuk membawa kita dan mengatakan seperti Santo Paulus: “bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristuslah yang hidup di dalam Aku” (Gal 2,20).

Ketika kita meninggalkan jarak kepada cinta Allah, kita menjadi serupa dengan Dia, berpartisipasi dalam kasih-Nya. Kita membuka diri kita kepada cinta-Nya berarti meninggalkan bahwa Dia hidup di dalam kita dan membawa kita untuk mencintai Dia, dalam Dia dan seperti Dia; hanya iman kitalah menjadi sungguh-sungguh “berkarya melalui kasih” (Gal 5,6) dan Dia mengambil tempat di dalam kita (cfr. Gv 4,12).

Iman adalah mengetahui kebenaran dan mengikutkan kalian (1 Tim 2,4); belas kasih adalah “berjalan”dalam kebenaran (cfr. Ef 4,15). Dengan iman, di masukan ke dalam persahabatan dengan Allah; dengan belas kasih dihidupi dan dirangkul persahabatan ini (cfr. Gv 15,14s). Iman menjadikan kita mengumpulkan perintah Allah dan Guru; belas kasih menghadiahkan kepada kita kebahagiaan untuk meletakkannya dalam praktek (cfr. Gv 13,13-17). Dalam iman, kita diperanakkan sebagai anak-anak Allah (cfr. Gv 1,12s); belas kasih menjadikan kita berharap akan penyelenggaraan secara konkret  dalam peranakan ilahi, membawa buah Roh Kudus (cfr. Gal 5,22). Iman membuat kita mengakui pemberian-pemberian Allah yang baik yang meyakinkan kita; belas kasih menjadikan mereka berbuah (cfr. Mt 25,14-30).

 

4.      Ketidakterpisahan Jalinan antara Iman dan Kasih.

Dalam terang apa yang telah dikatakan di atas, disimpulkan dengan jelas bahwa kita tidak pernah dapat memisahkan, dan lagi, mempertentangkan iman dan kasih. Dua keutamaan teologal ini secara intim disatukan dan merupakan menyesatkan untuk melihat keduanya sebagai suatu pertentangan atau sebuah “dialektika”. Dari satu sisi, itu adalah sikap yang terbatas dari siapa yang meletakkan dalam bentuk yang begitu kuat tekanan pada prioritas dan menentukan tentang iman dari evaluasi dan hampir membenci karya-karya konkret tentang kasih dan mereduksikan ini pada umanitarianisme umum. Tetapi dari sisi lain, sikap yang terbatas mempertahankan sebuah supremasi yang berlebihan tentang kasih dan karyanya, memikirkan bahwa karya-karya mengambil tempat iman. Untuk sebuah hidup spiritual yang sehat, perlu menghindari baik dari fideisme maupun dari aktivisme moral.

Keberadaan kekristenan terdiri atas sebuah pendakian ke gunung yang terus-menerus bertemu dengan Tuhan dan selanjutnya turun kembali, membawa cinta dan kekuatan yang datang dari padanya, dalam bentuk untuk melayani para saudara dan saudari kita dengan cinta Tuhan yang sama. Dalam Tulisan Suci kita melihat seperti semangat dari para Rasul untuk mewartakan Injil yang membangkitkan iman yang secara sempit dihubungkan pada kebelaskasihan yang pertama tentang pelayanan kepada orang-orang miskin (cfr KisRas 6,1-4). Di dalam Gereja, kontemplasi dan aksi disimbolkan dalam bentuk tertentu dari figur pewartaan Maria dan Marta, yang harus ada dan terintegrasi (cfr. Luk 10,38-42). Prioritas selalu berhubungan dengan Allah dan sharing pengalaman injili yang benar harus mengakarkan dirinya dalam iman (cfr. Katekese kepada Pendengar Umum) pada 25 April 2012. Sering juga cenderung, pada seputar batasan “kasih” kepada solidaritas atau kepada pertolongan kemanusian yang sederhana. Adalah penting mengingat bahwa karya yang maksimal tentang kasih adalah penginjilan yang sungguh-sungguh, yaitu “Pelayanan Sabda”. Tidak terdapat tindakan yang lebih baik, dan begitu berbelas kasih, menuju masa depan yang memecahkan roti Sabda Allah, sadar berpartisipasi pada Kabar Baik Injil, memasukannya dalam hubungan dengan Allah: penginjilan adalah promosi yang lebih tinggi dan integral tentang pribadi manusia. Seperti tertulis Hamba Allah Paus Paulus VI dalam Ensiklik Populorum Progressio, adalah pewartaan tentang Kristus yang pertama dan faktor utama perkembangan (cfr. n. 16). Adalah keoriginalitas kebenaran cinta Allah untuk kita, dihidupi dan diwartakan, yang membuka eksistensi kita kepada penerimaan cinta ini dan memungkinkan perkembangan integral kemanusiaan dan setiap manusia (cfr. Ensiklik Caritas in Viritate, 89).

Secara substansi, semua ambil bagian dari cinta dan terarah kepada cinta. Cinta cuma-Cuma dari Allah meninggalkan catatan bagi kita melalui pewartaan Injil. Jika kita menerimanya dengan iman, kita menerima kontak pertama dan tidak dapat dipikirkan dengan kemampuan keallahan untuk membuat kita “jatuh CINTA”, untuk kita dimorare dan bertumbuh dalam CINTA ini dan mengkomunikasikan itu dengan gembira kepada yang lain.

Dalam proposito tentang hubungan antara iman dan karya kasih, sebuah ekspresi dari Surat Paulus kepada jemaat di Efesus, menyimpulkan dalam bentuk yang lebih baik korelasi mereka: “demi rahmat kalian telah diselamatkan melalui iman; dan itu tidak datang dari kalian, tetapi adalah hadiah Allah; baik itu yang datang dari karya, karena tidak seorang pun dapat membanggakannya. Kita adalah karyanya, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk karya-karya yang baik, yang Tuhan siapkan karena dalam dia kita berjalan” (2,8-10). Diperkirakan di sini bahwa semua inisiatif, selama membatasi kebebasan kita dan tanggung jawab kita, menyadarkan keotentikannya dan mengorientasikannya kepada karya kasih. Ini semua adalah buah yang secara prinsip dari kekuatan manusia, dari kebanggaan, tetapi tersembunyi dalam iman yang sama. Aliran dari Rahmat yang besar yang Tuhan tawarkan. Sebuah iman tanpa karya adalah seperti pohon tanpa buah: dua keutamaan ini terimplikasi secara resiprokal. Masa Prapaskah mengundang kita, dengan indikasi-indikasi tradisional untuk kehidupan kristen, untuk menambahkan iman melalui sebuah pendengaran yang lebih mendalam dan diperpanjang dengan Sabda Allah dan partisipasi kepada Sakramen-sakramen, dan, dalam saat yang sama, untuk bertumbuh dalam kasih, dalam cinta menuju Allah dan menuju masa depan, juga melalui indikasi-indikasi konkret tentang puasa, dengan penitensi dan tentang amal.

 

5.      Prioritas Iman, yang Pertama Kasih

Seperti setiap pemberian Allah, iman dan kasih  memimpin kepada tindakan yang unik dan medesimo Roh Kudus (cfr. 1 Kor 13), di mana Roh yang dalam kita berteriak “Abbà! Bapa” (Gal 4,6), dan yang mengatakan kepada kita: “Gesus adalah Tuhan!” (1 Kor 12,3) dan “Maranatha”! (1 Kor 16,22; Ap 22,20).

Iman, pemberian dan jawaban membuat kita mengetahui kebenaran tentang Kristus sebagai CINTA yang terinkarnasi dan tersalib, penuh dan kesempurnaan yang taat kepada kehendak Bapa dan kemurahan keallahan yang tidak terbatas menuju masa depan; iman radikal dalam hati dan dalam pikiran keyakinan kuat bahwa inilah CINTA adalah realitas kemenangan yang unik pada kejahatan dan kematian. Iman mengundang kita untuk melihat  pengharapan, dalam penantian dengan penuh yakin bahwa kemenangan tentang Cinta Kristus bertambah pada kepenuhan-Nya. Dari pihaknya, kasih membuat kita masuk dalam cinta Allah yang termanifestasi di dalam Kristus, membuat kita ikut dalam bentuk personal dan eksistensial untuk memberi diri yang total dan tanpa  syarat kepada Yesus kepada Bapa dan kepada para saudara. Menanamkan  kasih dalam diri kita, Roh Kudus menyadarkan kita untuk berpartisipasi dalam dedikasi Kristus: memperanakkan menuju Allah dan persaudaraan menuju manusia (cfr. Rm 5,5).

Hubungan yang eksis antara dua keutamaan ini adalah analogi pada apa yang antara dua Sakramen  Gereja mendasar: Pembaptisan dan Ekaristi. Pembaptisan (sakramentum fidei) mendahului Ekaristi (sakramentum caritatis), tetapi diarahkan kepadanya, yang membangun kepenuhan perjalanan kekristenan. Dalam bentuk analogi, iman mendahului kasih, tetapi dinyatakan asli hanya jika dimahkotai dari dia. Semua bagian dari penerimaan yang rendah hati dari iman (“tahu dicintai oleh Allah”, tetapi harus menambahkan pada kebenaran kasih (“tahu mencintai Allah dan masa depannya”), yang tinggal selalu, sebagai kesempurnaan) dari semua keutamaan.

Saudara-saudara terkasih, dalam masa Prapaskah ini di mana kita mempersiapkan diri kita untuk merayakan peristiwa Salib dan Kebangkitan, dalam mana CINTA ALLAH telah membebaskan dunia dan menerangi sejarah, saya mengucapkan selamat kepada kalian untuk menghidupi masa yang begitu hikmat dalam memulai kembali iman dalam Kristus Yesus, untuk masuk dalam lingkaran cinta-Nya menuju Bapa dan menuju setiap saudara dan saudari yang kita jumpai dalam hidup kita. Untuk ini saya menekuni doa saya kepada Allah, sementara saya meminta kepada masing-masing dan pada setiap komunitas Berkat Tuhan!

 Vatikan, 15 Oktober 2012

diterjemahkan secara bebas oleh Sergius Lay.

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN


(tulisan ini disadur dari koran kompas.com hari senin 2 juli 2012). http://edukasi.kompas.com/read/2012/07/02/09463238/Pendidikan.yang.Membebaskan

Sudah berapa puluh kali Kompas dan media massa lain mengabarkan kehebatan sosok-sosok pembaru yang cerdas dan berdedikasi tinggi di bidang pendidikan.

Kompas (4/6/2012), misalnya, menggambarkan sosok Suyudi, sukarelawan yang mendirikan sekolah alam di Klaten. Anak didik tidak diperlakukan sebagai obyek, namun subyek yang turut menentukan nasibnya sendiri. Melalui sekolah alam, ia ingin menunjukkan bahwa pendidikan yang sesungguhnya adalah memperlakukan anak agar menjadi manusia yang utuh. Tidak sekadar menjejalkan aneka informasi dan ilmu, tetapi juga bagaimana mengajak anak didik menemukan dirinya.

Dalam bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan. Sekolah alam ala Suyudi, dan yang bertebaran di tempat lain, ingin mengoreksi sistem pembelajaran terutama di tingkat dasar dan menengah yang cenderung satu arah. Pendidikan pada dasarnya adalah upaya penanaman sikap hidup, pandangan hidup, nilai-nilai tentang kehidupan, dan keterampilan hidup.

Pertanyaannya, kalau seorang Suyudi saja bisa mengembangkan pendidikan yang kreatif dan menyenangkan seperti ini, mengapa pemerintah tidak mengembangkannya juga? Yang terjadi di dunia persekolahan formal kita adalah suasana stres karena anak-anak dikejar ketuntasan pelajaran yang membosankan, yang tidak terkait dengan kebutuhan dan realitas keseharian, serta ujian nasional yang menekan saraf psikologisnya.

Dunia pendidikan harus menciptakan peluang bagi pembudayaan individu agar kapasitasnya berkembang, demikian pakar-pakar seperti Bertrand Russell, Paulo Freire, Ivan Illich, Montessori, Neil Postman, Ki Hadjar Dewantara, Moch Sjafei, dan Dewi Sartika. Mereka berbicara tentang pendidikan dari kacamata yang berbeda dan luas, terutama berkaitan dengan ”pemerdekaan” dari ”kebudayaan bisu”.

Dalam teori konflik, tampak bahwa peran sekolah disadari atau tidak juga melegitimasi dominasi elite sosial, bahkan sekolah merupakan bagian dari kepentingan masyarakat untuk mempertahankan struktur sosial, stratifikasi sosial, dan melayani kelas sosial tertentu. Dapat dipahami jika kelompok masyarakat miskin adalah pihak yang paling susah mengikuti irama pendidikan.

Perkembangan berbeda

Meski penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa rata-rata IQ bayi berumur kurang dari dua tahun tak berbeda signifikan, faktor-faktor ketika anak berangkat besar, seperti kekurangan gizi dan sarana pendidikan, membuat anak dari golongan miskin jauh tertinggal. Orang kaya sanggup ”menghadirkan” sekolah di rumah: ada guru les piano, komputer, dan seterusnya.

Umumnya, anak-anak orang miskin bersekolah di lingkungan kumuh, terbelakang, dan akrab dengan kekerasan. Lingkungan yang tidak ramah ataupun rasa percaya diri yang rendah menjadikan anak miskin cenderung agresif, mudah terprovokasi, dan mudah tersinggung.

Relevansi sekolah alam ala Suyudi juga terkait dengan meredupnya pamor IQ sebagai salah satu ukuran kecerdasan. Mengutip David Brooks dalam The Waning of IQ, Ninok Leksono (Kompas, 19/9/2007) menulis: ”Sementara psikometrika menawarkan daya tarik semu fakta obyektif, sains baru membawa kita kembali ke dalam kontak dengan sastra, sejarah, dan kemanusiaan, dan—pada akhirnya—ke keunikan individu”.

Banyak orang yang tinggi IQ-nya tetapi tidak sukses meniti karier, bahkan untuk sekadar bergaul. Buku Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, Howard Gardner (Basic Books, 1983) menyebut ada tujuh macam kecerdasan.

Kecerdasan-kecerdasan itu adalah 1. kecerdasan linguistik (kecakapan dan kepekaan terhadap arti dan tata kata); 2. Kecerdasan logika-matematika; 3. Kecerdasan musikal (untuk memahami dan mencipta musik); 4. Kecerdasan spasial (kecerdasan berpikir dalam gambar atau visual); 5. Kecerdasan tubuh-kinestetik (keterampilan olah tubuh untuk berekspresi seperti penari, olahragawan); 6. Kecerdasan antarpribadi atau interpersonal, yakni kecakapan untuk memahami individu lain; serta 7. Kecerdasan intrapersonal, yakni kecakapan untuk memahami diri dan menggunakan pengalamannya untuk membimbing orang lain. Masih ada kecerdasan lain, yaitu kepemimpinan edukasional.

Dalam proses tersebut semestinya semua aspek pendidikan dikaji secara kritis sehingga menghasilkan suatu bentuk sekolah yang merupakan ajang interaksi berbagai latar belakang masyarakat untuk saling memahami dalam suasana kesetaraan, keadilan, dan penghormatan. Sekolah menjadi bangunan budaya dalam arti luas.

Gagasan pendidikan multikultural ini sangat menarik jika dikaitkan dengan negeri multietnis seperti Indonesia. Sebagaimana disinggung Huntington sebelumnya, masalah integrasi nasional menjadi persoalan serius bagi negara yang baru merdeka dengan multietnis-nya.

Saat ini tugas mendidik anak diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Kalau anaknya tidak berhasil dalam menempuh kehidupan, sadar atau tidak, pihak sekolah yang disalahkan. Padahal orangtua yang sibuk mengejar karier. Kenyataan ini merupakan buah kehidupan keluarga pada zaman modern. Ini yang banyak mendatangkan stres, terutama bagi anak-anak, karena perubahan pola kerja orangtua.

Pranata sosial retak

Dalam artikelnya berjudul ”Go East Young Man” di Far Eastern Economic Review (1994), Mahbubani menunjukkan gejala retaknya pranata sosial di Barat seperti peningkatan angka bunuh diri, kehamilan remaja, dan kriminalitas.

Sekolah, yang mestinya merupakan tempat belajar, bermain, berteman, dan mengembangkan jati diri, pada akhirnya tidak menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Bahkan tidak jarang anak justru takut kepada gurunya. Beban pekerjaan rumah, guru yang otoriter, orangtua yang terlalu memaksa agar anaknya berprestasi menjadikan anak trauma untuk pergi bersekolah. Kasus anak-anak yang bunuh diri gara-gara dimarahi guru atau diolok-olok temannya lalu menjadi berita keseharian.

Fakta seperti itu disebut oleh Prof Kurt Singer dari Universitas Munchen, Jerman, sebagai fenomena ”sekolah yang sakit” atau Wenn schule krank macht. Sekolah menjadi tempat penuh sensor, guru yang selalu mengawasi dengan tanpa batas etika-psikologis, perintah sekolah yang selalu menjadi diktator dan mematikan bakat, sekolah menjadi pengadilan yang selalu penuh hukuman sehingga mengakibatkan kegelisahan, ketakutan, penuh ancaman. Semua fenomena ini disebut Kurt Singer sebagai schwarzer paedagogik atau ”pedagogi hitam” (Sindhunata, 2001).

Indonesia tampaknya perlu segera menata kembali sistem pendidikannya agar mencetak anak-anak yang bahagia menjalani proses belajarnya, baik di sekolah maupun di rumah.

Saratri Wilonoyudho Dosen Universitas Negeri Semarang. Anggota Dewan Riset dan Ketua Koalisi Kependudukan Jateng

SEJARAH LAHIRNYA SEA GAMES


SEA Games adalah singkatan dari Southeast Asian Games yang merupakan pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Nama ini baru resmi dipakai pada tahun 1977, ketika Indonesia dan Filipina masuk menjadi anggota.
Sebelumnya, pesta olahraga yang bertujuan mempererat kerja sama, pemahaman dan hubungan antar-negara di kawasan ASEAN ini, menggunakan nama Southeast Asian Peninsular Games atau yang disingkat SEAP Games.


Pada 22 Mei 1958, delegasi dari negara-negara Asia Tenggara yang menghadiri Asian Games ketiga di Tokyo, Jepang, melakukan pertemuan dan sepakat membentuk sebuah organisasi olahraga. Dan konsep SEAP Games pun meluncur dari Laung Sukhumnaipradit, yang kemudian menjadi Wakil Presiden Komite Olimpiade Thailand.

Thailand, Burma (sekarang Myanmar), Malaya (sekarang Malaysia), Laos, Vietnam Selatan dan Kamboja (dengan Singapura dimasukkan kemudian) adalah negara-negara pelopor. Mereka setuju untuk mengadakan ajang ini dua tahun sekali. Selain itu, dibentuk juga Komite Federasi SEAP Games.

SEAP Games pertama diadakan di Bangkok dari 12 sampai 17 Desember 1959, diikuti oleh lebih dari 527 atlet dan panitia dari Thailand, Burma, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Laos. Mereka berlaga dalam 12 cabang olahraga.

Pada SEAP Games VIII tahun 1975, Federasi SEAP mempertimbangkan masuknya Indonesia dan Filipina. Kedua negara ini masuk secara resmi pada 1977, dan pada tahun yang sama Federasi SEAP berganti nama menjadi Southeast Asian Games Federation (SEAGF), yang kemudian dikenal dengan sebutan Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara.

Setelah itu, jumlah negara anggota terus bertambah. Pada SEA Games X di Jakarta, Indonesia, Brunei masuk dan selanjutnya giliran Timor Leste yang ikut ambil bagian pada SEA Games XXII di Hanoi, Vietnam.

Sejak 1977 hingga 2009, ada beberapa negara yang sudah menjadi tuan rumah sebanyak tiga kali, yaitu Malaysia (1977, 1989, 2001) , Filipina (1981, 1991, 2005), Indonesia (1979, 1987, 1997), dan Thailand (1985, 1995, 2007). Sementara itu, Singapura baru dua kali menjadi tuan rumah (1983, 1993), Brunei dan Laos hanya sekali, pada tahun 1999 dan 2009.

Sea Games terakhir diselenggarakan di ibukota Laos, Vientiane, 2–18 Desember 2009 terutama digelar di Stadion Nasional Laos. Ini adalah kali pertama negara tersebut menjadi tuan rumah pesta olahraga tersebut. Diikuti 11 negara dan menjadi peringatan 50 tahun Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara diselenggarakan. Juara umum Sea Games 2009 diraih Thailand.

Disadur dari Kompas, Sea Games 2011

Beranda, 20 November 2011

Sergio Lay

HARI RAYA TUHAN YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM


Bacaan: Yeh 34:11-12.15-17; 1Kor 15:20-26a.28; Mat 25:31-46
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

“Bapak teko, awake dewe poso” (= Bapak berkunjung, kita semua berpuasa), demikian keluh kesah atau gerutu para pedagang kaki lima dan tukang becak di wilayah kota Semarang ketika Presiden Suharta berkunjung ke Semarang guna membuka Konggres Bahasa Jawa di sebuah hotel beberapa tahun lalu. Mengapa para pedagang kali lima dan tukang becak menggerutu dan merasa harus berpuasa, karena selama dua hari mereka ‘tidak boleh bekerja’ alias tidak boleh berdagang dan ‘mbecak’, demi kebersihan jalan-jalan kota Semarang yang mendapat kunjungan Presiden. Tidak bekerja berarti tak ada masukan sedikitpun bagi mereka, maka benarlah bahwa mereka mengatakan harus berpuasa. Pada tahun yang sama secara kebetulan Paus Yohanes Paulus II berkunjnng ke Indonesia, antara lain ke Yogyakarta bagi umat wilayah Keuskupan Agung Semarang. Pada peristiwa kunjungan Paus di Yogyakarta ini baik pedagang kaki lima maupun tukang becak sungguh diuntungkan, karena banyak orang yang memakai jasa mereka. Dan memang Paus pun juga minta agar diundang 20 tamu VVIP dalam kunjungannya, dan yang dimaksudkan dengan tamu VVIP tidak lain adalah mereka yang sakit, cacat, lansia, bayi dst.. . Pemimpin dunia memang berbeda dengan pemimpin agama, menejemen bernegara memang berbeda dengan menejemen menggereja. Pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam hari ini kita diajak untuk mengenangkan dan merefleksikan makna ‘raja’ serta fungsinya sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, maka marilah kita renungkan isi Warta Gembira hari ini.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40)
Yesus, Raja Semesta Alam, datang dan melayani dalam kesederhanaan dan kemiskinanNya serta berpihak pada/bersama dengan yang miskin dan berkekurangan atau ‘yang paling hina’. Sebagai umat beriman atau beragama, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil untuk meneladanNya, khususnya mereka yang berfungsi sebagai pemimpin maupun yang berpartisipasi dalam kepemimpinannya. Paus, pemimpin Gereja Katolik senantiasa menyatakan diri sebagai ‘hamba dari para hamba yang hina dina’, sedangkan para uskup menyatakan diri sebagai ‘hamba yang hina dina’.
“Preferential option for/with the poor” = Keberpihakan kepada/bersama yang miskin, itulah salah satu prinsip hidup menggereja sebagai paguyuban umat beriman, yang harus kita hayati dan sebarluaskan. Untuk itu kita sendiri hendaknya hidup dan bertindak secara sederhana serta memiliki sifat-sifat sebagaimana dihayati oleh orang-orang miskin yang baik dan berbudi pekerti luhur. Maka baiklah di akhir tahun Liturgy ini kita mawas diri: apakah kita semakin tumbuh berkembang dalam iman sehingga semakin meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, yang sederhana dan miskin serta datang untuk memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan dengan rendah hati. Orang-orang miskin dan hina baik secara material maupun spiritual kiranya ada di sekitar kita, berada di lingkungan hidup maupun kerja kita, maka marilah kita perhatikan mereka dengan penuh pelayanan dan kerendahan hati. Cirikhas orang miskin yang baik dan berbudi pekerti luhur, antara lain: bekerja keras dan senantiasa siap sedia untuk mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya.

Berinspirasi pada Warta Gembira hari ini kita diharapkan memperhatikan mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, terpenjara dan sakit, entah secara material maupun spiritual. Untuk itu kita memang harus siap sedia berjuang dan berkorban. Memperhatikan secara material berarti siap sedia untuk mengorbankan sebagian kekayaan atau harta benda/uang kita bagi mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, terpenjara atau sakit. Sedangkan secara spiritual antara lain kita harus dengan suka rela dan jiwa besar berani memboroskan waktu dan tenaga kita bagi mereka yang ‘terasing, terpejara dan sakit’ maupun ‘lapar, haus dan telanjang’ secara spiritual alias mereka yang kurang diperhatikan alias yang paling hina. Kunjungan bersama kepada mereka yang sedang dipenjara, yang diasuh di aneka panti asuhan kiranya juga merupakan salah satu bentuk penghayatan iman kepada Yesus, Raja Semesta Alam, yang berpihak pada/bersama yang miskin dan berkekurangan. Selanjutnya marilah kita renungkan sapaan Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.

“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22)
Kutipan di atas ini kiranya mengingatkan kita semua perihal janji baptis, yaitu ketika dibaptis kita berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan’. Maka baiklah pada Hari Minggu Terakhir tahun Liturgy atau Hari Raya Tuhan kndaita Yesus Kristus Raja Semesta Alam hari ini kita mawas diri perihal perkembangan penghayatan janji baptis, yang telah kita ikrarkan dengan bangga dan gembira ketika dibaptis.

Pertama-tama marilah kita mawas diri perihal ‘mati dalam persekutuan dengan Adam’ atau janji menolak semua godaan setan: apakah kita senantiasa menolak godaan setan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Godaan setan dalam menggejala dalam bentuk tawaran atau rayuan untuk ‘gila terhadap harta benda/uang, jabatan/pangkat/kedudukan atau kehormatan duniawi’. Yang paling menggoda pada masa kini kiranya harta benda atau uang sebagaimana telah menguasai para koruptor, karena dengan uang orang dapat hidup dan bertindak menurut kemauannya sendiri, meskipun untuk itu akhirnya akan menderita selamanya. Orang yang dirajai atau dikuasai oleh uang ketika tidak memiliki uang lagi pasti akan gila atau sinthing. Harta benda atau uang adalah ‘jalan ke neraka atau jalan ke sorga’, maka marilah sebagai umat beriman kita hayati uang sebagai ‘jalan ke sorga’, yang berarti semakin kaya akan uang hendaknya semakin suci, berbakti sepenuhnya kepada Tuhan.

“Mengabdi Tuhan Allah” berarti menjadikan Allah adalah Raja kita dan kita dikuasai atau dirajai olehNya. Kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintahNya, dan kiranya semua perintah atau kehendakNya dalam dipadatkan ke dalam perintah untuk ‘saling mengasihi satu sama lain sebagaimana Allah telah mengasihi’ kita. Allah telah mengasihi kita secara total sehingga kita dapat hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Saling mengasihi berarti saling memboroskan waktu dan tenaga satu sama lain, maka marilah kita saling memboroskan waktu dan tenaga alias saling memperhatikan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tenaga. Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi berarti kita sungguh mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam.

“Jikalau Aku membuat binatang buas berkeliaran di negeri itu, yang memunahkan penduduknya, sehingga negeri itu menjadi sunyi sepi, dan tidak seorang pun berani melintasinya karena binatang buas itu, dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan; hanya mereka sendiri akan diselamatkan, tetapi negeri itu akan menjadi sunyi sepi. Atau jikalau Aku membawa pedang atas negeri itu dan Aku berfirman: Hai pedang, jelajahilah negeri itu!, dan Aku melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang”(Yeh 14:15-17). Kutipan dari Kitab Yehiskiel di atas ini kiranya menunjukkan betapa maha kuasanya Allah. Mereka yang tidak beriman kepadaNya pasti akan segera dimusnahkan atau dihancurkan. Dengan kata lain kehancuran serta aneka macam musibah dan bencana alam yang sering terjadi masa kini antara lain karena kejahatan atau keserakahan manusia, buah ketidak-taatan manusia kepada Allah, Raja Semesta Alam.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya “(Mzm 23:1-3)

Beranda, IRRIKA, 20 November 2011

Sergio Lay

BERBAHAGIALAH ORANG YANG …


Kiranya kita semua tahu atau kenal dengan Ibu Teresa dari Calcuta, entah melalui bacaan buku atau media cetak atau media elektronik. Ia adalah seorang biarawati yang tersentuh dan tergerak hatinya atas penderitaan jutaan manusia yang miskin dan berkekurangan serta kurang menerima perhatian; ia meninggalkan kemegahan biara dan sekolah yang diasuhnya dan kemudian ‘menggelandang’ di jalanan untuk menemani orang yang hampir mati atau sakit, bayi yang dibuang oleh yang melahirkannya, memberi makan apa adanya kepada mereka yang kelaparan dst.. Pribadi dan karyanya begitu memikat, mempesona dan menarik banyak orang, dan pada suatu saat diwawancari oleh seorang wartawan TIME. “Ibu menurut kata banyak orang ibu adalah orang suci atau santa yang masih hidup. Sebenarnya orang suci itu semacam apa ibu?”, demikian kurang lebih pertanyaan sang wartawan kepada Ibu Teresa. Dan dengan rendah hati dan mantap Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang dapat mengintip siapa itu Tuhan, siapa itu manusia dan apa itu harta benda”. Memang dari cara hidup dan cara bertindak ibu Teresa kita dapat mendalami kebenaran perihal ‘siapa Tuhan, siapa manusia dan apa harta benda’. Maka marilah pada Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini kita mawas diri, entah dengan cermin ibu Teresa dari Calcuta, santo-santa pelindung kita masing-masing atau bacaan-bacaan hari ini. Perkenankan saya merefleksikan secara sederhana apa yang tertulis dalam Injil hari ini.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3)
“Miskin di hadapan Allah” berarti menggantungkan atau mengandalkan diri sepenuhnya kepada Allah, menyadari dan menghayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, cara hidup dan cara bertindaknya dikuasai atau dirajai oleh Allah sehingga hidup dan bertindak menurut kehendak Allah. Dalam keadaan atau kondisi dan situasi apapun orang yang ‘miskin di hadapan Allah’ senantiasa bergembira dan berbahagia, karena bersama dan bersatu dengan Allah, dan tidak takut menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan dalam penghayatan iman. Ia dapat menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Mat 5:4)
“Menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah” memang butuh perjuangan dan pengorbanan alias siap sedia untuk berdukacita. Berdukacita berarti ada yang meninggal atau ditinggalkan, dan tentu saja dalam hal ini bukan orang, melainkan keinginan, nafsu, harapan atau dambaan pribadi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” (Yoh 16:20-21), demikian sabda Yesus. Marilah sabda Yesus ini kita renungkan, refleksikan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.
“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Mat 5:5)
Buah atau dampak ketahanan dan ketabahan dalam berdukacita atau penderitaan adalah lemah lembut, sabar dan tekun, tidak kasar dan tidak terburu-buru dalam menghadapi segala sesuatu. Yang bersangkutan juga hidup membumi, memperhatikan hal-hal sederhana dengan penuh cintakasih, ia mengerjakan hal-hal sederhana dan kecil dengan kasih yang besar. Kami percaya bahwa pada umumnya rekan-rekan perempuan atau para ibu lebih lemah lembut dari pada rekan-rekan laki-laki atau para bapak, maka kami berharap rekan-rekan perempuan atau para ibu dapat menjadi teladan dalam kelemah lembutan dalam hidup sehari-hari di dalam lingkungan hidup maupun lingkungan kerjanya, dan kepada rekan-rekan laki-laki atau para bapak hendaknya tidak malu-malu belajar lemah lembut juga dari rekan-rekan perempuan atau para ibu.
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6).
Perkembangan dari lemah lembut adalah ‘lapar dan haus akan kebenaran’, yang bersangkutan sungguh membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam nasihat, saran, ajaran , informasi dst.. dalam rangka menemukan kebenaran. Kebenaran sejati antara lain adalah bahwa kita adalah orang-orang lemah, rapuh dan berdosa yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya. Maka yang bersangkutan sungguh menghayati diri sebagai yang diperhatikan, banyak orang memperhatikannya, dan dengan demikian ia sungguh dipuaskan dengan berbagai bentuk perhatian.
“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7)
Orang yang menghayati diri sebagai yang diperhatikan banyak orang berarti kaya akan kemurahan hati, maka yang bersangkutan akan bermurah hati juga kepada orang lain atau siapapun juga. Murah hati berarti hatinya dijual murah alias siapapun boleh minta diperhatikan atau ia memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Masing-masing dari kita kiranya telah menerima kemurahan hati Allah, terutama dan pertama-tama melalui orangtua kita masing-masing, khususnya ibu kita yang telah mengandung dan melahirkan serta membesarkan dan mengasuh kita dengan sepenuh hati. Maka selayaknya sebagai umat beriman kita saling bermurah hati atau memperhatikan.
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8)
Buah bermurah hati adalah suci atau “sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1Yoh 3:2-3). Orang suci adalah “orang yang menaruh pengharapan kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci”. Orang suci mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sehingga semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya. Ia sungguh menjadi ‘kekasih Allah’
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9)
“Menjadi kekasih Allah” secara otomatis akan “membawa damai” dimana pun ia berada atau kemana pun ia pergi, terutama damai di hati. Bersama dan bergaul dengan ‘kekasih Allah’ akan terasa sejuk, damai dan tenteram serta aman. Perdamaian menjadi dambaan atau kerinduan semua orang, maka marilah kita sebagai orang beriman atau kekasih Allah senantiasa menjadi saksi atau teladan perdamaian serta menyebarluaskan perdamaian kepada siapapun dan dimanapun . “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan), demikian pesan Paus Paulus II memasuki millennium ketiga yang sedang kita jalani ini. Pembawa damai berarti senantiasa mengampuni siapapun yang telah menyalahi atau menyakitinya.

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:10)
Memang ketika kita disalahi atau disakiti segera mengampuninya dan tidak balas dendam , kita akan merasa ‘teraniaya’. Baiklah jika demikian adanya marilah kita memandang dan menatap Dia yang tergantung di kayu salib. Untuk mewujudkan Kerajaan Allah/Sorga atau Allah yang meraja di dunia ini memang harus melalui penderitaan bahkan sampai wafat di kayu salib. Teraniaya atau menderita karena kebenaran adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka nikmati saja apa adanya.
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11)
“Tibo kebrukan ondho” = Jatuh tertimpa tangga, demikian kata pepatah Jawa. Ada kemungkinan dalam keadaan teraniaya dan menderita karena kebenaran kita masih dicela dan difitnah. Sekali lagi nikmati dan hayati aneka celaan dan fitnahan dalam dan bersama Tuhan, meneladan Yesus, Penyelamat Dunia, yang telah mengalaminya.
“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”
“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan”(Mzm 24:1-4b)
Disadur dari irrika.roma, renungan hari raya semua orang kudus 1 November.

Beranda, November 2011

Sergio LAY

KESETIAAN DALAM PERKARA KECIL


Hari Minggu Biasa XXXIII
Bacaan: Ams 31:10-13.19-20.30-31; 1Tes 5:1-6; Mat 25:14-30

Para pemimpin atau atasan yang sukses atau berhasil, artinya dapat menghayati tugasnya atau memfungsikan kepemimpinannya sungguh memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan yang dipimpin, pada umumnya berasal dari rakyat kccil atau memiliki pengalaman tinggal dan bekerjasama dengan rakyat kecil. Pemimpin yang bersangkutan pada umumnya juga sederhana, entah dalam cara hidup maupun cara bertindak, cara bicara maupun bekerja. Ia juga mengasihi dan memperhatikan apa yang kccil dan sederhana, entah itu manusia, binatang, tanaman maupun barang atau harta benda. Ia sungguh tidak mensia-siakan aneka keterampilan dan kecakapan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya, sehingga ia juga semakin terampil dan cakap dalam cara hidup dan cara bertindak. Maka marilah kita renungkan apa yang disabdakan oleh Yesus dalam perumpamaan perihal talenta sebagaimana diwartakan dalam Warta Gembira hari ini.

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21)

Dalam perjalanan penghayatan hidup, panggilan dan tugas pengutusan, kita menghadapi aneka macam perkara, entah besar atau kecil. Dalam menghadapi perkara besar pada umumnya kita takut serta merasa tidak mampu menghadapinya, maka baiklah kita hadapi dan selesaikan dahulu perkara-perkara kecil. Memperhatikan, menghadapi dan mengerjakan perkara-perkara kecil memang butuh kasih, kerendahan hati, ketekunan, kesabaran dan ketabahan serta ketelitian. Sebagai contoh menghadapi anak kecil harus rendah hati dan sabar dan dengan kasih, demikian juga binatang atau tanaman kecil. Bagian atau ‘onderdil’ peralatan teknologi semakin lama juga semakin kecil dan apa yang kecil tersebut sungguh menentukan berfungsinya alat yang bersangkutan.

Seorang pemimpin atau menejer yang baik dan sukes berkata “Jika anda tidak dapat mengatur diri sendiri jangan mengatur orang lain, jika anda tidak dapat mengatur kamar dan meja kerja anda sendiri, jangan mengatur kantor, dst..”. Kami berharap anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibina untuk memperhatikan perkara-perkara atau hal-hal kccil oleh orangtuanya antara lain dengan teladan konkret atau kiranya juga dapat belajar pada para pembantu atau pelayan rumah tangga atau kantor yang pada umumnya setia mengerjakan perkara-perkara atau hal-hal kecil. Kerjakan perkara atau hal kecil dengan cintakasih yang besar. Perkara atau hal kecil di dalam keluarga antara lain/misalnya: membuang sampah pada tempatnya, mematikan listrik atau keran air yang tidak dibutuhkan lagi, mengatur selimut, serandal atau sepatu atau pakaian, dst..

Dalam Warta Gembira hari ini kita diingatkan perihal keutamaan setia, yang harus kita hayati dan sebarluaskan. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat. Ini diwujudkan dalam perilaku tetap memilih dan mempertahankan perjanjian yang telah dibuat dari godaan-godaan lain yang lebih menguntungkan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24-25). Hemat saya dalam melaksanakan aneka perjanjian ada perkara-perkara atau hal-hal kecil yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh adalah perjanjian perkawinan antara laki-laki dan perempuan atau suami-isteri: jika anda mendambakan setia sebagai suami-isteri sampai mati, silahkan memperhatikan perkara-perkara atau hal-hal kecil dalam berrelasi atau saling mengasihi, misalnya memberi ciuman, memberi pujian, dst..

Orang yang peka pada perkara-perkara atau hal-hal kecil pada umumnya ialah para administrator keuangan, entah itu akuntan, pemegang kas atau pengawas keuangan. Mereka terbiasa dalam penghitungan uang sampai yang kecil-kecil, maka semoga mereka juga peka terhadap perkara-perkara atau hal-hal kecil dalam bidang kehidupan yang lain. Pengurusan atau pengelolaan harta benda atau uang yang benar dan baik, yang berarti sungguh memperhatikan perkara-perkara atau hal-hal kecil, akan menentukan keberhasilan atau kesuksesan urusan-urusan besar lainnya di kantor atau tempat kerja atau dalam kehidupan bersama di masyarakat. Setialah kepada perkara-perkara kecil, maka anda pada suatu saat akan siap sedia untuk menghadapi atau mengerjakan perkara-perkara besar.

“Kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar” (1Tes 5:4-6)
Sebagai umat beriman atau beragama kita “adalah anak-anak terang dan anak-anak siang” dan “tidak hidup di dalam kegelapan”, maka marilah kita hayati jati diri kita ini dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Salah satu cirikhas anak terang atau anak siang adalah hidup jujur dalam keadaan atau situasi apapun, kapanpun dan dimana pun, sehingga kehadiran dan sepak terjangnya senantiasa menerangi orang lain serta menjadi fasilitator bagi orang lain. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran. Ini diwujudkan dalam perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang serta rela berkorban untuk mempertahankan kebenaran. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan Tuhan dan diri sendiri” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17).

Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama untuk senantiasa hidup dan bertindak jujur kapan pun dan dimana pun. Secara khusus kepada mereka yang bertugas maupun berjuang demi kebenaran, seperti polisi, hakim/jaksa/saksi pengadilan, penuntut dst ..untuk sungguh jujur. Ingatlah dan sadarilah bahwa anda dapat berbuat curang tanpa diketahui sesama manusia, namun Tuhan tahu, dan pada waktunya nanti kecurangan anda pasti juga akan diketahui oleh umum dan anda akan dipermalukan tanpa kenal ampun. Kepada para pejuang dan pembela kebenaran kami harapkan tetap teguh dan tegar dalam memperjuangkan atau membela kebenaran, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan ancaman. Ada pepatah ‘orang jujur akan hancur’, namun percayalah memang orang jujur akan hancur untuk sementara tetapi akan mulia dan bahagia selamanya.

“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.” (Ams 31:10-12). “Tidak berbuat sepanjang umurnya” inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama, yang berarti kita dipanggil untuk senantiasa berbuat baik, terus-menerus, sepanjang hidup kita. Kami berharap anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibina untuk tidak berbuat jahat dan senantiasa berbuat baik, antara lain dengan teladan konkret para orangtua maupun aneka nasihat, saran dan tuntunan. Ketika anak-anak memiliki kebiasaan berbuat baik, maka kelak kemudian hari mereka akan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang selalu setia pada panggilan, tugas pengutusan maupun pekerjaannya.

“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,” (Mzm 128:1-5)